VOA’s Birthday

VOA's BirthdayDia begitu terlihat bahagia ketika dia mampu memberikan sedikit hasil keringatnya kepada orang-orang yang selama ini memberikan cinta yang paling tulus untuk hidupnya. Cita-cita yang ditakdirkan untuk bersamanya mampu membuatnya tertawa. Syukur, yang selalu dia panjatkan untuk segala berkah dari Tuhannya.

Semua yang ada dalam peta kehidupannya, yang ia buat 10 tahun yang lalu telah ia capai. Namun, jalur terakhir yang ia buat dalam daftar kehidupannya itu hingga kini belum mampu ia jalani. Dia tak pernah begitu bingung dengan tujuannya satu ini. Bahkan, dia pernah dikira penyuka sesama jenis oleh sahabatnya karena selalu menolak laki-laki yang menginginkannya untuk menjadi pendamping hidupnya. Dia selalu beralasan bahwa prestasi yang ia capai belum cukup membekalinya untuk menulis hidupnya bersama keluarga yang akan dia jalani. Kedua orang tuanya pun sudah beberapa kali membicarakan masalah ini secara serius. Namun, dia selalu menerapkan kebiasaan buruknya. Kata-kata itu akan masuk melalui telinga kanan dan akan keluar melalui telinga kiri jika dia berpikir hal itu tak terlalu penting baginya.

Orang tuanya selalu khawatir dengan kesendiriannya itu. Terlebih dia hidup sendiri di tengah bebasnya Negeri Paman Sam. Profesinya pun membutuhkan tenaga lebih untuk seorang wanita. Namun, profesinya itu pula yang membuatnya selalu bahagia untuk menjalani hidupnya itu. Orang tuanya tak dapat melakukan apapun ketika mengetahui putrinya bahagia dengan apa yang ia jalani. Mereka percaya bahwa putri mereka akan menjaga dirinya dengan baik di sana.

Dia selalu semangat menjalani harinya. Setiap awal membuka matanya di pagi hari dia tak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat bangunnya mentari yang begitu indah. Dia menyukainya, karena dia berpikir mentari itu adalah makhluk Tuhan yang begitu mulia. Dia tak pernah melalaikan tugas dari Tuhan sedetikpun. Mentari juga begitu indah dengan sinarnya yang selalu ia pancarkan. Mentari memberikannya kehangatan, semangat, juga harapan untuk selalu membuatnya maju. Setelah matahari itu berdiri tinggi di atas cakrawala pagi, dia selalu berkata pada sang matahari dengan ucapan khasnya.

“Hai mentari. Aku Choi Han Kyung, juga akan berdiri seindah dirimu. Dan akan

memberikan kehangatan, semangat, juga cinta bagi semua orang. Jalankan tugasmu dengan baik wahai kau makhluk tercantik.”

*****

            “Apa?? Aku yang harus menggantikannya?”

“Iya. Gak ada yang lain Han Kyung. Yya?? Sekarang kamu ke ruang rias. Ok. Kita

on 30 menit lagi. Fighting??”

“Eh, Oppa jangan gila ya?? Aku gak pernah melakukan ini sebelumnya. Lagipula

ini bukan bagianku. Dan bukan bidangku.” ucap Han Kyung bingung.

“Ini beritamu, kau yang memahaminya. Dan biarkan ini semua menjadi pengalaman

pertamamu. Hi.hi.hi. Ok. Aku pergi dulu, kita bertemu disini 30 menit lagi.

Byee…”

“Oppa mau kemana?? Aku gak bisa…”

“Udah jalani aja. Emang kamu mau kalah dengan sang Mentari??” ledek Irfan

padanya.

“Ya Allah… tolong aku. Aku memang ingin jadi Jurnalis profesional, tapi aku tak

merasa wajib untuk menjadi presenter seperti ini. Tolong aku Ya Allah…”

Han kyung berjalan menuju ruang rias dengan diliputi perasaan cemas, khawatir dan tentu saja gemetar. Dia tak pernah menjadi presenter sebelumnya. Dia selalu mengambil bagian di belakang layar. Karena dia tak begitu suka dengan kamera. Dia selalu blank ketika di depan kamera. Kali ini dia meyakinkan dirinya untuk tak menghiraukan perasaan cemasnya itu. Dia juga tak henti-hentinya berdoa untuk tugas pertamanya ini.

*****

“Selamat pagi pemirsa, kembali berjumpa dengan saya Choi Han Kyung, dalam

VOA pagi(…).”

Suara itu membangunkan laki-laki yang biasanya begitu malas untuk membuka matanya di pagi hari itu. Dia mengedip-edipkan matanya berkali-kali, mencoba melihat berita yang kini sedang berada di depannya.

“Hyung, emang orang Korea ada ya yang jadi presenter VOA?? Baru tahu

sekarang.” ucapnya pada lelaki yang berada di sebelahnya.

“Kerjamu cuma makan dan tidur, jadi gak tahu apapun yang terjadi di luar sana.

Tapi, aku juga baru tahu kali ini pas dia On.”

“Oooohhh.. gitu ngatain aku.”

“Cantik ya??”

“Hmmm… kapan kau tak mengatakan wanita tak cantik huh? Kalo menurutku ini

tugas pertamanya, matanya tak bisa berbohong tentang kekhawatirannya. Dan itu

sedikit terlihat.”

“Iya. Tapi tetap aja senyumnya begitu manis.”

Gi Kwang hanya mampu mengelus dada, menghadapi hyungnya yang begitu mudah tertarik dengan wanita. Jun Hyung masih tetap memegang rekor tertinggi untuk pengalaman cintanya di B2ST. Dia juga yang paling populer di antara member lainnya. Dia sering masuk pemberitaan karena dia juga begitu sering dekat dengan wanita.

“Noona, aku akan selalu menyimpan senyuman itu.”

*****

“Oppa, sungguh aku tak ingin lagi.” ucap Han Kyung yang masih gemetar pada

sahabatnya itu.

“Ha.ha.ha. itu tadi bagus kuk tenang aja. Hanya matamu yang sedikit

memperlihatkan kekhawatiranmu. Hi.hi.hi.”

“Ok. Terima ksih atas kritikmu Oppa. Aku lebih baik berada di balik layar seumur

hidupku. Daripada harus merasa mengerikan seperti beberapa menit yang lalu. Oh

tidaaakkk…” ucapnya begitu sebal.

“Hati-hati dengan ucapanmu noona. Ha.ha. Kau hanya belum menikmatinya. Tapi,

kau terlihat berbeda dengan rambut panjangmu yang kau tata seperti itu. Kau lebih

anggun dengan rambut seperti itu daripada ekor kuda kebanggaanmu. He.He..He.

Ok noona, aku harus pergi tugas telah menungguku di seberang. Fighting!!” ucap

Irfan sambil berlalu meninggalkan Han Kyung yang masih tetap mengingat waktu

yang telah dia lewati dengan mengerikan.

Han kyung merasa kakinya masih bergetar, dia tak ingin beranjak dari tempat ia berdiri. Namun, telepon dari pimred membangunkannya dari lamunan itu. Dia mendapatkan tugas untuk pergi ke Mesir sore ini. Dia bertugas untuk meliput pernikahan putri Presiden yang akan diselenggarakan semegah pesta pernikahan Pangeran William dan Kate. Han Kyung sangat bahagia karena akhirnya dia bisa mengunjungi negeri piramid itu. Dia telah dari dulu menginginkan melihat secara langsung kemegahan piramid yang dimiliki oleh mesir itu, tak hanya melalui televisi dan The Mumy movies.

*****

            “Semoga perjalanan ini akan menjadi indah. Oh Tuhaannn… semoga mereka tak

marah ketika mereka menyadarinya. He.He.He.” ucap Jun Hyung ketika memasuki

pesawat.

B2ST memiliki kesempatan berlibur selama seminggu sebelum debut mereka di Amerika. Namun, mereka tak memiliki rencana apapun  tentang liburan kali ini. Jun Hyung yang telah merencanakan liburan dengan matang harus kecewa ketika mereka ternyata menolak konsep liburan Jun Hyung. Mereka beralasan bahwa rencana liburan itu terlalu jauh dan memakan biaya terlalu mahal pula. Akhirnya Jun Hyung mengambil inisiatif untuk berlibur secara diam-diam tanpa diketahui para member yang lain. Dia hanya bilang untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dicintainya sebelum mereka debut di Amerika.

*****

Suasana megah pernikahan Zulaikha meninggalkan kesan yang menggugah hati Han Kyung untuk menyadari bahwa dia seharusnya telah memiliki pasangan hidup. Dia menyadari, bahwa umurnya yang tak lagi hijau dan masih sendiri itu membuatnya menjadi bahan pembicaraan di tanah kelahirannya. Namun, kesadaran sesaat itu kembali terlupakan dengan cita-cita yang belum ia capai. Dia ingin membeli sebuah rumah di tanah dimana ia bekerja untuk orang tuanya.

“Udah sadar???” tanya Irfan padanya sepulang dari peliputan.

“Hha??? Sadar apa?” tanya Han Kyung bingung.

“Sadar bahwa kamu seharusnya udah punya namja.” jawab Irfan mantap.

“Apa??? Emang oppa belum sadar kalo oppa seharusnya udah punya yeoja juga!!

Weekkk…” Han Kyung menampakkan senyum kemenangannya pada Irfan.

“Heh!! Aku dah punya calon ya?? Enak aja! Aku satu langkah lebih maju dari

kamu!” jawab Irfan tak mau kalah.

“Tetep aja namanya belum punya. Emang oppa tahu kalo dia bakalan mau sama

orang nyebelin kayak oppa gini?? Udah nyebelin, jutek, jelek, hidup lagi. Haiiissh.”

“Heh???!!!!!! Apa kamu bilang!! Aku sama kamu aja ganteng aku ya! Kamu tahu

khan, Anna udah 2 tahun ngejar-ngejar aku. Tapi gak aku gubris.”

“Mulai dech syndrom kepedeannya kambuh! Salah oppa sendiri gak digubris,

padahal khan Anna cantik, pinter, alim lagi. Gitu Oppa kacangin. Mau cari yang

kayak gimana lagi???!” tegur Han Kyung.

“Kamu tahu khan aku tuch orang yang setia kawan. Aku tuch gak tega ya kalo

seandainya aku udah punya cewek, tapi adikku yang paling baiiiiiiikkkkkkkk

tapi nyebelin itu masih sendiri. Aku mau nemenin kamu, sayang.” jawab Irfan

santai dengan ekspresi tanpa bersalah.

“Mwo??? Heh! Menghina? Ngolokin?? Jelek-jelekin? Apa memuji??? Untuk

menghina skornya 20 pukulan. Ngolokin skornya 50 pukulan. Jelek-jelekin skornya

semauku, dan pasti masuk rumah sakit. Dan memuji, nomor perawatan pemakaman

udah aku siapin. Mau 2×1?? Ato 1×2??? Semua da. Itu tadi jenis keberapa hha???!!”

“Hwa.ha.ha emang ya kalo kuda itu pasti suka marah dengan ancaman-ancaman

yang mematikan. Hhiiii…” goda Irfan.

“Males.. gak usah ngomong sama aku lagi!!” Han Kyung marah.

“Aduj… jangan bilang kalo marah???”

Han Kyung tak menjawab pertanyaan Irfan. Dan Irfan akan selalu bingung jika Han Kyung menjadi marah seperti ini. Han Kyung tak menggubris setiap perkataan Irfan.

“Han kyuung??? Mau jus??”

Han Kyung masih tak menggubris perkataannya. Gadis itu hanya menikmati pemandangan Mesir dari jendela mobil kru yang mereka naiki.

“Han Kyung jangan gitu dooonkk??? Jebal…”

Han kyung menatap Irfan dengan tatapan sadisnya. Dan ia berpaling lagi. Dalam hatinya Han Kyung tertawa dengan senangnya melihat Irfan bingung seperti itu. Dan ia akan meneruskan aksinya hingga Irfan menangis biasanya atau memberikan apa yang ia inginkan.

“Bagaimana dengan tour piramid??” goda Irfan pada Han Kyung.

“Oh my God. Tidak! Please jangan piramid!” ucap Han Kyung dalam hatinya.

“Han Kyung sayang… yakin gak mau???? Kita Cuma seminggu lho disini???”

“Ok. Aku kalah kali ini. Tapi bener ya???”

“Yyyeee… aku menang! Ok, peliputan sudah selesai. Dokumen sudah beres dan

dikirim. Kini, waktunya kita berlibur.” ucap Irfan bangga.

*****

            “Fotografer, dari kalangan artis.” Pikir Jun Hyung bangga.

Dari kejauhan 100 meter dia mengambil gambar Piramid yang begitu megah itu. Dia memikirkan keadaan teman-temannya saat ini di Korea, saat melihat sekelompok lelaki berjalan melewatinya. Andai mereka tahu, apa yang akan terjadi???

Dia berjalan dengan santai, merasakan sengatan panas matahari yang jarang ia rasakan di tanah kelahirannya. Dia mengambil begitu banyak gambar dari perjalanannya kali ini, terutama piramid indah itu. Dia mengamati foto yang baru ia ambil. Terlihat jelas di sammping piramid itu seorang gadis. Jun mencarinya, Jun menatap gadis itu lekat-lekat dari kejauhan. Gadis dengan rambut ekor kuda itu, rasanya tak asing bagi Jun hyung. Gadis itu terlihat memasuki piramid itu seorang diri. Jun hyung yang penasaran, mengikutinya.

“Excuse me..???” ragu-ragu Jun Hyung mendekatinya.

“Ya???” gadis itu memalingkan wajahnya untuk Jun Hyung.

Gadis itu begitu anggun, rambut ekor kuda dan gaun putih bersih yang ia kenakan begitu match dengan wajah lembut dan sepasang mata yang jernih. Matanya tak begitu lebar dan sipit, bulu mata yang lentik membuat gadis itu semakin anggun dengan senyum manis dari bibir indahnya. Suara yang begitu lembut sepadan dengan senyum lembut nan tulusnya.

“Hallo??? Can I help you???” tanya gadis itu pada Jun Hyung yang sedari tadi

masih mengagumi keindahan dari gadis itu.

“I’m sorry.. Emmm… apakah aku mengenalmu??? Rasanya aku pernah bertemu

denganmu??”

“Benarkah??? Kurasa ini yang pertama kalinya.”

“Apakah kau Choi Han Kyung???? Presenter VOA??” tanya Jun Hyung pada gadis

itu setelah menyadarinya.

“Iya, aku Choi Han Kyung. Oooohh.. mungkin kau mengenalku dari televisi. He.He

kamu siapa?”

“Perkenalkan aku Yong Jun Hyung. Aku penggemarmu.” jabat Jun Hyung dengan

bahagia.

“Penggemar???? Kau bisa aja. Tunggu. Bukankah kau personil B2ST???”

“He.He iya. Aku personil B2ST. Kau tahu???”

“Iya aku tahu. Hampir semua temanku selalu membicarakan kalian setiap waktu.

Mereka begitu tergila-gila dengan kalian. Aku juga fans kalian lho. Aku begitu

menyukai lagu kalian yang berjudul “You.” Keren banget lagunya.”

“Oh ya??? Terima kasih. Kamu sendirian??” tanya Jun Hyung ragu.

“Enggak, aku sama temenku. Dia masih ngambil kamera di mobil.”

“Emmm… aku bisa minta foto sama kamu gak???” ucap Jun Hyung.

“Boleh.”

Mereka mengambil begitu banyak foto, di berbagai tempat yang mereka kira begitu menarik. Mereka juga terlihat lebih akrab walau perkenalan mereka terjadi masih beberapa menit yang lalu.

“Eh Oppa. Kenalin ini Jun Hyung.” ucap Han Kyung pada Irfan yang baru datang.

“Irfan.” ucap Irfan.

“Jun Hyung. Nice to meet you.” jawab Jun hyung dengan menjabat tangan Irfan.

“Nice to meet you too.”

Timbul perasaan cemburu pada diri Irfan. Dia merasa sahabatnya telah membagi kasih sayangnya kepada orang lain. Dia ingin hanya dirinya yang menjadi teman lelaki Han Kyung.

“Han Kyung. Udah sore nich. Pulang yuk..” ucap Irfan kesal, karena sedari tadi Jun

Hyung selalu merebut perhatian Han Kyung.

“Ok oppa. Jun, aku pulang dulu ya…” pamit Han Kyung pada Jun.

“Ohh.. Ok. Hati-hati ya…” ucap Jun Hyung.

“Ok. Bhanggapseumnida..”

“Ne.”

Dalam perjalanan menuju rumah, Irfan tak mengucapkan apapun untuk Han Kyung. Dia masih sebal dengan apa yang baru saja terjadi. Hingga Irfan lupa jalan untuk kembali ke hotel.

“Oppa, kurasa ini bukan jalan yang kita lewati tadi.” Tanya Han Kyung pada Irfan

yang masih terdiam.

“Kita akan sampai.” Ucap Irfan dingin.

“Oppa kenapa sich?? Aneh!!! Dari tadi dieeemmmmmmm aja???!!!”

Irfan menghentikan mobilnya. Dia mencoba tenangkan gejolak hatinya, mempersiapkan tentang apa yang ingin ia katakan. Namun…

“Oppa, liat dech….” tunjuk Han Kyung pada badai pasir yang berada di depan mobil

mereka.

Irfan tidak peduli dengan apa yang Han Kyung katakan. Dia percaya mereka tak akan mati begitu saja akibat badai pasir itu. Dia tetap berdiam diri dan mengacuhkan Han Kyung. Tak peduli dengan badai pasir yang beberapa detik akan melewati mereka.

“Oppa!!! Kenapa kau diam aja???” ucap Han Kyung marah.

Irfan masih tak menjawabnya.

“Oppa!!! Kau tak mendengarku??? Oppa!! Jalankan mobilnya!!!” ucap Han Kyung

yang mulai meneteskan air matanya.

Irfan memeluk Han Kyung, mencoba melindunginya dari ketakutan akan badai itu. Han kyung masih terus menangis dalam pelukannya. Irfan tetap memeluk Han Kyung dalam diamnya hingga badai berakhir.

“Oppa!! Kau kenapa??? Apa kau inginkan mati hha???!!” ucap Han Kyung marah

sesaat setelah badai berakhir.

Irfan tetap tak menggubris sedikitpun ucapan Han Kyung.

“Oppa!!! Apa salahku padamu????!!! Hingga kau menjadi seperti ini!!!” Han Kyung terus berbicara pada Irfan walau tak ada respon sedikitpun. Namun beberapa saat kemudian Irfan begitu yakin untuk berbicara pada Han kyung.

“Kau tahu Han Kyung??? Aku tak rela kau dengannya!”

“Hha??? Maksudmu???”

“Jun Hyung.”

“Oppa!! Kenapa kau selalu kekanak-kanakan. Dia tak akan menyakitiku. Dia orang

yang begitu baik.haruskah aku selalu bertanya padamu sebelum aku berteman

dengan seorang laki-laki??? Aku bukan lagi adikmu yang kau kenal begitu lemah

seperti 10 tahun yang lalu Oppa!”

Keyakinan Irfan memudar, ketika dia dengar ucapan Han Kyung. Han Kyung masih dan selalu menganggapnya sebagai seorang kakak. Hanya Kakak!!! Tak lebih. Irfan tak ingin melihat air mata Han Kyung lebih deras lagi.

“Maafin aku Han Kyung. Aku hanya takut, kau akan disakitinya kelak.” Irfan

memeluk Han Kyung yang masih terus menangis.

Dalam hatinya, Han Kyung memahami Irfan yang begitu menyayanginya. Irfan adalah sahabat serta kakak bagi Han Kyung. Irfanlah yang membuat Han Kyung bangkit 10 tahun lalu setelah cinta pertamanya meninggal dunia dalam kecelakaan yang tak pernah ia inginkan.

“Oppa, maafkan aku atas semua perkataan dan tingkah lakuku yang menyakitimu

oppa.”

Irfan tersenyum, “Iya Han Kyung. Jangan nangis lagi ya???”

“Heem Oppa.”

*****

Jun Hyung ragu-ragu menerima panggilan yang baru mendarat di handphonenya.

“Yeobseyo????”

“Ehm, kamu sekarang di mana Jun Hyung???” tanya suara itu.

“Eh??? Sekarang??? Aku di rumah, hyung.”

“Kita pengen nginep di rumahmu. Kita berangkat sekarang ya??”

“Apa??? Hhha??? Jangan hyung! Di rumah ada tamu ayah. Dia mau nginep di sini.

Jadi kamar tamunya penuh.” Jawab Jun dengan sedikit rasa bersalah.

“Kita tidur di kamar kamu aja. Atao di ruang tengah juga gak papa kuq Jun.”

“Aduh hyung, jangan sekarang dech kayaknya. Itu tadi temen ayah kayaknya mau

ngadain holiday, and ayah ngajak kami sekeluarga. Jeongmal Mianhae hyung.”

“Ke mana???”

“Emmm…” Jun semakin bingung untuk membuat kebohongannya itu.

“Ke Mesir ya????? Kalo bener ke Mesir, kami sekarang juga lagi ada di Mesir

 tepatnya ada di depan toko khusus Indonesia.”

Apa??? Di Mesir?? Toko Indonesia?? Bukannya toko yang ada di sampingku itu

toko Indonesia. Jun tak berani menolehkan kepalanya ke arah manapun.

“Oh iya. Kami juga berada tepat di belakang cowok yang sedang telepon. Dia pake

 kaos putih n jaket item. Dia miriiiiiippp banget ama kamu Jun. Kamu ke sini deh..”

“Oh my God!! Bukankah yang mereka bicarakan itu aku????” ucap Jun dalam hati. Dengan ragu-ragu dia tolehkan kepalanya ke belakang. Dan…

“He.He. kuq kalian tahu aku di sini????” tanya Jun takut pada sekelompok lelaki

yang kini berdiri tepat di belakangnya.

“Enak ya holiday gak bilang-bilang ke kita????!!” jitak Doo Joon pada Jun Hyung.

“Iya, kenapa hyung gak bilang???” tambah Dong Woon.

“Hehe aku khan udah pernah bilang ke kalian kalo aku pengen banget kita berlibur

ke Mesir. Tapi rencana liburanku kemarin kalian tolak. Yaaa terpaksa aku

berangkat sendiri. He.he. maafkan aku teman-teman hehehehe.” Jawab Jun Hyung

dengan senyumnya.

“Okelah, gwenchana. Sekarang yang terpenting kita harus menikmati liburan ini

sebelum debut Amerika kita. Sooo…”

“B2ST!! Fighting!!” ucap mereka bersama-sama.

“Kau menginap di mana Jun???” tanya Hyun seung.

“Aku belum mencari penginapan, pagi tadi aku langsung menuju piramid, gak

sempet cari penginapan dulu. Doo Hyung, lebih baik kau browsing untuk

mencarinya sekarang. Hehehehe.”

“Ok. That’s easy.” Jawab Doo ringan.

“Hyung, aku lapar. Apakah kalian tak lapar???” ucap Yo seob.

“Bangeeeeeeeettttt…” ucap mereka bersama.

“Ok. Kita cari rumah makan yuukkkzzz…” ucap Yo seob bersemangat.

Mereka berjalan mencari rumah makan khas Mesir. Dan tibalah mereka di sebuah rumah makan dengan desain tempat yang ringan namun cita rasa Mesirnya masih khas. Mereka memesan banyak sekali makanan untuk malam ini.

“Hyung, cerita dunk perjalananmu tadi pagi gimana??” ucap Dong woon.

“Seru banget!!! Itu intinya.”

“Waahhh… ada kamera. Lihat hyung. Pasti kamera ini bisa menceritakan apa yang

kau katakan seru itu.”

Dong woon mengambil kamera Jun itu, semua member melihat foto-foto yang Jun Hyung ambil dari perjalanan seorang dirinya tadi. Mereka mengagumi bakat fotografi Jun. Gambar-gambar yang di ambil oleh Jun begitu menarik, dengan objek dan cahaya yang sempurna.

“Hyung??? Dia siapa???” tanya Yo seob penasaran.

Gikwang yang sedari tadi sibuk dengan makanannya bergegas meninggalkan piringnya untuk melihat gambar itu.

“Bukankan dia presenter itu??? pagi itu???” tanya Gikwang lugu.

“Ooohhh… iya. Dia Choi Han kyung, presenter VOA. Kebetulan aku tadi bertemu

dengannya. Dan….. foto dech.”

“Kenalan???” ucap Hyun seung heran.

“Iya. Kenapa hyung??”

“Emang dia mau kenalan sama kamu????” Hyun seung masih mencerna jawaban

dari Jun.

“Iya hyung. Emang kenapa kalo dia kenalan sama aku???”

“Kamu salah kenalan sma dia. Seharusnya kau tunggu aku dulu kalo mau kenalan

sama cewek terlebih secantik dia. Siapa tahu dia suka sama aku???!!!” ucap Hyun

seung dengan pedenya.

Semua member terlihat bingung mendengarkan ucapan Hyun seung.

“He.He.He. aku bercanda teman-teman.” Ucap Hyun seung garing.

“Omegat…” selalu mereka ucapkan kat itu bersama ketika Hyun seung beraksi

dengan semua kegaringan itu.

“Jun, benar kalian baru kenal????” tanya Doo ragu saat melihat keakraban mereka

dalam foto-foto itu.

“Hmmm??? Iya hyung. Benar. Emang kenapa???”

“Kalian terlihat sangat akrab. Benar??? Kalian berteman khan??” tanya Doo dengan sedikit menggoda pada Jun.

“Iyaaaaa hyuuung.. kami hanya teman. He.he. tapi gak tahu lagi nanti. Hehehehe.”

“Hiyyaaa???? Ngarep dech!!” ucap Doo tertawa.

Mereka melewati malam dengan kebersamaan layaknya saudara. Mereka adalah 6 hati yang memiliki satu tujuan. Mereka berjanji akan menjadi keluarga yang menerima apa adanya segala kekurangan dan klebihan di antara mereka. Mereka tak akan membiarkan salah satu di antara mereka terluka dan sendiri. Itulah prinsip yang hingga kini menjadi pedoman mereka.

*****

            Debut Amerika B2ST yang telah direncanakan sejak sukses besar debut Jepang mereka, akhirnya akan mereka lakukan tahun ini. Kesuksesan 10 mini album, 5 album Jepang dan 2 full album mereka, sebenarnya belum meyakinkan mereka untuk melakukan debut ini. Namun, mereka tak akan mendapatkan pengalaman dan hasil ketika mereka hanya berangan-angan. Sehingga mereka dengan berani mengambil langkah ini. Mereka lakukan ini bukan hanya dengan keyakinan itu, namun juga dukungan dari B2UTY yang selalu mencintai mereka.

Pagi di musim dingin, ketika mereka injakkan kaki mereka di bandara John F. Kennedy, New York Amerika Serikat. Kedatangan mereka disambut oleh + 10.000 B2UTY yang rela menunggu lama untuk berjumpa dengan mereka. Meski sebenarnya hanya untuk menatap keenam lelaki Seoul itu, hanya menatapnya. Bukan berjumpa.

Jun Hyung melihat seorang gadis yang dia rasa pernah bertemu dengannya. Dia memakai gaun putih bersih dan rambut ekor kudanya.

“Han Kyung???” batin Jun hyung.

Namun ketika Jun melihatnya di tempat yang sama itu, Jun tak menemukannya lagi.

“Benarkah dia Han kyung??? Atau hanya perasaanku saja.”

*****

            Kesibukan begitu menjadi ketika H-20 ulang tahun VOA. Pesta yang direncanakan begitu besar membuat semua anggota keluarga VOA begitu sibuk dengan bagian mereka masing-masing. Han Kyung dan Irfan selalu berada pada bagian yang sama. Mereka menjadi koordinator tata acara utama. Kesibukan yang biasanya mereka jalani hanya selama 10 jam, harus mereka jalani 2x lipatnya. Tak jarang, waktu yang begitu sulit mereka temukan untuk istirahat harus mereka korbankan pula untuk rapat-rapat dadakan.

Badai salju malam itu memaksa Han Kyung untuk tak ikut rapat di gedung utama VOA yang terletak 3 km dari apartemennya. Tapi untung Irfan bisa keluar untuk memimpin rapat itu. Dan untung, Irfan paham akan keadaannya. Han kyung begitu takut dengan badai salju sejak peristiwa ang ia alami saat pertama menjadi warga Amerika. Dia hampir mati kedinginan ketika memaksakan dirinya untuk melawan badai salju dalam perjalanan menuju gedung utama VOA saat itu. Han kyung dengan motor maticnya di temukan hampir membeku keesokan harinya oleh Irfan di depan gedung VOA. Dan sejak saat itu, Irfan tak akan membiarkan Han Kyung keluar dari apartemennya ketika badai salju.

Rasa lapar yang menjalar membuat Han kyung memaksa Han kyung untuk keluar dari apartemen hangatnya untuk membeli beberapa makanan yang bisa mengganjal perutnya. Dia telah memikirkan berkali-kali untuk keluar apartemennya di saat seperti ini. Dan dengan yakin dia pergi meninggalkan apartemennya, lagipula toko makanan itu tepat berada di sebelah apartemennya. Dia membeli 2 buah burger dan segelas cappucino hangat.

“Terima kasih pak.” Ucap Han kyung pada penjual itu.

Han kyung berjalan dengan terburu-buru untuk segera memasuki apartemen hangatnya dan menikmati makanan yang kini berada dalam genggamannya. Dia melihat seorang lelaki yang ia rasa pernah bertemu dengannya berdiri kedinginan di depan gedung apartemen besar itu.

“Jun Hyung???” sapa Han kyung pada lelaki itu.

“Iya??? Eh Han Kyung??” jawab Jun Hyung yang begitu terlihat kedinginan.

“Jun, sebaiknya kau masuk ke dalam. Aku akan membelikanmu sedikit makanan

yang akan menghangatkan tubuhmu. Kamu masuk dulu.”

Jun menunggu Han Kyung di dalam lobi utama yang sedikit hangat. Han kyung pergi membeli sedikit tambahan makanan dan minuman hangat untuk Jun Hyung. Lalu dia bergegas mengajak Jun Hyung masuk menuju apartemennya.

“Jun, badanmu panas. Sebaiknya kau makan ini, lalu minum obat.”

“Tak apa Han Kyung, aku baik-baik aja kuq..”

“Jangan pernah menolak apa yang kukatakan. Makan burger ini, lalu minum

obatnya.”

“Hmmm.. Ok, maaf ya. Aku jadi merepotkanmu.”

“Enggak Jun. Malam ini kau tidur di sini. Tak mungkin kau pulang di saat seperti

ini.”

Jun hyung merasa badannya tak baik. Dia tertidur dengan pulas setelah minum obat.

“Jun, kuq bisa ada disini ya??? Kenapa aku tadi tak menanyakannya ya??? Ah,

biarlah. Aku akan menyakannya besok pagi saat dia merasa lebih baik.”

*****

“Good morning..” ucap Han kyung untuk Jun yang baru terbangun.

Han kyung berjalan mendekati Jun Hyung. Dia menempelkan tangannya pada kepala Jun.

“Syukurlah, panasmu turun. Siap untuk sarapan??”

“Ok.”

Mereka sarapan roti dengan selai coklat, serta coklat panas yang Han Kyung beli di toko sebelah apartemennya.

“Kau kuq bisa ada di sini Jun??” tanya Han Kyung.

“Kami memulai debut Amerika kami 2 hari lagi Han kyung.” Ucap Jun dengan

senyumnya.

“Oh ya??? Kalian memulainya dengan program apa?? Konser?? Reality show??”

“Konser. Doakan sukses ya Han kyung???”

“Tentu. Di mana kalian akan mengadakan konser itu??”

“Di Staidon Robert F. Kennedy, Washington. Kamu mau lihat??? Aku punya tiket

VIP untukmu.” Jun menyerahkan sebuah tiket untuk Han kyung.

“Suatu kehormatan bagiku menyaksikan debut awal kalian di sini. Akan aku

usahakan untuk datang. Oh iya Jun, kemarin kenapa kau berdiri di depan

apartemen??”

“Mobilku mogok dan ada di bengkel depan apartemenmu. Aku tak tahu harus

menunggu dimana ketika pemilik bengkel bilang kalo mobilku akan selesai hari ini.

Aku menunggu bus tapi sudah tak ada bus yang lewat, akhirnya aku terpaksa

berdiri disitu. Syukurlah kau datang saat badai salju itu.” Ucap Jun hyung

mengingat kejadian tadi malam.

“Syukurlah. Ngomong-ngomong kalian menginap dimana saat ini???”

“Kami menginap di kantor manajemen aja Han kyung. Tak ada banyak waktu untuk

bolak-balik ke penginapan and kantor.”

“Semangat ya!!! Do the best!!”

“Makasih Han kyung..” ucap Jun Hyung.

“Ok. So B2ST!! Fighting! He.he.”

“Kau tahu kata-kata itu??” tanya Jun heran.

“Tentu, aku sering mendengarnya dari teman-temanku. He.he.he”

*****

            “Makasih ya Jun, sampaikan salamku untuk teman-temanmu.”

“Ok. Semangat ya.. So..”

“B2ST!! Fighting!!” ucap mereka bersama-sama.

“Udah cepet pergi sana, nanti bisa kacau saat temanku yang lain melihatmu. He.he.”

“Ok.”

“Hati-hati Jun..”

Han Kyung berjalan dengan senyumnya. Dia tak menyadari bahwa Irfan menyaksikan keakraban Jun dan Han kyung beberapa menit lalu. Namun, Irfan belum menyadari bahwa lelaki itu adalah Jun.

“Siapa itu tadi??” tanya Irfan dingin.

“Eh Oppa, itu tadi Jun.”

“Kamu kuk bisa sama dia???” tanya Irfan masih tetap dengan wajah dinginnya.

Han Kyung tahu, Irfan akan marah jika dia tahu bahwa Jun menginap di apartemennya semalam.

“Kebetulan tadi ketemu, udara juga terlalu dingin untuk motor maticku. Yuk masuk

oppa.” ajak Han Kyung.

“Aku mau pulang, semalam rapatnya tak berjalan dengan baik. Tak ada yang selesai, karena kau otak utamanya, dan kau tak hadir. Aku terlalu lelah untuk melanjutkannya saat ini. Kau bisa melakukannya tanpa aku, pagi ini.”

“Ada masalah apa sebenarnya Oppa??” tanya Han Kyung.

“Tak ada Han Kyung, hanya mereka tak bisa diajak serius. Mereka mengacaukan

moodku yang tak baik malam itu. Han Kyung aku pulang dulu, sebaiknya kau

segera laksanakan rapat pengganti itu.” ucap Irfan.

“Ok Oppa. Oppa semangat dunk.. jangan seperti itu! So B2ST!! Fighting!! He.He.”

ucap Han Kyung dengan senyum paginya yang begitu anggun.

Irfan masih tak mengerti dengan ucapan Han Kyung, sepertinya itu adalah kosakata baru dari Han Kyung. Namun, senyum indah itu mampu meredam rasa kesal Irfan akan kehadiran Jun pagi itu.

“Eh Oppa tunggu!” Han Kyung berlari kembali.

“Oppa, aku tak akan membiarkan udara dingin ini semakin menyiksamu.” Han

kyung memberikan syalnya untuk Irfan.

“Tapi kau juga membutuhkannya Han kyung.” Ucap Irfan.

“Jangan pernah menolak apa yang aku katakan!! Hati-hati oppa.” Ucap Han kyung

sambil berlari meninggalkan Irfan.

“Gomapseumnida Chagiya.. Sarangahaeyo.” Ucap Irfan lirih.

*****

            “Kau darimana Jun??? Kami tak tidur semalam memikirkanmu.” Ucap Doo saat Jun

memasuki pintu kamar mereka.

“Maafkan aku teman-teman, mobilku harus masuk bengkel tadi malam dan baru

selesai tadi pagi. Aku sakit karena badai salju malam itu, dan mengenaskannya lagi

pulsaku habis. He.he.”

“Hiihhh…” Hyun seung menjitaknya.

“Lalu kau tidur dimana???” tanya Doo masih dengan kekhawatirannya.

“Syukurlah aku bertemu dengan Han kyung. Aku tidur di apartemennya.” Ucap Jun

ringan.

“Han Kyung???” ucap mereka bersama-sama.

“Iya, Han kyung??? Kenapa??? Eh iya, kalian dapat salam darinya.” Sambil berlalu menuju kamar mandi.

“Teman-teman apakah kalian yakin kalo Han kyung adalah teman BARU Jun

hyung???” ucap Doo ragu.

“Aku tak yakin kalo mereka hanya BERTEMAN.” tambah Yo seob.

“Heh!!! Siapa yang sedang kalian bicarakan!!!” ucap Jun dari kamar mandi.

“Marilah kita tidur sebelum kita dimakan oleh Yong Jun Hyung Joker.” Saran Doo

untuk teman-temannya.

Mereka setuju dengan ucapan Doo. Mereka tidur dengan pulasnya setelah tak tidur

semenit pun malam itu demi menunggu Jun yang tak pulang-pulang. Dan ketika Jun akan menginvestigasi ucapan mereka saat Jun berada di kamar mandi, Jun harus kecewa menemukan teman-temannya telah tertidur dengan nyamannya. Jun kembali teringat Han kyung, yang kini entah apa yang sedang dilakukannya. Dia teringat akan wajah khawatir Han kyung untuknya saat berada di depan apartemen itu.

“Jangan pernah menolak apa yang kukatakan. Makan burger ini, lalu minum

obatnya.” kata-kata itulah yang diingatnya dan masih terus terngiang dalam

benaknya.

*****

            Rapat pengganti yang dilakukan Han kyung berjalan dengan baik. Han kyung masih menyusun segala acara untuk menjadikannya lebih menarik dalam ruang kerja hangatnya.

“Hallo??” ucap Han kyung.

“Hallo?? Han kyung, bisakah kau ke ruanganku sekarang??” tanya suara di

seberang.

“Baik Pak. Saya akan segera ke sana.” Ucap Han kyung sambil berlalu

meninggalkan ruangan hangatnya.

Rupanya ketua panitia pelaksanaan pesta ulang tahun VOA itu memanggilnya untuk membicarakan kemajuan dan sejau mana Han kyung serta anak buahnya menata acara puncak.

“Han kyung, kau tahu boyband dari Seoul yang akan mengadakan debutnya

besok??” tanya Mr. Robert padanya.

“B2ST?? Iya, saya tahu Pak. Ada apa dengan mereka??” tanya Han kyung ragu.

“Bagaimana jika guest star kita kali ini kita tambah dengan mereka???”

“Apa??? Benarkah???” ucap Han Kyung bangga dalam hati.

“Han Kyung??”

“Maaf, oh iya Pak. Jika membuat pesta ini semakin meriah, mungkin itu yang

terbaik.”

“Baik, aku akan mengontak mereka siang nanti.”

Entah, Han kyung begitu bahagia mendengarkan berita itu.

“Mentari!!! Kau tahu, kini aku akan lebih tegar dan bahagia darimu! Lebih bersinar

dengan semua senyum ini!!”

Han kyung masih tak sadar dengan perasaannya yang mulai berubah. Semua aktifitas ia jalani dengan tawanya. Hari itu, adalah hari yang begitu indah baginya meski entah mengapa dia mengambil jam kerja hingga tengah malam. Sepertinya dia merencanakan sesuatu untuk hari esok. Dia selesaikan semua pekerjaannya malam itu juga. Dia tak pedulikan semua lelah yang menjalar di tubuhnya. Saat dia hendak meninggalkan gedung kesayangannya itu, kembali badai salju menghalanginya untuk beranjak. Terpaksa dia harus meninggalkan keinginannya untuk segera istirahat di kamarnya yang hangat.

Irfan tak bisa tenang dengan hadirnya badai ini. Dia mengkhawatirkan keadaan Han kyung di tengah keadaan tubuhnya yang juga sedang tak baik.

“Han kyung??? Kau sudah di apartemenmu?? L”

Han kyung tersenyum ketika menerima pesan itu. pesan itu menandakan bahwa Irfan tak marah padanya untuk kejadian pagi itu. Ketika Han kyung hendak membalas pesan itu. sebuah panggilan mendarat di handphonenya.

“Hallo??”

“Hai Han kyung..” sapa suara di seberang.

“Ya, who are you?”

“Oops.. I’m forget to introduce my self. Jun Hyung imnida.. he.he.he”

“Oooohhh Jun Hyung??? Hha?? Kau dapat nomorku darimana??”

“He.he. itu tadi ada malaikat ngasi aku numb kamu. He.he.”

“Bercanda mulu dech.”

He.he. enggak, itu tadi khan perwakilan dari kantormu menghubungi kami.

             Katanya kami disuruh koordinasi sama seksi acara utama. Daaaaaannn… baru

 kutahu, kamu koordinatornya. Daebak!!”

“Ha.ha. makasih..”

“Aku bangga banget temenku bisa jadi koordinator untuk acara sebesar ini.

 Daebak, daebak!!”

“Aduuhhh… jangan gitu dunk… aku malu…. he.he.”

“He.he. ok.ok. tetap semangat aja ya jalani semua ini bu koordinator.. hi.hi.hi.”

“Yuppp… doakan sukses ya??”

“Tentu. Eh, besok kamu datang khan??”

“Emmm… InsyaAllah.”

“Ok. Aku tunggu dech..”

Perbincangan itu berlanjut hingga badai usai. Juga hingga Han kyung menyadari bahwa Irfan daritadi menunggunya di lobi utama. Sebenarnya, Irfan tahu Han kyung berada di dapur, namun dia segera pergi ketika Han kyung tak juga sadar akan kehadirannya.

“Oppa, kenapa kau disini??”

“Syukurlah kau baik-baik saja. Aku pulang sekarang.”

“Oppa sejak kapan kau disini??”

“Sejak aku mengkhawatirkanmu.”

“Apa?? Kenapa kau tak memanggilku?? Aku tak tahu.”

“Aku tak apa. Jangan pedulikan aku.”

“Oppa, maafkan aku, aku benar-benar tak mengetahui kehadiranmu.”

“Karena kau telah menutup hatimu untukku Han kyung. Dan mungkin telah ada

yang mengisinya.” Ucap Irfan dalam hatinya.

“Oppa?? Kau sakit??? Apakah kau sudah makan?? Kau terlihat pucat.”

“Aku tak apa Han kyung. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”

Tangan Han kyung segera ditepis oleh Irfan ketika Han kyung ingin memeriksa suhu badannya. Dia tak ingin Han kyung tahu bahwa dia sedang sakit. Dia pergi meninggalkan Han kyung yang masih bingung dengan sikapnya.

“Mungkin oppa masih Bad mood gara-gara tadi malam.” Han kyung meyakinkan

dirinya.

Irfan tak begitu suka diganggu ketika moodnya sedang tak bagus. Dan Han kyung tahu, jika keadaan tak semakin membaik jika dia berusaha meredakan semua itu. Han kyung membiarkan Irfan berlalu meninggalkannya. Dan ia pun segera menuju tempat parkir dan mengendarai skuter maticnya menuju apartemen kesayangannya itu.

*****

            “Hai mentari, kenapa kau terlihat lelah pagi ini??? Kau takut kalah smangat

denganku bukan??” ucap Han kyung bangga.

Han kyung bebas kerja hari ini, dia telah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini pada hari sebelumnya. Rencana yang begitu matang dia persiapkan hari ini. Mulai dari berkunjung ke butik temannya, sampai belanja kebutuhan pokok untuk 1 bulan ke depan.

*****

            “Semoga dia datang hari ini. Ataukah aku harus telepon dia ya??? Tidak, tidak, aku

tak mungkin mengganggu kesibukannya. Tuhaaannn… kenapa aku jadi begitu

gelisah seperti ini???”

*****

            “Annyeong haseyo???” ucap Han kyung dengan senyum manisnya untuk seorang

wanita yang sedang sibuk menata baju-baju anggun miliknya. Wanita itu

memalingkan kepalanya.

“Oh my God!! Han kyuuung???” wanita itu memeluk Han kyung.

“Ha.Ha. Eonni Ga in bagaimana kabarmu??? Kau terkejut??”

“Jeongmal Bogoshippo chagiya.. aku baik-baik aja. Sungguh aku benar-benar

terkejut. Hiiiiiiiiiihhhh… aku kangen banget. Oh ya, tumben kamu kesini. Ada apa

neech??”

“Aku ntar malam ada undangan, aku pengen cari gaun yang sesuai. Eonni khan jago

banget kalo urusan yang seperti ne. He.he”

“Kuq tumben ke undangan aja sampe ke aku kayak gini?? Ehm, undangan apaan

nich?? Sepertinya begitu spesial. Acara apa memang?”

“Emmm.. sebenarnya aku dapat undangan konser debut Amerika dari temen aku.”

ucap Han kyung ragu.

“Teman? Siapa emang??? Boleh dunk aku tahu. Sepertinya feelingku benar nich???

Ada yang spesial bukan dengan temanmu yang satu ini??” selidik temannya itu.

“Enggak kuq eon. Ini teman baruku kuq. Aku pengen ngasih support sama dia.”

“Support ya???? Ok.ok. he.he.” ledeknya.

“Eonni jangan gitu dunk…” rengek Han kyung.

Mereka begitu bahagia setelah 2 bulan tak bertemu. Mereka bersahabat mulai kecil. Han kyung selalu bingung tentang fashion yang bagus untuknya, dan Eonni nya yang satu ne adalah jagonya. Mereka memilih gaun dari ujung ke ujung. Namun, tak ada yang pas bagi Han kyung, karena Han kyung sangat menyukai warna putih. Sedangkan warna putih selalu menjadi “limited edition.” Dan pencarian yang tak sia-sia gaun putih yang sesuai dengan hati Han kyung dia dapatkan. Gaun dengan panjang selutut itu begitu sesuai dengan Han kyung. Tak begitu glamour, namun cocok dengan Han kyung yang elegan dan selalu ceria.

“Mungkin dia tak akan menganggapmu sebagai teman lagi setelah kau memakai

gaun ini di acara spesialnya itu.” ucap Ga in di depan cermin.

“Eonni apa sich??? Maksudnya??”

“Kau akan sespesial acara itu. bahkan mungkin lebih spesial dari acara konser

perdananya itu. Tunggu, aku baru sadar. Konser?? He is a singer?? Right??”

“Ya, he is a singer. Do you know B2ST eon??”

“Oh my God! Are you kidding?? Who?? Doo joon sshi?? Yo seob sshi?? Jun

hyung? Gi kwang?? Hyun seung?? Or Dong woonie?”

“Jun Hyung.” Ucap Han kyung ringan.

“Hha?? Kau pacaran dengannya??? Rapper itu??” selidik Ga in.

“Eonniiiiiii…. aku temennya, bukan pacarnya eooonnnnnn…. Eonni nyebelin

bangeeeeettt sich.”

“Ok.Ok temen. Temen spesial. He.he.” goda Ga in.

“Dari dulu Eonni itu emang nyebelin!!” Han kyung marah.

Han kyung mengucapkan terima kasih banyak kepada Ga in, atas waktu dan bantuannya. Juga untuk diskon yang dia dapatkan tak biasa seperti pengunjung yang lain.

“Spashiba Balshoi eonni ku yang paling yeppo.” Ucap Han kyung.

“Da. Ehm, tapi jangan lupa kutunggu lho undangan pernikahan kalian. Hi.hi.”

“Mulai dech! Bye eonni chagiya..”

“Bye… Hati-hati, moga sukses!”

“Da.”

*****

“Kau tahu Han kyung dimana??” tanya namja itu bingung.

“Gak tahu.”

Namja itu mencari Han kyung berkeliling gedung yang tak bisa dibilang kecil itu.

“Dimanakah kau Han kyung??? Kenapa kau tak angkat teleponku??” ucapnya

khawatir.

“Irfan, kau mencari Han kyung ya???” ucap seseorang di belakangnya.

“Iya. Kau tahu dimana dia??”

“Dia hari ini gak masuk, dia bebas kerja untuk hari ini.”

“Tapi kenapa dia gak masuk??”

“Mana ku tahu.” Dia pergi meninggalkan Irfan.

Han kyung, kenapa kau begitu berubah. Kau tak pernah sekalipun tak bilang padaku saat kau tak masuk kerja sebelum ini, pikir Irfan. Tak lagi pentingkah aku di hatimu??

*****

“Jun???? Ngapain sich dari tadi ngelamun mulu?? Kamu gak makan??? 1 jam lagi

kita naik lho.” Ucap Doo heran dengan Jun hyung yang begitu gelisah

“Oh.. ok habis ne aku nyusul.” Ucapnya pendek.

“Jun, aku tahu ini konser Amerika pertama kita. Jangan terlalu khawatir. Ok. Makan yuuk.” Ajaknya lagi.

“Ok hyung.”

Tapi sebenarnya, aku lebih khawatir aku akan melakukan kesalahan saat dia datang hyung, tapi aku juga takut dia tak datang. Aku ingin dia di sini hyung.  Ucap Jun hyung dalam hatinya.

*****

            “Ok, teman-teman ini konser pertama kita. Kita harus melakukan yang terbaik.

Jangan sampai membuat mereka kecewa. B2UTY telah menunggu kita. So..”

“B2ST!! Fighting.” Ucap mereka bersama-sama.

Mereka keluar dari backstage disambut dengan teriakan penonton. Freeze menjadi lagu pembuka di malam yang meriah itu. Han kyung datang dengan gaun putih dan sebuah bando yang ia kenakan. High heels putih semakin memperindah penampilannya malam ini. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat ketika memasuki lokasi konser. Dia segera menempati tempat duduk VIP nya yang dekat dari panggung.

Jun hyung terlihat gelisah ketika perform “freeze.” Namun selesainya lagu itu, membuatnya lebih bersemangat, karena setelah lagu itu selesai. Dia dapat melihat Han kyung datang dan tersenyum padanya. Jun hyung tertegun sesaat melihat gadis itu.

“Oh Tuhaan.. dia benar-benar datang. Syukurlah.” Ucapnya dalam hati.

Saat break, Jun menyempatkan dirinya mengirimkan sebuah pesan untuk Han kyung.

Han kyung, terima kasih kau telah datang.

Nanti jangan pulang dulu ya,

kita omongin rencana konser itu.

Tunggu aku di lobi samping ya.

Jeongmal gomapseumnida Noona.

J

*****

            Di akhir konser yang begitu meriah itu, B2ST mengucapkan salam kepada semua yang datang. Mereka meminta dukungan dan doa dari mereka semua.

“I love You..” ucap Jun hyung menutup konser itu.

Han kyung menunggu Jun di lobi kecil yang telah dijanjikan. Masih dengan kostum konsernya Jun berjalan dengan terburu-buru menuju lobi samping, dia tak mungkin membiarkan yeoja itu menunggu lebih lama karena jam sudah menunjukkan pukul 12.30 dini hari. Teman-temannya melihat kejadian itu dengan heran. Ada apa dengan Jun?? Demi mengobati rasa penasaran mereka, mereka mengikuti Jun dari belakang.

“Morning.. he.he. maaf telat.” Sapa Jun.

“He.he. gak papa. Mana teman-temanmu?? Katanya mau ngomongin konser??”

“Emmmm… mereka gak ikut, aku perwakilannya.” Jawab Jun bohong.

“Ok. No problem.”

“Emmm, Han kyung kayaknya aku juga gak ngerti dech, lebih baik kita jangan

ngomongin konser sekarang dech. Ngomongin yang lain aja gitu.”

“Hha?? Ok dech, terserah kamu aja.”

“Kau cantik Han kyung, makasih ya udah datang malam ini.” Ucap Jun hyung

memulai.

“Hmm?? Sama-sama.” Jawab Han kyung singkat. Entah karena Ge er atau apapun

kehilangan kata-katanya.

“Han kyung..”

“Iya Jun???”

“Emmm.. dingin ya??” ucap Jun hyung dengan menggenggam tangan Han kyung.

“Oo.. Da.” Jawab Han kyung mati kutu.

“Han kyung, chagiya..??”

“Hmm??? Jun??” jawab Han kyung bingung.

“Emmm. Gimana konsernya tadi??” Jun hyung mengalihkan pembicaraannya.

“Bagus banget, perfect! Tapi lucu dech saat Gi kwang kalian goda tadi. He.he.”

“Doain sukses terus ya..?? aku capek Han kyung..” Jun hyung meletakkan

kepalanya pada pundak Han kyung.

Han kyung semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Suasana jadi hening,

mereka  tak ucapkan apapun selama itu. Jun hyung begitu bahagia dapat bersandar pada orang yang ia inginkan. Pada wanita yang selama ini membuatnya sulit untuk memikirkan yang lainnya. Namun, malam itu di balik perasaan bingung Han kyung. Dia juga merasakan damai ketika Jun berada di dekatnya.

“Han kyung, aku ingin tetap seperti ini untuk beberapa saat.” Ucap Jun.

Han kyung hanya terdiam dengan ucapan Jun yang sekali lagi menghilangkan semua kata-katanya. Dia membelai kepala yang bersandar pada pundaknya.

“Do you love me, chagi??”

“Jun, kayaknya udah larut dech. Aku harus pulang.” Jawab Han kyung.

“Kau belum menjawab pertanyaanku Han kyung. Jebal.”

“Kamu ngomong apa sich?? Aku gak ngerti. Besok aku masuk pagi banget, aku

harus pulang Jun.” Jawab Han kyung bingung.

“I love you.” Jun hyung memberikan kecupan pada pipi Han kyung.

Han kyung hanya bisa terdiam.

“Do you love me too??” tanya Jun hyung dengan senyumnya.

Han kyung masih terdiam, dia benar-benar tak tahu dengan apa yang harus ia katakan. Han kyung hanya tersenyum dengan pertanyaan Jun hyung.

“Bukan senyum, tapi kata-kata. Ehm, be mine please??”ucap Jun manja.

Han kyung tersenyum padanya,”Da.”

“Mwo??? Gomawo Chagiya..” Jun hyung memeluk Han kyung yang hanya bisa

Tersenyum.

“Kau yakin dengan apa yang kau katakan Oppa?”

“Tentu chagi. Jeongmal saranghaeyo, chagiya.”

“Nado saranghae Oppa.”

Mereka begitu bahagia dengan malam itu. Cinta yang mereka simpan dapat mereka satukan pada malam itu. Teman-teman Jun yang menguping dari balik pintu ikut bahagia dengan Umma baru mereka. Mereka merencanakan suatu pesta surprise untuk Jun dan Han kyung. Kini mereka meninggalkan Jun dan Han kyung sendiri dalam lobi itu.

“Chagi, ayo ke atas. Pulangnya ntar aja ya?? Aku anter.”

“Ne, Oppa.”

Mereka duduk di sebuah kursi panjang yang berada di balkon atas. Han kyung menyandarkan kepalanya pada pundak Jun hyung. Dan Jun memeluknya dengan satu tangannya.

“Chagi, lihat dech. Bintang itu indah banget.” Ucap Jun memulai pembicaraan.

“Iya, indah banget. Aku pengen ke sana, katanya bintang terindah itu adalah

neverland.”

“Hmmm.. ntar kita honeymoonnya ke sana. Ok??”

“Bisa aja.”

“Ya ampun aku baru sadar.”

“Apa chagi?”

Jun melepas jaketnya, dan memakainya pada Han kyung. Jun tak mungkin membiarkan Han kyung terlalu dingin dengan gaunnya itu.

“Udah anget?”

“Heem Oppa, makasi.”

Jun menatapnya begitu lekat. Han kyung tak tahu dengan apa yang akan terjadi, ia terdiam ketika wajah Jun hyung berada semakin dekat dengan wajahnya. Han kyung memejamkan matanya. Jantungnya bergetar lebih cepat, ketika bibir Jun hyung tiba pada bibirnya. Malam begitu hening menyaksikan 2 insan yang sedang bahagia dalam cinta itu.

“I love you.” Ucap Jun hyung.

“Hmm.. I love you too. Oppa, anterin aku pulang.”

“Dengan senang hati tuan putri.”

*****

            “Halo?? Iya, rancangannya ada di laci mejaku. Ntar, kamu kasih ke Irfan. Itu tinggal

ngasih tahu Mr. Robert aja kuk.” Ucap Han kyung terburu-buru.

Ok Han kyung.”

“Sorry ya aku telat. Aku bener-bener baru bangun nich. Sorry banget ya jadi

ngrepotin kamu, George.”

Gak papa, lagian kayak gini duank kuk. Udah sana cepet brangkat.”

“Sekali lagi makaci ya George.”

Ok.”

*****

            Han kyung mengendarai skuter maticnya dengan kecepatan yang tinggi. Tapi dia tak pernah lupa menyapa semua orang yang ia kenal. Dia selalu berharap bahwa harinya akan indah dengan senyumnya untuk orang lain.

“Good morning all. Sorry, I’m late. He.he.” ucap Han kyung pada teman-temannya.

Mereka semua memberikan seuntai senyuman untuk Han kyung. Namun tidak untuk Irfan. Irfan seperti tak peduli dengan kedatangan Han kyung. Han kyung menghampirinya.

“Hai oppa.”

Irfan hanya tersenyum dingin padanya, dan tetap melakukan kesibukannya.

“Oppa, ntar makan siang tunggu aku di kantin ya.” Ucap Han kyung pada Irfan.

Han kyung berlalu meninggalkan Irfan dengan kesibukannya. Sepertinya Irfan tak ingin dia ganggu.

“Sebenarnya aku tak ingin tak mempedulikanmu Han kyung. Tapi aku juga tak mau

lebih sakit dengan perasaan yang tak pernah kau lihat ini.” Ucap Irfan dalam hatinya.

*****

            “Hai oppa.” Han kyung menghampiri Irfan yang duduk di kantin di tempat biasa

mereka makan siang. Han kyung duduk di depan Irfan dengan senyumnya.

“Kau sepertinya kurang tidur??” tanya Irfan.

“Mungkin. Oppa udah pesen makanan??”

“Aku gak laper, aku minum aja.”

“Ok. Aku akan ambil minum. Oppa pengen apa??”

“Biasa. Cappucino.”

Han kyung tahu suasana hati Irfan sedang tak baik. Han kyung tak ingin jika kakaknya itu sakit karena kurang makan. Dia mengambil 2 mangkuk sereal kesukaan Irfan. Satu untuknya, dan satu untuk Irfan.

“Ini oppa. Makan yuk.”

“Han kyung, aku gak lapar.”

“Hmmm.. Jangan pernah menolak apa yang aku katakan Oppa.”

“Hmm.. tapi aku bener-bener gak lapar.”

Han kyung mengambil mangkok berisi sereal hangat itu. Dia menyuapi Irfan. Irfan akhirnya mau makan sereal itu.

“Habis gitu lho???” ucap Han kyung selesai menyuapi Irfan.

“Hmmm… makasi Han kyung.” Ucap Irfan. Sepertinya luka di hatinya sedikit

terobati.

“Yepp. Sekarang aku yang makan.”

“Kemaren kenapa gak masuk kerja??? Gak bilang-bilang lagi??”

“Oh iya. Kemren aku datang ke undangan temenku Oppa.”

“Sampe gak mau angkat teleponku gitu???”

“Sorry oppa, kemaren konsernya begitu meriah. Gak denger apa-apa. Apalagi

dering telepon.”

“Apa?? Konser??”

“Iya Oppa. Konser. Kenapa?”

“Konser siapa?? Dimana??” tanya Irfan penasaran.

“Oh iya, kemaren itu konser perdananya B2ST buat debut di Amerika. Dan

kebetulan aku dapet undangannya.”

“B2ST lagi??? Pasti ada hubungannya dengan lelaki itu??” batin Irfan.

Setelah makan siang itu selesai, Irfan mengatakan tentang tugas luar negerinya kepada Han kyung. Irfan mendapatkan tugas di Afrika untuk membuat dokumentary tentang kehidupan primitif di sana.

*****

            Malam itu, beberapa namja mengetuk pintu apartemen Han kyung. Han kyung yang sedang sibuk dengan karangan barunya, harus rela meninggalkan laptopnya. Dan.. surprise..

B2ST datang ke apartemennya. Mereka membawakan serangkaian peralatan untuk pesta. Tepatnya pesta perayaan yang mereka rencanakan di malam sebelumnya. Han kyung begitu terkejut dan bahagia dengan kedatangan mereka.

“Pesta ini untuk merayakan kehadiran Umma baru B2ST. Yye..Semoga kalian

langgeng ya..” ucap Doo.

“Amiinn…” ucap Jun dan Han kyung bersamaan.

Jun hyung dan Han kyung begitu bahagia dengan respon teman-teman B2ST tentang hubungan mereka. Dan kini Han kyung lebih yakin dengan cinta yang kini ia rasakan.

*****

            “Chagi, kau bahagia dengan semua ini??” tanya Jun hyung.

“Heem, aku bahagia banget melihat respon positif mereka. Tapi, aku takut jika

fansmu tahu akan semua ini, mereka akan menjauhimu Oppa.”

“Enggak kuq sayang, mereka akan menerimanya. Tenang aja.” Hibur Jun hyung.

Han kyung memeluk Jun hyung, di malam yang indah itu. Suasana pinggir danau yang hening itu membuat hati mereka diselimuti oleh kenyamanan yang begitu indah. Han kyung tertidur dalam pelukan Jun. Jun hanya tersenyum melihat yeojanya tertidur.

“Chagi, lihat dech ikan itu.” ucap Jun membangunkan Han kyung.

“Kenapa Oppa??”

“Ikannya bersinar. He.he.” canda Jun hyung.

“Ahh.. becanda mulu dech.”

“Jangan tidur sayang, aku sendiri. Gak ada yang aku ajak ngomong.”

“Pinter dech kalo bangunin. Diboongin dulu gitu.”

“Yawdah,yawdah. Sekarang chagi pura-pura tidur lagi. Ntar aku bangunin dengan

indah. Tidur, tidur.” Perintah Jun.

Han kyung menuruti saja apa yang Jun katakan, dia meletakkan kembali kepalanya pada pundak Jun hyung. Dan satu ciuman mendarat di bibirnya.

“Chagi, bangun aku sendirian di sini..” ucap Jun hyung lembut.

Han kyung terdiam, dia merasa bersalah hingga Jun memberikan ciuman itu.

“He.he kenapa?? Kaget ya??”

“Emmm.. Enggak!!!” tolak Han kyung.

“Mau lagiiiiiiiiiii??????” goda Jun.

“Enggak Juga!!!”

“Ha.Ha.Ha. malu ya??”

“Apaan sich??? Enggak!! Ihhhhhhhh… nyebelin!” Han kyung mencubit perut Jun.

“Aduh! Nakal banget sich!” Jun menggelitik Han kyung.

“Udah dech!! Ha.ha.ha. Udah Oppa, aku bener-bener gak suka digelitiki kayak

gitu!”

Mereka bercanda hingga mereka tak sadar bahwa di dekat mereka ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.

*****

            “Han kyung, sebaiknya kau segera berangkat sekarang.” Ucap seseorang di

seberang.

“Emang ada apaan sich??” Han kyung bingung menerima panggilan itu karena saat

itu bukanlah jam kerja, masih pukul 04.00 pagi. Han kyung pun baru membuka

matanya.

Lebih baik kau mengikuti kata-kataku. Datang ke sini sekarang.”

Ok.”

*****

            Han kyung datang tepat pada pukul 04.30 di gedung utama VOA. Dia tak mengerti, ketika teman-temannya telah menunggunya di ruang kerja. Apa yang sedang terjadi??

“Ada apa sich teman-teman??” tanya Han kyung.

“Coba kamu lihat ini dech..” ucap seorang temannya.

“Oh my God!!” Han kyung shock.

“Benarkah ini semua Han kyung?? Kenapa kau tak cerita pada kami??”

“Maafkan aku teman-teman. Aku belum siap untuk menceritakan ini semua. Dan

aku juga tak tahu jika semua akan seperti ini jadinya.”

Han kyung begitu shock melihat websitenya penuh dengan kata-kata dan komentar bashing. Begitu juga dengan website VOA. Semua telah mengetahui hubungannya dengan Jun hyung. Fotonya saat berdua dengan Jun hyung di pinggir danau malam itu menjadi top searching. Twitter dan facebooknya dihancurkan. VOA gempar pagi itu. Han kyung memperoleh panggilan dari Mr. Robert.

“Han kyung, apakah benar dengan semua itu??”

“Maafkan saya Pak. Saya belum siap untuk mengatakan ini semua. Dan ternyata

tindakan saya malah jadi seperti ini.” Mata Han kyung mulai berkaca-kaca.

“Hmm.. cinta tak ada yang salah kuq, tapi sebaiknya kamu mengatakannya kepada

kami untuk mencegah hal-hal seperti ini terjadi. Kekasihmu bukan orang biasa, dia

seorang yang selalu disoroti, memiliki banyak penggemar. Seharusnya kamu

mengerti itu. terlebih dia baru di Negeri ini.”

“Iya Pak, saya mengerti. Saya terlalu takut untuk mengatakannya Pak.” Han kyung

mulai menangis.

“Han kyung, saya percaya fans dia mungkin akan marah dan kecewa. Namun,

mereka tak kan marah kepada Jun tapi padamu. Dan mungkin akan memiliki efek

yang besar bagi VOA.”

“Maafkan saya Pak. Saya benar-benar bersalah dengan semua ini.”

“Han kyung, aku takut juka masalahmu ini tak dapat diterima oleh petinggi VOA.

Lebih baik kau segera memikirkan langkah terbaik.”

“Baik Pak.”

Ketika Han kyung hendak meninggalkan ruangan Mr. Robert, pintu ruangan itu terbuka. Jun hyung datang bersama dengan teman-teman serta manager B2ST sebagai perwakilan manajemen Cube Entertainment.

“Han kyung, kau tak apa??” ucap Jun memeluk Han kyung.

Han kyung menangis dalam pelukannya.

“Selamat pagi Mr. Robert.” Ucap Manager Jiyong menjabat tangan Mr. Robert.

“Selamat pagi, silahkan duduk.”

“Kedatangan kami di sini untuk menjelaskan segalanya tentang hubungan Jun

hyung dan Han kyung, kepada anda Mr. Robert.”

Mereka merundingkan masalah itu, hingga menemukan satu titik terang. Mereka berencana mengadakan konferensi pers di gedung utama VOA. Untuk menjelaskan segalanya tentang Jun hyung dan Han kyung.

*****

            “Jun, sebaiknya kau malam ini temani dia. Jangan biarkan dia sendiri dulu.” Saran

Doo Joon pada Jun hyung.

“Iya hyung, terima kasih telah mengerti kami hyung, teman-teman.” Ucap Jun

hyung.

“Kami selalu mendukungmu Jun, kami tak kan membiarkanmu sendiri. Kami tak

kan membiarkan salah satu dari kami terluka sendiri.” Tambah Hyun seung.

“Baiklah Jun, kami harus membantu manager dan yang lainnya mempersiapkan

konferensi pers besok. Kau jaga dia baik-baik.” Ucap Doo.

“Baik hyung. Teman-teman, terima kasih atas dukungan kalian untuk kami ya..”

“Ok.”

Mereka meninggalkan Jun tetap di apartemen Han kyung. Suhu tubuh Han kyung tetap tinggi sejak berita itu datang. Han kyung terlelap setelah waktu yang lama dia menangis. Jun menatapnya dengan iba, dia tak tega melihat wanita yang dicintainya itu tersakiti begitu dalam seperti itu gara-gara dirinya.

Jun hyung mengompres kepala Han kyung, mencoba menurunkan suhu tubuh Han kyung yang tinggi. Han kyung terbangun.

“Oppa…” ucapnya lemah.

“Iya sayang, aku di sini.”

“Oppa, maafkan aku..” air mata Han kyung mulai mengalir.

“Buat apa sayang?? Udah ya.. gak usah mikir kayak gitu.” ucap Jun

menenangkan.

Jun hyung memeluknya mencoba meredakan lukanya. Jun begitu ingin marah kepada semua orang yang telah menyakiti Han kyung. Namun, di lain sisi dia juga memikirkan B2ST jika dia melakukan itu semua.

*****

            Konferensi pers yang dilakukan hari itu berjalan dengan lancar. Keesokan harinya media cetak dipenuhi dengan berita tentang hubungan Jun hyung dan Han kyung. Prediksi mereka salah, bukan damai yang mereka dapat setelah konferensi pers itu. namun penolakan yang lebih keras mereka terima setelah konferensi pers itu dilakukan. Malam itu, Han kyung memperoleh sepaket surat ultimatum untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Jun hyung, juga sebuah paket dengan isi bangkai ayam yang telah membusuk. Begitu juga dengan gedung VOA, banyak sekali memperoleh ultimatum. Han kyung mencoba tegar dan tersenyum menghadapi semua ini. Karena dia tahu Jun hyung akan selalu khawatir saat melihat tangisnya.

“Halo??” Han kyung menjawab telepon

“Kau bisa ke ruanganku sekarang Han kyung??”

“Baik pak.”

Han kyung pergi menuju ruangan Mr. Robert dengan perasaan buruk. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa tak ada hal buruk yang akan terjadi.

Tok.tok.tok.

“Masuk Han kyung.” Ucap Mr. Robert dari balik pintu.

“Ada yang dapat saya bantu Pak??”

“Silahkan duduk Han kyung.”

“Iya Pak.”

“Han kyung. Sebelumnya maafkan saya, sya tak dapat berbuat apa-apa untuk

masalahmu ini.” Ucap Mr. Robert menyesal.

“Bapak sudah banyak membantu masalah saya, bapak jangan pernah berkata seperti

itu.”

“Han kyung, aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Kau begitu bertanggung

jawab dengan setiap tugas yang kau dapat. Kau juga selalu berbuat yang terbaik

untuk VOA. Tapi, saya juga tidak bisa membiarkan VOA terus larut dalam

masalahmu. Ini untukmu, maafkan kami Han kyung.” Mr. Robert menyesali

tindakannya.

“Apa ini pak??”

“Han kyung, aku memamng kepala di sini, tapi aku bukanlah pemegang kekuasaan

penuh. Pemerintahlah yang menentukan kehidupan VOA. Mereka tak menyukai

segala masalah yang kini melanda VOA, mereka menginginkan….. maafkan saya

Han kyung. Mereka menurunkan surat keputusan untuk mengeluarkanmu dari

VOA.”

Han kyung merasa seribu bilu menusuk jantungnya, namun sekali lagi dia mencoba tegar dan tersenyum.

“Baik Pak, saya mengerti. Maafkan saya atas semua masalah yang sangat

merugikan VOA ini.” Ucap Han kyung tegar.

“Sekali lagi maafkan saya Han kyung. Saya tak bisa membantumu.”

“Pak, jangan menyalahkan diri bapak seperti itu. mungkin ini yang terbaik bagi saya,

bapak, juga VOA.”

Han kyung meninggalkan ruang itu dengan sakit yang sangat. Cita-cita yang dia inginkan sejak kecil, dan telah ada dalam genggamnya kini begitu membencinya. Han kyung pulang menuju apartemennya, dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia memberi tahu Jun hyung tentang semua ini?? Hatinya berkata tidak. Biarkan Jun tak tahu tentang ini, pikirnya.

*****

            Tok.tok.tok

“Chagiiii??” Jun hyung mengetuk pintu apartemen Han kyung.

“Iya sayang, bentar..”

Jun hyung datang ke apartemen Han kyung untuk janji makan malam mereka. Mereka telah merencanakannya untuk waktu yang lama. Namun, baru bisa melakasanakannya malam ini.

Mereka pergi berbelanja bahan makanan bersama, juga memasaknya bersama. Mereka begitu bahagia malam itu. namun di balik kebahagiaan itu Han kyung menyimpan sakit yang tak diketahui Jun hyung. Ketika makanan telah siap, mereka menatanya di meja makan, dan mulai makan bersama.

“Chagi, aku ada sesuatu untuk chagi.” Jun hyung mengeluarkan kotak kecil dari

sakunya, yang berisi cincin.

“Hmm??” Han kyung kaget dengan itu.

“Marry me??”

“Oppa, kurasa ini terlalu cepat kau lakukan untukku.”

“Chagi, aku yakin dengan cinta kita. Aku yakin dengan cintamu, kau begitu

mencintaiku. Bahkan rela menghadapi fansku yang menyakitimu karena aku.

Marry me??”

“Hmmm… Iya Oppa, aku mau menikah denganmu.”

“Spashiba Balshoi honey….”

“Aku akan menjadi istri yang baik untukmu Oppa.”

“Aku percaya padamu sayang. Kau adalah yang terbaik untukku.”

Han kyung bimbang dengan perasaannya yang terus menuntutnya untuk cerita kepada Jun tentang pekerjaannya. Namun, dia tak ingin menghancurkan suasana hati Jun yang sedang baik. Han kyung menutup semuanya, membiarkannya tetap menjadi bebannya sendiri tanpa membaginya untuk Jun hyung, calon suaminya sendiri. Tapi Jun mengenal Han kyung lebih dari yang Han kyung kira. Mata Han kyung tak bisa tetap tersenyum seperti bibirnya.

“Chagi?? Kau baik-baik saja??”

“Hmm?? Da. Aku baik-baik aja sayang, memang ada apa??”

“Jangan bohong chagi, aku tahu kau sedang ada masalah. Iya khan??? Ceritakan

saja padaku.”

“Mungkin aku hanya sedikit lelah Oppa. Jangan mengkhawatirkanku seperti itu.

Ok??” ucap Han kyung semangat.

“Sayang, aku tahu. Kau sedang tak baik. Ceritakan padaku.”

“Hmm… aku hanya khawatir bahwa nanti aku akan menjadi istri yang tak baik

untukmu Oppa.”

“Chagiya… tak ada yang lebih baik darimu untukku. Tenang aja ya… jangan

khawatir.. Ok??”

“Baiklah, tapi aku benar-benar sulit dengan pekerjaan rumah. Terutama memasak,

aku gak bisa Masak!!”

“Ha.Ha.Ha. tenang aja ada chef Jun hyung yang siap membantu anda dalam segala

urusan memasak. He.he.he.” canda Jun hyung.

“Apa?? Chef??? Emang sejak kapan punya gelar itu hhe??”

“Ehm.. sejak 30 detik yang lalu. Dinobatkan oleh orang paling spesial di dunia ini.

Choi Han Kyung my wife. Ha.ha.ha. terima kasih atas penghargaan ini. Saya akan

berusaha menjadi chef yang baik untuk anda. Khusus untuk anda. Saya juga akan

berusaha menjadi suami yang paling baik untuk anda di dunia ini.” Jun berakting

seperti memberi sambutan di acara penghargaan terkemuka.

“Ehm. Baik, saya percaya kepada anda. Bahwa anda adalah chef terbaik bagi saya,

juga suami terbaik bagi saya. Saya mengucapkan spashiba balshoi. Tapi inget!!

Gak boleh jadi chef nya orang lain selain saya. Kalau tidak, siap-siap menjadi

bahan masakan saya!!! Hi.hi.hi.” jawab Han kyung bersemangat.

“Ohhh tentu, saya adalah satu-satunya chef yang dikirimkan langsung dari surga

untuk anda. Hanya untuk anda, yang bernama Choi Han kyung!!”

“Eh!!! Yang namanya Choi Han kyung mungkin aja gak cuma satu. Haish..”

“Tapi khan yang kumaksud yang ini…………” tunjuk Jun pada hidung Han  kyung.

“Eh, jangan hidung ya, tambah gede nich!!”

“He.he. nyadar.” Goda Jun hyung

“Apa??!” Han kyung marah.

“Enggak, itu tadi ada nyamuk lewat.”

“hiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhh….” Han kyung menyubit Jun hyung.

“Aduh, aduh, berani ya??? Mau aku cium??? Ha.ha.ha.”

“Enggak!!! Pergi kau Jun hyung jelek!!”

Mereka menikmati malam itu seperti sepasang anak kecil yang bahagia dengan waktu bermain mereka. Han kyung mencoba melupakan apa yang menjadi tekanan batinnya.

*****

            Malam ini, adalah malam akbar untuk VOA. Pesta perayaan ulang tahun yang telah direncanakan beberapa waktu sebelumnya, telah siap. B2ST adalah bintang tamu utama untuk konser akbar ini. Jun hyung begitu bahagia karena baru kali ini dia bekerja secara bersama pada tempat yang sama pula. Dia berangkat dengan penuh semangat, berharap bisa bertemu dengan Han kyung saat pesta digelar.

Di tempat lain, Han kyung yang terdiam sendiri dalam apartemennya hanya bisa membayangkan kemegahan pesta ulang tahun VOA yang dulu ia rencanakan secara matang. Yang dulu menjadi target utamanya untuk menjadi sukses, kini??? Dia, Choi Han kyung mantan koordinator acara utama. Hanya bisa terdiam di dalam apartemennya tanpa tahu sedikitpun tentang pesta yang telah dirancangnya untuk sekian lama. Dia hanya mampu berdoa untuk kesuksesan perhelatan akbar itu, sekaligus untuk kesuksesan B2ST dan calon suaminya tentunya.

Ketika Han kyung sedang memikirkan konser akbar itu. Seseorang mengetuk pintu apartemennya. Sebuah paket kembali ia terima. Kini isinya tak jauh berbeda dengan paket yang dulu ia terima sesaat setelah berita hubungannya dengan Jun hyung diterbitkan. Ia menerima paket dengan isi sebuah pisau yang berlumur darah. Han kyung menangis, tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Konser ulang tahun VOA itu berjalan dengan lancar, meski di tengah konflik dan masalah bintang tamu utama mereka, Yong Jun hyung B2ST. Jun hyung mencari Han kyung ketika selesai perform, namun dia tak menemukannya. Dia mencoba bertanya kepada kru yang dia temui. Namun tetap tak ada yang tahu. Mungkin Hankyung begitu sibuk dengan pesta ini, pikir Jun. Namun, ada perasaan lain yang mengatakan bahwa Han kyung sedang tak baik.

“Jun, kau mencarinya???” tanya uara yang berada di belakang Jun.

Jun membalikkan badannya. “Irfan, kau tahu dimana Han kyung??”

“Benarkah kau belum mengetahuinya???”

“Maaf, mengetahui apa Irfan??” tanya Jun cemas.

“Han kyung sudah gak kerja di sini lagi. Petinggi pusat tak menginginkan konflik

kalian mengahncurkan VOA.”

Jun yang mendengar berita itu segera meninggalkan gedung VOA dan menuju apartemen Han kyung. Dia begitu ingin marah, namun dia juga sadar dialah penyebab dari semua kekacauan ini.

“Han kyung??? Buka pintunya.” Ucap Jun.

“Oppa??” dia segera menghapus air matanyadan mencoba tersenyum.

“Kenapa kau tak mengatakannya Han kyung?? Kenapa kau mencoba menutupi

semua ini dengan senyumanmu Han kyung??” Jun mulai marah.

“Oppa?? Apa maksudmu??”

“VOA. Kau telah keluar. Han kyung, apa itu??” Jun menunjuk pada sebuah paket

itu.

“Bukan apa-apa Oppa.” Han kyung membereskan paket itu namun Jun hyung buru-

buru mengambilnya.

“Apa ini???” Jun hyung mengambil surat yang berada dalam kotak itu. Dia

membacanya. Dan..

“Han kyung, kenapa kau tak pernah cerita tentang semua ini padaku???”

“Oppa, ini tak seburuk yang kau kira. Mereka hanya kecewa, mereka tak

menyakitiku dengan hal seperti ini saja.” Han kyung memaksakan senyumnya.

“Ini sudah keterlaluan Han kyung!”

“Oppa, jangan pernah sekalipun menyakiti mereka. Merekalah yang memberikan

cinta terbesarnya untukmu. Tenang saja Oppa, aku tak apa.”

“Han kyung!!!! Aku benci senyum itu! hentikan Han kyung! Apa salahku jika aku

mendengar semua masalahmu! Apa kau tak pernah menganggapku ada Han

kyung??!!” Jun hyung marah.

Mata Han kyung mulai berkaca-kaca. Iya, dia memang salah selama ini. Dia salah dengan diam itu. Han kyung menatap Jun.

“Oppa, maafkan aku..” dia menangis dalam pelukan Jun hyung.

“Kau tak seharusnya diam seperti itu Han kyung. Terlebih selalu membohongiku

dengan senyuman itu. Aku membencinya, Han kyung!”

“Aku tak ingin Oppa mengkhawatirkanku. Aku tak ingin Oppa ikut sedih

denganku. Aku takut kehilangan Oppa.” Han kyung menangis.

“Tapi tak seperti ini caranya Han kyung. Aku ada disini untukmu. Akankah kau

tetap seperti ini jika aku adalah suamimu?? Anggap aku ada Han kyung, jebal..”

“Oppa, maafkan aku. Aku tak ingin Oppa terus merasa bersalah atas semua ini.”

“Aku akan lebih merasa bersalah jika aku tak tahu seperti ini!”

“Maafkan aku Oppa. Maafkan aku…” Han kyung menangis menumpahkan semua

perasaannya.

“Menangislah Han kyung, keluarkan semua perasaanmu. Aku disini untukmu.” Jun

membelai kepala Han kyung.

Jun mendengarkan semua yang Han kyung katakan malam itu. Dia juga mencoba meredakan segala luka Han kyung yang tak ia ketahui sebelumnya. Jun menyadari bahwa Han kyung telah banyak terlukan olehnya. Lebih dari yang ia tahu.

Esok harinya, Jun menerbitkan surat resmi untuk para penggemarnya. Jun begitu kecewa dengan tindakan keras mereka. Dia juga memohon kepada para fansnya untuk berhenti melakukan tindakan keras seperti itu untuk siapapun. Karena Jun dan B2ST akan lebih tersakiti dengan tindakan keras mereka yang seperti itu.

*****

            Enam bulan berlalu semenjak konflik hubungan Jun hyung dan Han kyung naik ke permukaan. Enam bulan pula Jun dan Han kyung menjalani jalan cinta mereka. Han kyung yang tak tinggal di Amerika lagi kini sedang menyelesaikan proyek novel pertamanya. Debut Amerika B2ST juga sukses. Konflik hubungan mereka yang pernah menjadi top news pun sudah mulai reda. Fans Yong Jun hyung mulai bisa menerima hubungan mereka. Mereka sungguh bersyukur tentang ini.

Rencana pernikahan mereka, akan mereka jalani mungkin untuk 3 bulan ke depan. Orang tua mereka telah setuju dengan hubungan mereka berdua. Tinggal menunggu vakum Jun hyung dari pekerjaannya.

“Chagi.. aku bahagiaaa banget.” Ungkap Jun

“Kenapa??”

“Tiga bulan lagi sayaaaaaangg??”

“Emang tiga bulan lagi ngapain???” tanya Han kyung dengan wajah tanpa dosa.

“Hiiiiiiiihhhhh.. nyebelin banget ya!!”

“Aduh, aku amnesia nich… anda siapa ya???”

“Apa??? Amnesia?? Ehm. Aku adalah Chef.” Canda Jun hyung.

“Chef?? Oooooo.. Chef yang jelek itu ya… iya, iya aku ingat. Chef jelek, nyebelin,

rapper juga itu khan??” Han kyung tertawa.

“Heh!! Kuq jelek sih?? Nyebelin juga??” Jun hyung memelas.

“Emang! Jelek nyebelin,, ya gitu dech pokoknya.”

“Hiiiiihhhh…” Jun hyung mencubit pipi Han kyung.

“Tuch khan nyebelin!! :p”

“Sayang, aku bersyukur mereka sudah bisa menerima hubungan mereka.”

“Da. Mereka itu baik sekali.”

“Hmmm…”

“Sayang, ntar kalo kita nikah. Pengen punya anak berapa??” ucap Jun.

“Emmmm.. satu aja. Biar fokus.”

“Pelit! Masak Cuma satu??”

“Emang mau berapa??” tanya Han kyung heran.

“Sebelas!!”

“Mwo???”

“Iya, sebelas. Aku mau bikin tim kesebelasan.pelatihnya sudah tersedia, Doo Joon

Siap jadi pelatih tim kesebelasan kita. He.he.”

“Kenapa gak sekalian seratus sebelas hha??? Haish…”

“Ha.Ha.Ha., jika anda mau tak apa. Aku akan mengabulkannya. Kkkkkk…”

“Nakal banget dech!! Hiiiiiiiihhhhhhh…” Han kyung memukul Jun hyung lembut.

Malam yang indah untuk mereka. Setelah banyak rintangan yang tak mudah mereka hadapi, akhirnya cinta mereka memperoleh banyak restu dari orang-orang yang mereka cintai. Kekuatan dan ketegaran mereka membuktikan bahwa cinta mereka nyata. Dan dalam cinta yang indah itupun mereka disatukan dalam ikatan pernikahan.

~~~~~~~~So B2ST Kansahamnida J !!~~~~~~~~~~

 

 

 

Selesai pada Tanggal 20 Juni 2011

Pukul 21.35 WIB.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s