Live in Campus : One

Kehidupan di kampus ternyata berbeda jauh dengan kehidupan di sekolah-sekolah jenjang sebelumnya. Terutama dengan kemandirian yang harus kuat. Pengalaman berpisah dengan orang tua pertama kali benar- benar gak asik. Homesick selama berhari-hari, panggil panggil ibuk, bad mood. terlebih dengan jadwal kuliah yang super duper nyebelin, gak teratur sperti jadwal SMA, buku-buku mahal, biaya hidup mahal, serta label “Maba” yang harus menggandoli selama 1 semester.

Menurut saya label “Maba” itu yang paling wow menyebalkan. Memang semua itu konsekuensi dari apa yang saya pilih, namun tak seharusnya senior mencantumkan atau menempelkan tulisan “Area Bebas Maba.” Yang memberikan sedikit ketersinggungan tentang dianggap apa Maba itu sebenarnya??? Namun memang tak ada yang bisa dilakukan Maba itu sendiri selain tak mengerti apa maksud sebenarnya dari tulisan itu, sehingga mayoritas menjadi menggerutu ketika membaca tulisan tersebut.

Memang sesuatu negatif itu terlihat lebih dulu dari sesuatu yang berbau positif.  Hidup baru di kampus juga memiliki berbagai arti positif bagi saya. Mulai dari bertambahnya teman, kakak senior yang ganteng, sampai bertambahnya ilmu (pasti).
Dan yang paling mencolok adalah menyukai senior!!

Ganteng, bijak, seorang pemimpin pula, itulah kesan pertama. Dan anehnya saya selalu tertarik dengan seorang pemimpin, bukan yang lain. Walau ada yang mengatakan “Mas itu lho gak seganteng mas ini..” “kenapa harus mas itu??? mas ini loh lebih ganteng.” Tapi namanya persaan mau gimana lageee..

Parahnya, kalo saya sudah suka dengan seseorang, saya akan menjadi detektif orang itu. meski tak secara langsung, karena saya takut jika saya melakukannya secara langsung dan dia tahu. Saya lebih mengandalkan sesuatu dengan ara onlenisme. mencari segala data tentang pribadi tersebut, dari blognya, FB, twitter sebanyak mungkin. Download segala foto, informasi, video dari akun-akunnya.

Dan sayang sekali, target saya itu ckckckck.. Bisa dibilang LUMAYAN PLAYBOY. Udah deh, tahu sepertiitu saya langsung down. Hasrat sebelumnya adalah mengerjakan tugas, namun setelah tahu itu, hilang sudah. Dan lebih banyak menggerutu dan memaki tak jelas apa yang saya tahu.

Dan akibat kefrustasian itu, mencari orang lain untuk disukai. dan kok kebetulannya orang itu terlihat lebih bijak dan alim. Meski tak se wow yang sebelumnya, hati saya sedikit lebih dingin membaca tulisan-tulisannya. Sayang sekali manusia ini lebih banyak lagi yang suka, karena dia punya jabatan yang lebh tinggi dari manusia yang saya suka sebelumnya.

Hmmm..

Hingga suatu ketika, ada keyakinan yang meyakinkan saya. Bahwa :

DIA BUKAN TAKDIR SAYA SAAT INI, TETAPI TAKDIR SAYA KELAK DAN SELAMANYA.

Amiiinnn…

Smangat kuliah nyok!

😀

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s