Geu Namja

 

         Semua tertata rapi dalam anganku, sejuk jika ku telah tenggelam dalamnya. Tak mampu aku tuk coba berhenti, sungguh buatku terjerat. Itulah musik. Sahabatku yang selalu ada dalam keadaan apapun. Yang mampu bawaku ke dalam suasana apapun yang aku inginkan. Terlebih ketika kudengarkan suara itu, suara termerdu yang pernah kudengarkan. Aku mengagumi segala yang ada padanya. Lembut, tampan, bersih, penyayang, ramah, dan karisma yang tinggi adalah sedikit darinya yang buatku kagum. Kwon Ji yong leader BIGBANG, sosok yang tak hanya aku yang mengaguminya. Aku memiliki mimpi untuk bertemu dengannya, melihat secara langsung Adam yang selama ini kukagumi, bahkan bila Allah menghendaki, aku ingin memilikinya. Hmm… tapi jika aku tak ditakdirkan bersamanya, aku begitu ingin bertemu dengannya dan hanya menatapnya.

HANYA UNTUK MENATAPNYA.

Aku tak boleh membuang waktuku hanya untuk seperti ini, jika aku ingin benar-benar bertemu dengannya secara langsung. Dan menatapnya. Kuliahku harus selesai tahun ini. Dan mengejar prestasi pendidikan di Inggris. Aku takut jika ujian beasiswaku setelah ini gagal. Ya Allah… berikan aku kemudahan dalam menjalani hidup ini, selalu tuntun aku menuju ridhoMu.

 

25

Waktu yang kunanti sekaligus kutakutkan itu, begitu cepat datang. Hari ini aku harus benar-benar mengerahkan segala pengetahuan yang aku miiliki. Aku tak butuh apapun kecuali ridho Allah dan orang tuaku tercinta. Yang selama ini telah membiayaiku dengan menguras tenaga, keringat, darah, bahkan nyawa. Ayahku meninggal dalam kecelakaan kerja. Beliau adalah seorang pekerja journalist. Dan Allah memanggilnya saat beliau sedang meliput konflik jalur Gaza, Palestina.

Entah aku terinspirasi dari ayahku, atau mungkin memang darah yang ada dalam tubuhku membawaku untuk menggeluti dunia kewartawanan. Kuliah yang telah kujalani selama + 4 tahun, dan hampir rampung ini aku kerjakan dengan sampingan bekerja sebagai wartawan sebuah media massa swasta daerah. Aku pikir, kerja sambilanku ini sedikit membantu pembiayaan ibuku untukku. Ibuku seorang guru TK yang sangat giat bekerja. aku sangat menyayanginya, meski seringkali aku merasa malu untuk menunjukkan itu. Hmmm, aku jadi kangen ibu,  sudah hampir sebulan penuh aku tak pulang. Banyak sekali kegitanku akhir-akhir ini. Salah satunya ya mempersiapkan ujianku ini. Aku, kalau sudah ada di rumah rasanya enggan sekali untuk belajar. Karena bagiku kesempatan bersenang-senang dengan keluarga itu sangat langka kudapatkan, maka aku tak akan membuang waktuku saat berada di rumah.

Tahapan tes yang akan aku jalani hari ini adalah tes tulis yang diteruskan dengan wawancara. Oh Tuhan… bantulah hamba-Mu ini. Bismillahhirrahmannirrahiiim…

Aku jalani tes ini karena-Mu duhai Allah.

Dua jam telah berlalu, aku tak ingin memikirkan lagi tes yang aku jalani tadi. Aku sudah berusaha dan hanya Allah lah yang berhak menentukannya. Kembali aku memikirkan skripsiku. Aku buka laptop kesyanganku, hadiah dari ayah, sebelum beliau akhirnya berjumpa dengan Sang Khalik.

Sebelum satu kata pun aku ketik, temanku mengajakku untuk menemui dosen pembina skripsiku. Dosen itu begitu hebat bagiku, dia masih muda tapi dia telah meluluskan S2nya, dan kini menjadi seorang dosen yang sukses. Selain itu, menariknya dia seorang yang tampan dan sabar. Saat dia tersenyum, bagiku itu sangat mirip dengan Ji yong.

Aku menuju ruangan beliau dengan penuh semangat, untuk mendengarkan suara ilmunya, dan menatap wajah yang indah itu. Oh Tuhan…

Kurang lebih satu jam setengah aku mendapatkan pengarahan untuk skripsiku di ruangan itu. Dan kurang lebih 1,5 jam itu aku memperhatikannya dengan kagum. Astaghfirullah… sadar!

 

*****

            Hari ini begitu menegangkan bagiku. Hasil tes beasiswa itu diumumkan untuk hari ini. Hatiku bergetar ketika aku menerima amplop putih dengan kop England University. Aku berjalan menuju masjid, tempat yang sengaja ku pilih untuk membuka amplop yang belum kutahu isinya itu. Dan apapun hasilnya, aku berdoa semoga itu yang terbaik. Dengan terus menyebut nama-Nya, ku buka amplop itu dengan hati-hati. Dan…

 

“Subhanallah, wal Hamdulillah, wa laailaahaillaha

hu Allahu akbar…”

 

Ku sujudkkan diriku, ke pangkuan-Nya. Ku telefon ibuku. Dengan penuh rasa yang tak dapat lagi kujelaskan rasanya.

 

“Hallo Assalamualiakum, Buk, Alhamdulillah..

aku di terima buk…”

 

“Waalaikumsalam, alhamdulillah nak…”

 

Ku dengar ibuku menangis haru dengan kabar ini.

Aku tak mampu lagi ungkapkan rasa ini, aku hanya bisa menangis dan bersujud. Tapi, tanggunganku untuk hari ini tinggal satu. Aku harus menyerahkan skripsiku ke pengurus setelah diteliti oleh dosen pembimbingku. Dan kalau skripsiku ini ditolak. Aku harus menunda keberangkatanku ke London, Inggris. Ya Allah.. Tolong aku.

*****

            Hari itu tiba juga, hari dimana aku harus berangkat menuju London, Inggris. Hari dimana aku akan hidup di lingkunganku yang baru setelah aku lulus kuliah. Begitu ingin aku mengajak mereka semua untuk pergi bersamaku. Tapi tak mungkin itu terjadi. Aku pikir, ini adalah awal dari segala kemandirianku. Yaah.. semoga.

 

*****

 

Tepat awal musim dingin ku injakkan kakiku di Negeri dimana shooting Harry Potter and The Order of The Phoenix dilakukan. Aku memang menggemari film itu. Penuh dengan fantasi!

 

27

Aku turun dari pesawat, dan kurasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhku. Aku berjalan menuju, taxi yang berjajar rapi di samping bandara. Aku mengawasi seluruh taxi itu, aku menuju taxi yang kurasa cocok. Ku tawar haraga untuk argo taxi itu. Alhamdulillah, aku mendapatkan harga yang miring dari harga yang sebelumnya kuketahui. Tapi, sebelum aku menutup pintu taxi itu. Seorang pemuda masuk ke dalam taxi lewat pintu samping. Dia menyerukan untuk berjalan menuju tempat yang dia tuju. Dia tak menyadari keberadaanku. Aku menyapanya, dan…. Aku tak dapat berkata lagi ketika kutahu dia KWON JI YONG  malaikat itu. Dia meminta maaf kepadaku dan menghentikan taxinya, kulihat dia terburu-buru. Dan kurasa jalanan sedang tak memungkinkan untuk mencari taxi. Dan, aku mengizinkannya untuk memakai taxi ini terlebih dahulu. Dia berterima kasih kepadaku, dan mengatakan bahwa dia terlambat bngun. Sedangkan konser akan dimulai 1 jam lagi. Setibanya disana, dia memberikan sebuah tiket konser kepadaku sebagai ucapan terima kasihnya. Dia ucapkan salam padaku, dan berlari menuju gedung tempat konser itu.

Setiba di depan hotel yang aku sewa sementara, tak kuduga ternyata dia telah membayar argo taxi yang tadi telah kutawar. Alhamdulillah, aku sadar ini semua takdir Allah. Dia sungguh baik, bahkan kepada orang yang tak ia kenal. Tapi, kenapa dia tadi tak menanyakan namaku?? Hmm… mungkin dia lupa untuk melakukannya.

Setiba di kamar hotel, ku rebahkan tubuhku. Ku lihat tiket yang diberikan malaikat itu. Dengan semangat kulihat agendaku, oh tidak.. hari dimana konser itu diadakan, adalah hari pertama adaptasi kampus dilakukan. Dan, konser itu adalah konser tour terakhir yang diadakan oleh BIGBANG. Hmm.. kembali kusadari bahwa ini takdir, bahwa aku ditakdirkan HANYA UNTUK MENATAPNYA. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Allah telah mengabulkan keinginanku.

 

*****

            Sungguh indah kota ini. Bersih, teratur, dan disiplin. Aku jadi kangen dengan keadaan Indonesia yang berbeda 180 derajat dengan keadaan disini. Sejak 1 tahun yang lalu ku injakkan kakiku disini, aku tak pernah pulang. Karena biaya sangat sulit kudapatkan. Aku hanya berada dalam asrama dan tak ada kesempatan ataupun waktu untuk bekerja.

Kusadari, pendidikanku sebentar lagi akan usai. Dan aku akan kembali ke tanah airku tercinta. Senang sekali memikirkan bahwa aku akan kembali bersama ibu, dan keluargaku. Dan mungkin keluargaku yang baru. Hehe.. meskipun belum ada calon, hehe. Rencana yang asing!!

Telepon berdering, kulihat Jessie menelponku. Dia kabarkan padaku bahwa ada tawaran kerja untukku. Hatiku sungguh bahagia. Aku ada acara wawancara dengan pihak perusahaan yang kutahu adalah perusahaan Journalistik. Dan mungkin, aku tak kan diterima. Karena kurasa orang ini adalah warga Negara Korea.

Dugaanku meleset, ketika dia menjabat tanganku setelah wawancara. Dan mengabarkan bahwa aku  diterima. Dia memang berasal dari perusahaan jurnalisme Korea. Aku telah diterima di sector pemberitaan. Dia juga mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir karena aku akan bekerja dengan menggunakan Bahasa Inggris. Oh Syukurlah..

 

*****

            Aku meningalkan kota London saat usiaku tepat 23 tahun. Aku berharap dengan umurku yang semakin dewasa ini, aku bisa jadi lebih baik. Amien..

 

*****

            Korea, benarkah aku akan bekerja disana?? Dulu, kurasa keinginanku untuk terbang ke sana hanyalah mimpi. Tapi kini, kurasa mimpiku jadi nyata. Ibu dan adik-adikku berpesan untuk jaga diriku dengan baik sesaat sebelum aku masuk pesawat. Aku menangis karena untuk kesekian kalinya aku harus meninggalkan keluargaku.

Mungkinkah aku bertemu dengannya lagi?? Semoga Tuhan memberikan takdir yang terbaik. Amien..

*****

            Berusaha mengerti apa yang orang lain katakan, itu adalah masalah baruku. Aku hanya dapat mengerti sedikit sekali dari perkataan para manusia di negeri ini. Aku sudah mengikuti kursus bahasa korea dan sudah berjalan 1 minggu. Tapi masih sangat sulit bagiku untuk memahami dengan pasti apa yang mereka katakan. Aku tak boleh menyerah.

Malam ini aku bertugas meliput peresmian gedung perserikatan di Seoul, Korea. Sepertinya udara malam ini akan sangat dingin. Angin sudah mulai kencang. Inilah resiko sebagi seorang wartawan. Yang terpenting adalah berita. Bukan udara.

 

*****

            Peliputan berakhir sukses, meskipun di tengah udara yang tak mendukung sama sekali. Kurasa aku harus membeli sedikit minuman penghangat untuk menghangatkan tubuhku. Aku berkata kepada kru untuk terlebih dulu pulang ke studio, aku akan menyusul mereka setelah aku memperoleh minuman, tetapi mereka mengizinkanku langsung pulang. Karena keadaan yang mereka lihat padaku sangat tidak memungkinkan untuk kembali ke studio. Syukurlah, mereka mengerti bahwa kepalaku dari tadi sudah terasa sangat berat.

Aku memperoleh kedai yang tak jauh dari lokasi peliputan tadi, sebelum kumasuki kedai itu. Aku menuju minimarket terlebih dahulu selagi kuingat barang-barang pokok di rumah sudah menipis. Ketika aku berada tepat di antara etalase makanan pokok, aku merasa bahwa ada yang mengikutiku. Kurasa dia semakin mendekat. Dengan setengah takut dan penasaran kubalikkan badanku. Ternyata benar ada yang mengikutiku. Ekspresinya kaget ketika dia menyadari bahwa aku tahu dia mengikutiku. Dia tersenyum, sepertinya dia menyadari sesuatu. Oh Tuhan.. untuk yang kedua kalinya. Dan aku harap aku tak bodoh lagi.

 

“You’re that girl!”

 

*****

            Semua itu adalah awal dari lembar hidup berwarnaku.

 

“I Love You Jiyongie.”

 

“Of course, I always love you, my lovely wife.”

 

 

~~~~~~~The End~~~~~~~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s