Live in Campus : Two

Masih sebagai Maba. Dan tetap dengan terpaksa menjalani semua jalan yang tak pernah diinginkan. Tetapi saya sadari kalau semua ini pasti ada hikmahnya. Dimulai dengan hikmah tersederhana, Dia. Bukan lagi Mr.Why yang glamour ganteng dan prestasi serta jabatannya, dia juga bukan manusia sejenis Mr.Why yang wow. Namun lebih kepada sosok sederhana yang memiliki sedikit senyuman. Namun sekali aja senyum, subhanallah..

Bahkan kalau bisa dikata, ketika semua panitia laki-laki dijajar, dia ada pada urutan kegantengan nomor 2 dari bawah. 🙂

Dia juga bukan seorang kakak yang namanya sering menggema dan digemakan. Namun entah, dengan semua itu dia lebih terlihat (bukan untuk semua orang). Bahkan ketika dia marah, lebih bahagia daripada dia tak terlihat sama sekali.

Dimulai ketika hari yang terik sekali poool, di bawah radiasi matahari yang begitu kinclong, di depan gedung yang begitu kinclong pula. Gedung kebanggaan, si orens. Lagi-lagi password di ucapkan oleh semua panitia.

“Gak ada interaksi!!!”

“Jangan tolah toleh!!”

“Ngapain ketawa??!! Ada instruksi buat ketawa??!!”

Dan suara tinggi suara tinggi lainnya yang gak mungkin saya tulis 1/1. Mulailah acara layaknya ospek fakultas dulu. Memang ya, mayoritas kegiatannya cuma duduk dalem gedung dengerin ceramah-ceramah dari dosen-dosen atau kakak-kakak sukses tentang materi sehubungan dengan UKM. Tapi juga ada sesi marah-marah di lapangan setelah semua ceramah selesai. Udah deh, muali negthink saya datang, menggerutu dalam hati.
Masak sih abis isoma (istirahat, sholat, makan) dipanasin lagi, dimarahi lagi. Dan kakak itu tentu juga ikut teriak-teriak, panitia coy. Tapisetelah sesi teriak-teriak selesai, kakak itu cuma muter-muter keliling kayak biasanya. Dengan tampang dan wajah serius kwadrat itu, entah kenaa serasa matahari ngasi lighting lebih ke dia. Padahal dia itu item, ganteng juga enggak.

Subhanallah..

Kalo di sinetron langsung ada backsoundnya 1D.

Baby you light up my world like nobody else.
Udah deh, pikiranku mulai gak bisa fokus. Pas sesi marah-marah ketiga, eh kakak yang kelebihan lighting itu senyum ke temennya. Subhanallah lagiii…

Gak tahu harus ngapain???

eh backsoundnya adalagi.

But when you smile at the ground it ain’t hard to tell.

Pulang, keluar dari si orens hanya satu harapan saya sebelum keluar dari gedung besar itu. “Namanya, aku harus tahu namanya.” Setidaknya aku tahu namanya, lalu tahu semua tentang kakak itu dari internet (mulai detektifnya). Begitu bahagia, ketika wajah itu terlihat. Semakin dekat, dekat, dekat. Oh no!! nametag! Nametag dia kakaknya kebalik!!! Sungguh!

Haish..

Kenapa siii, sekali aja ya Allah.. saya pengen tahu nama hamba-Mu yang satu itu. Kalau hari-hari  biasa, tak mungkin saya bisa tahu. Kecuali dengan merendahkan sedikit harga diri. Ehm, dan itu sedikit berat bagi saya.

Pulang, di angkot, bus, sampe rumah. Cuma 1 yang terpikirkan, Siapa si nama kakaknya???

Mulai muncul pikiran gila, saya pengen tanya ke kakak fasil saya. Tapi ntar apa yang kakak fasilku pikirkan tentang saya??? Oh tidak!

Insomnia!

Kakak..

Nan noe joahae..

Jheongmal.

 

I have died everyday waiting for you, Darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years.

I’ll love for a thousand more.

❤ ❤ ❤

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s