Salad and Steak

Steak and Salad“Sugesti, sugesti, sugesti.”

Itulah kata-kata yang terus Nana ucapkan untuk dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sayur. Dia mencoba melakukan terapi agar dia bisa membunuh rasa antinya pada makanan sumber vitamin dan mineral itu.

Kurang 5 cm sendok yang berisi salad itu masuk ke dalam mulutnya. Tapi seperti biasanya, rasa mual kembali dia rasakan.

“Tidak, aku memang tak ditakdirkan untuk menjadi seorang herbivore. Aku tak mau memakannya.”

Gerutu Nana.

“Mbaaakkkk…. Aku pesen steak ayamnya satu!” ucap Nana pada pelayan resto itu.

Nana masih menatap semangkuk sayur itu layaknya seorang investigator sedang menginvestigasi sang tersangka. Dia heran terhadap dirinya sendiri mengapa dia begitu tak bisa makan makanan semacam itu. Dia tetap masih bingung dengan dirinya sendiri ketika makanan kesukaannya datang.

“Silahkan mbak, ini steaknya. Selamat menikmati..” ucapa pelayan itu pada Nana dengan senyumnya.

“Iya terima kasih mas. Eh mas, saladnya bawa ke belakang aja ya..”

“Tapi mbak, itu kan masih utuh..??” Tanya pelayan itu innocent.

“Udah gapapa mas. Bawa aja ke belakang ya..”

“Baik mbaak..” pelayan itu menuruti saja apa yang Nana katakan.

Tanpa Nana ketahui, sedari tadi telah ada seorang lelaki yang memperhatikannya. Dia begitu heran melihat Nana yang terlihat begitu anti kepada sayuran.

“Kenapa dia begitu membenci sayur?? Apa salahnya dengan sayur??” lelaki itu menggumam sendiri.

Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Nana.

“Selamat pagi..” sapa lelaki itu.

Nana yang sedang menikmati steaknya menatapnya dengan penasaran.

“Oh iya, selamat pagi?? Ada yang bisa saya bantu?” Nana menghentikan makannya.

“Kenalkan saya Zidan. Saya tadi mengamati anda, dan saya lihat bahwa anda tak begitu menyukai sayur.

Benar??”

“Pasti sales!” batin Nana.

“Iya, Emmm.. maaf mas saya tak begitu percaya dengan sales. Jadi daripada mas nanti ngobrol begitu

banyak dengan saya dan tak saya gubris, lebih baik mas cari pelanggan lain ya.. terima kasih.” Ucap

Nana sambil meneruskan makannya.

“Maaf mbak, di sini saya bukan sales. Saya seorang atlet sekaligus pemilik resto ini. Saya prihatin dengan keadaan mbak yang begitu membenci sayur. Sayur itu sangat baik untuk kesehatan mbak, jadi menurut saya mbak sangat salah jika mbak membencinya. Saya juga pengen tahu, apa alasan mbak begitu membenci sayur ya??” Ucap Zidan agak geram.

“Ehm. Maaf ya mas, saya tidak Tanya profesi mas itu apa dan siapa mas sebenarnya. Tapi menurut pandangan saya sebagai seorang jurnalis, mas seharusnya memiliki janji jika mas ingin wawancara. Dan saya seorang wartawan yang biasanya mewawancarai bukan diwawancarai. Terima kasih mas. Mas bisa pergi sekarang.” Ucap Nana tegas dan sedikit menyebalkan.

Zidan sedikit sebal dengan ucapan gadis itu, dia merasa niat baiknya itu tidak digubris sama sekali oleh

gadis itu.

“Ok mbak, saya hanya mengingatkan mbak. Karena sayur itu sangat penting untuk kehidupan mbak.”

Zidan berlalu meninggalkan Nana yang masih dengan lahapnya menyantap steak ayam pedas itu.

“Ok terima kasih mas.” Ucap Nana dari tempat duduknya.

“Emang harus makan sayur ya??? Emang penting?? Kalo perutku gak mau, trus  mau apa?? Hmmm..”

gerutu Nana.

*****

            Tak seperti biasanya Nana bangun tepat pukul 04.00 pagi, biasanya dia bangun satu jam lebih siang. Dia merencanakan untuk jogging pagi agar daging yang setiap hari ia makan tak terlalu mempengaruhi berat badannya.

Dia berlari-lari kecil keliling kompleks perumahan eksklusif itu. Setelah 45 menit berkeliling dia beristirahat di taman yang terletak di pinggir perumahan. Dia meminum air mineral yang ia bawa dari rumah.

“Hai nona steak..” sapa seorang lelaki pada Nana.

Nana menatap dengan penuh tanda tanya laki-laki yang dengan senyumnya duduk di sampingnya. Nana membalas sapaan tiu dengan senyum yang ia buat- buat.

“Selamat pagi juga tuan sayur..”

“Keren juga panggilan itu, membuktikan bahwa saya sehat.”

“Oh ya???”

Nana berdiri dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan tuan sayur sendiri. Tuan sayur itu tersenyum dan menghampiri Nana.

“Nona steak, kenapa anda begitu menyukai daging? Dan terlalu membenci sayur?” Tanya Zidan

penasaran.

“Tuan sayur, kenapa anda begitu menyukai sayur?” Nana mengopy kata-kata Zidan.

“Hahahaha. Kau begitu lucu Nona steak.. ngomong-ngomong, anda juga tinggal di kompleks ini nona?”

“Hmm… Iya. Anda??” Tanya Nana agak ramah.

“Iya juga. Tapi saya tak pernah melihat anda di kompleks ini??”

“Saya baru sebulan tinggal di sini.” Jelas Nana.

“Oooo… begitu. Oh iya, what is your real name Nona??”

“Nana. You?”

“Aku sudah memperkenalkan diriku kemarin.”

“Ha.ha seharusnya anda tahu mood saya kemarin tak terlalu baik karena anda mengganggu menu daging

saya dengan memberikan penyuluhan tentang sayur. Akibatnya saya lupa siapa nama anda. Saya hanya

ingat bahwa anda adalah seseorang yang menjelaskan kepada saya tentang pentingnya sayur. Begitu..

he.he.”

“Ok Nona. Saya akan memperkenalkan kembali diri saya pada anda. Saya adalah Muhammad Zidan

Rizky. Anda bisa memanggil saya Zidan.”

“He.he.he. Ok. Nice to meet you Tuan Zidan. Emm.. saya rasa saya harus meninggalkan anda sekarang

juga. Jam kerja telah menungguku. Sampai jumpa tuan sayur..” pamit Nana pada Zidan.

“Ok Nona steak.”

“Ternyata kau menyenangkan juga Nona steak, aku harus membuatmu menyukai sayur Nona.

Ha.ha.ha.” ucap Zidan dalam hati.

*****

            Nana menunggu dengan bosan acara yang harus ia liput kali ini. Cuaca yang panas membuat kepalanya serasa pecah. Dia begitu membenci ketika dia harus bekerja di sebuah stadium yang berkapasitas sebesar itu. Mungkin juga karena dia tak begitu menyukai acara olahraga.

Nana bisa bernafas lega ketika sang MC membuka acara itu. Dengan focus dia mengamati pertandingan lari itu. Dia mencatat segala yang terjadi saat itu. Konsentarsinya tak dapat diganggu ketika dia telah mencatat berita.

Tiga jam berlalu, dan saat pemberian trophy kepada sang juara pun datang. Nana sangat terkejut ketika dia menyadari bahwa yang ia liput dari tadi sekaligus juara dari lomba lari itu adalah orang yang ia kenal.

“Zidan?? Benarkah apa yang kulihat??” gumam Nana menghentikan tangannya

untuk menulis segala yang terjadi.

“Jadi benar dia adalah seorang atlet?”

Nana masih tak percaya dengan apa yang telah ia lihatnya. Dia keluar dari arena pertandingan dengan perasaan yang masih sedikit tak percaya. Berkali-kali dia menggumamkan kata-kata tak percaya itu. Dia tak percaya bahwa laki-laki yang ia tahu dengan postur yang memiliki tinggi kurang lebih 181 cm dan tubuh yang tak terlalu besar adalah seorang atlit.

“Nona steak..” sapa seorang lak-laki padanya.

“Hha?? Anda tuan sayur.. jadi??” Tanya Nana dengan rasa kaget dan ekspresi tanda tanyanya.

“Jadi??” Tanya Zidan heran.

“Anda benar-benar seorang atlet??” ucap Nana.

“He.he. seperti yang anda lihat tadi.”

“Dengan sayur??” Tanya Nana masih tak percaya.

“Yup. Ok Nona Steak, aku harus kembali, aku mengundangmu terapi sayur nanti malam. Bisa??” ajak .

Zidan.

“Hha?? aku usahakan.” Senyum Nana.

“Mungkinkah hanya dengan sayur?? Tak mungkin.” Pikir Nana.

*****

Malam itu Nana yang masih dengan rasa tak percayanya memenuhi undangan terapi sayur dari Zidan. Dia berjalan kaki saja untuk pergi ke rumah Zidan karena rumahnya terletak tak begitu jauh dari rumah Zidan. Dia mengetuk pintu kayu yang dihiasi ukiran klasik itu. Dan segera saja Zidan keluar dari dalam pintu itu. Wajah Nana diliputi tanda tanya ketika melihat Zidan  yang keluar dengan memakai jas hitam, kemeja putih, dasi juga celana panjang hitam.

“Silahkan masuk Nona..”

“Hmmm ok.”

“Saya sengaja memakai pakaian lengkap saya karena saya ingin menyambut Nona secara resmi.”

“He.he. bisa aja. Tapi maaf, aku terlanjur pakai pakaian seperti ini.” Tengok Nana pada pakaian santai

casualnya.

“No Problem Nona.”

Mereka berdua memasuki rumah Zidan yang tak dapat dikatakan besar, tapi sangat besar untuk laki-laki seumuran Zidan. Di dalam ruang makan yang kira-kira berukuran 6m x 8m itu telah tersedia satu meja makan penuh makanan. Nana melihat meja makan itu dengan terkesan. Zidan mempersilahkannya untuk duduk dan menikmati hidangan makan malam itu. Nana mengambil sebuah steak keju dan menyantapnya dengan penuh semangat. Namun di tengah dia mengunyah steak itu, dia menghentikannya.

“Kenapa Nona??” Tanya Zidan Khawatir.

“Aku tahu, ini sayur kan??” Tanya Nana penasaran.

“He.he. Iya Nona. Kenapa?? Kau tak bisa memakannya??”

“Maaf Zidan, perutku tak sesuai dengan ini.”

“Okelah, aku mungkin harus memberikan steak yang sesungguhnya. Perlu waktu untuk memahami

perutmu Nona.”

Zidan tersenyum dan berlalu dari meja makan. Dia berjalan menuju lemari es, mengambil sepotong daging dan memasaknya menjadi steak pedas, makanan favorit Nana. Di tengah ia memasak Nana menghampirinya. Nana merasa sungkan karena telah merepotkan Zidan lebih dari yang ia bayangkan.

“Haruskah aku membantumu??”

“Ahh.. Tidak perlu, Nona duduk saja, Nona adalah tamuku. Dan tamu adalah ratu. He.he.”

“Maaf merepotkan selalu.” Nana tersenyum meminta maaf.

“Tak perlu seperti itu Nona.” Ucap Zidan dengan senyumnya.

Nana menatap Zidan yang kini tak serapi saat dia membukakan pintu untuk Nana. Dia telah melepas jasnya, dan memakai celemek. Dia memasak dengan konsentrasi penuh pada steak yang ia masak. Sesekali dia berbalik menatap dan tersenyum canggung pada Nana yang duduk di sampingnya. Nana pun juga tak dapat menyembunyikan kecanggungannya di depan laki-laki itu. Entah apa yang mereka pikirkan malam itu hingga mereka merasa saling canggung.

Setelah setengah jam menunggu akhirnya steak itu matang juga. Dua porsi steak pedas yang dimasak Zidan mereka santap dalam diam. Setelah steak itu bersih dari piring mereka masing-masing, mereka ngobrol dengan santai tentang kehidupan mereka.

Jam telah menunjukkan pukul 10.00 malam, Nana pamit pulang dan mengucapkan terima kasih pada Zidan, juga meminta maaf karena tak bisa menikmati hidangan sayur yang Zidan sajikan.

Malam itu, setiba Nana di rumah dia merasa begitu lelah. Dia berbaring di atas tempat tidurnya. Dia mencoba memejamkan matanya tapi tak bisa. Dia berpikir keras kenapa ada orang yang begitu baik seperti Zidan, yang begitu peduli dan ingin merubah kebiasaan buruknya. Dia tersenyum geli ketika mengingat rasa canggung Zidan dan dia beberapa jam yang lalu. Dia tertidur dengan bayangan akan tuan sayur yang membuatnya tersenyum.

Di tempat lain, Zidan juga merasakan hal yang sama. Dia heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia begitu bersikeras untuk merubah kebiasaan buruk Nana. Padahal, dia tak tahu Nana itu siapa? Darimana? Dia tersenyum ketika mengingat raut wajah Nana yang meminta maaf padanya ketika Nana tahu bahwa steak itu terbuat dari sayur.

“Nona.. benarkah apa yang kupikirkan saat ini padamu?? Kenapa kau membuatku tak mampu untuk

menatap matamu lebih lama. Aku merasa ada yang janggal pada hatiku ketika bersamamu. Tak hanya

hati, jantungku juga. Huh..”

*****

“Halo.. Irfan, hari ini aku tak masuk kerja. Aku ada acara, kau control resto ya..” ucap Zidan pada

manager restonya itu.
“Ok Zidan. Kenapa gak masuk??” Tanya suara di seberang.

“Ha.ha. masalah hati. Aku ingin menemukan resep baru. Ok. Thanks ya fan.”

“Ok.”

Zidan menutup teleponnya, dan menuju dapur untuk memasak. Dia berpikir keras, resep apa yang harus ia gunakan agar rasa dari sayuran itu terganti dengan rasa daging. Dia mencoba satu persatu resep yang telah ia ketahui sebelumnya. Namun tetap saja ia dapat merasakan rasa sayur yang khas. Empat jam dia mencoba resep-resepnya. Tapi tetap saja hasilnya nihil.

“Oh aku tahu, mungkin tak perlu sepenuhnya aku merubah rasa sayur. Tapi aroma. Yepp.. moga aja.”

Ucap Zidan optimis.

Dia terlihat dengan sepenuh hati memasak salad itu. Mulai dari mencuci sayur, memotongnya, dan lebih serius lagi ketika dia membuat sausnya. Dia begitu berharap masakannya itu bisa diterima oleh seseorang yang sangat ia harapkan.

*****

            Malam yang menyebalkan itulah yang ada dalam benak Nana ketika dia dia pulang dari kerjanya. Dia merasa malam itu tak ada acara yang menarik untuk disaksikan. Tugasnya juga sudah kelar semua, akhirnya dia memilih untuk mendengarkan musik dari ipodnya.

Belum sampai satu lagu selesai, Nana mendengar pintu rumahnya diketuk. Nana turun dari kamarnya dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang mengunjunginya pada jam semalam ini.

“Zidan?? Ada apa?? Semalam ini??” Tanya Nana ketika mengetahui bahwa Zidan yang mengetuk

pintunya.

“Aku ada resep baru untukmu Nona. Dan aku optimis bahwa kau bisa menerimanya.”

“Hha?? sayur lagi??”

“Jangan berfikir negative dulu ya. Ini, kamu coba dulu ya, dikit aja.” Zidan memberikan semangkuk

kecil salad beserta sausnya kepada Nana.

Nana menatapnya dengan khawatir, dia tak yakin bisa memakannya. Namun, dia juga tak ingin mengecewakan Zidan.

“Oke.”

Hening menyelimuti, ketika Nana hendak memasukkan sendok berisi salad itu ke dalam mulutnya. Nana memejamkan matanya ketika salad itu telah benar-benar berada dalam mulutnya. Aneh, Nana tak merasa mual sedikitpun ketika salad itu ia kunyah. Dia merasakan ada yang berbeda dengan perutnya. Dia bisa terus melahap salad itu. Bahkan dia tak sadar jika dia telah menghabiskan semangkuk salad itu. Zidan tersenyum bahagia melihat hal itu.

“Zidan, kau yakin dengan apa yang kau lihat?? Aku tak percaya Zidan. Aku tak mual sedikitpun?? Aku

merasakan daging. Bener dech.”

“Syukurlah, aku membuat saus salad itu sama persis dengan saus sate. Namun kuberi sedikit daging asap

di atasnya agar menutupi aroma sayur yang ada. Dan dugaanku benar, ternyata kau tak cocok hanya

dengan aromanya.”

“Terima kasih Zidan.. kau membuang kebiasaan burukku.” Nana meraih tangan Zidan bahagia.

Suasana hening seketika. Nana tersadar tak seharusnya dia menggenggam tangan Zidan seperti itu, Nana melepaskan tangan Zidan dan meminta maaf.

Nana begitu bahagia, karena Zidan dia bisa makan sayur yang tak pernah mampu ia sentuh sebelumnya. Dia tidur dengan perasaan bahagia karena telah berhasil menaklukkan musuh bebuyutannya itu.

*****

            Pagi yang cerah ketika Nana keluar dari ruang kerjanya untuk sarapan. Seperti biasa, dia mengunjungi resto milik Zidan. Dia memesan menu baru yang ada, “Salad Saus Daging Asap.”

Dengan penuh semangat, Nana melihat makanannya itu. Dia mengisi penuh sendoknya dengan salad itu. Dan… Happp…

Aneh!! Nana kembali merasakan mual ketika mengunyahnya, namun ia percaya bahwa mungkin itu hanya efek pertamanya. Nana terus berusaha untuk menelannya. Tapi perutnya terasa tak sekalipun mengizinkan salad itu untuk beristirahat di dalamnya.

Nana putus asa dan kembali ke kantornya setelah 30 menit dia mencoba untuk memakan salad itu. Tak sesendokpun salad yang ia inginkan untuk mengisi perutnya itu masuk. Namun jam istirahat pertamanya habis. Tanpa menghasilkan sedikitpun energi untuk dirinya.

Dengan kecewa, Nana kembali menuju kantornya. Dia terkejut ketika dia melihat Zidan telah duduk di ruangannya. Zidan terlihat membawa semangkuk penuh salad.

“Zidan??”

“Hai Nona steak, darimana saja? Aku menunggumu lam di sini.” Ucap Zidan dengan senyumnya.

“Aku baru aja pulang dari restomu. Kuq tumben ke sini?? Ada apa nih??” Tanya Nana penasaran.

“Dari resto?? Berarti udah sarapan dunk?? Hmm… sayang sekali, padahal aku membawakanmu

semangkuk salad special ini Nona..” ucap Zidan menyesal.

“Kau tahu Tuan, sesuatu yang aneh terjadi pada perutku. Dia kembali tak bisa menerima sayuran. Aku

kembali merasa mual ketika hendak menelannya. Padahal, salad yang tadi hendak ku makan adalah

menu baru di restomu. Dan kau tahu bukan bahwa salad itu sama dengan salad tadi malam?.”

“Tentu.. bahkan aku yang membuat sausnya tadi pagi. Lalu kenapa bisa begitu?? Ok. Sekarang kamu

coba lagi dech salad ini. Sekaligus sarapan.” Saran Zidan.

Dengan tak yakin Nana kembali mencoba salad itu. Namun, Nana tak merasakan sedikitpun mual. Dia melahap habis salad itu. Zidan yang mengetahui hal itu tertawa.

“Ha.ha.ha Nona mungkin kau membutuhkanku di sampingmu untuk menelan sayur.” Ucap Zidan

dengan senyumnya.

Nana hanya menatap sadis lelaki itu ketika Zidan mengatakan hal itu. Dalam hatinya menolak keras apa yang Zidan katakan. Zidan terus mengganggu Nana setelah dia mengatakan kata-kata itu. Seperti tak ada puasnya dia mengganggu gadis itu.

Setelah semua pekerjaan Nana selesai, Zidan yang telah sehari penuh menunggunya untuk bekerja. Mengajak Nana berkeliling menikmati indahnya kota di saat malam hari. Mereka tak hanya berjalan menikmati indahnya kota, namun lebih tepat mereka berwisata kuliner. Mereka saling memburu makanan yang bagi mereka unik dan jarang atau bahkan belum pernah mereka jumpai.

Malam terasa begitu cepat bagi mereka berdua, waktu telah menunjukkan pukul 11.43 malam. Mereka berjalan santai untuk menempuh perjalanan pulang. Mereka berbincang banyak sekali dalam perjalanan itu. Zidan begitu senang jika Nana telah menceritakan petualangannya sebagi seorang jurnalis. Bukan kepada cerita yang Nana ceritakan, melainkan kepada semangat dan ekspresi wajah Nana yang bersemangat dan ceria.  Dia selalu memperhatikan Nana ketika cerita it uterus mengalir.

Zidan merasa kecewa, ketika mereka telah sampai di depan rumah Nan.

“Emmm… Zidan makasih ya, udah ngajak wisata kuliner. Juga telah mendengar semua ceritaku. He.he.”

ucap Nana tersenyum.

“Ehm, No problem Nona. Terima kasih juga telah menemaniku. Emmm… Nona, mungkin untuk tiga

bulan ke depan kau tak akan berjumpa denganku. Aku harus ke Paris mengurusi restoku di sana.”

“Benarkah??? Selama itu??” Nana tak mampu menutupi rasa kaget dan kecewanya.

“He.he. jangan khawatir Nona. Aku pasti balik lagi ke sini kuq. Aku tak kan membiarkanmu bertambah

gendut dengan terlalu banyak makan steak. He.he.”

“Haruskah aku tanpamu selama itu??” Tanya Nana dalam hati, dia telah merasa biasa dengan kehadiran

Zidan.

Nana tersenyum pada Zidan, tak seharusnya dia khawatir seperti itu. Dia memberikan semangat pada Zidan untuk bekerja dengan baik di asan.

“Semangat, jaga dirimu baik-baik Tuan sayur. Jangan lupa makan sayur ya…”

“Tentu Nona. Kau juga, jangan terlalu banyak daging. Nanti gendut lhoh. Ha.ha.ha.”

Nana tak bisa tidur malam itu. Dia masih merasa berat jika Zidan harus pergi selama itu. Namun dia juga berpikir bahwa dia seharusnya tak berpikir seperti itu. Karena Zidan bukan siapapun, walau hatinya telah menempatkan Zidan di tempat yang special di sudut hatinya.

*****

Tiga bulan kemudian..

“Sayuuuurrr!!! Kenapa kau lebih mengerikan daripada 4 bulan yang lau?!” ucap Nana marah di depan

semangkuk salad yang ia buat.

Nana merasa putus asa, karena dia benar-benar masih tak bisa membiasakan sayur untuk tubuhnya. Dia hanya bisa menatap semangkuk sayur di atas meja makannya itu. Dengan perasaan yang tak tentu Nana berpikir mungkinkah benar dia hanya bisa membiasakan sayur untuk tubuhnya ketika Zidan di sampingnya. Tiba-tiba saja, dia merasakan sesuatu dari hatinya telah hilang begitu lama.

“Nona.. berapa berat badanmu sekarang??” ucap seorang laki-laki di belakang Nana.

“Zidan??” Nana menatapnya kaget sekaligus bahagia. Dia tak menyangka bahwa Zidan telah datang.

“Hai Nona, lama tak berjumpa denganmu. Huh??? Kau terlihat tambah gemuk. Sudah kuduga kau tak

kan pernah makan sayur tanpaku. Iya nona?? Kau membutuhkanku di sampingmu untuk memakan ini

semua..” Zidan menyuapi Nana dengan salad yang ada di mangkuk itu.

“Lalu kenapa kau meninggalkanku??” Tanya Nana bercanda.

“Tak kan lagi Nona, aku akan selalu berada di sampingmu. Bahkan aku akan selalu ada dalam setiap

detik hidupmu. Marry me??” Zidan mengeluarkan mengeluarkan sebuah cincin perak dari sakunya.

Nana yang masih belum bisa menguasai keadaan hanya mampu menatap Zidan dengan tatapan tanda tanyanya.

“Nona??”

“Zidan.. aku bercanda dengan ucapanku tadi.. aku tak serius..”

“Tapi aku serius Nona… Marry me??”

“Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu Tuan??”

“Tentu Nona.”

Nana memejamkan matanya, dia bahagia karena ternyata tak hanya dia yang mencintai Zidan. Namun begitu juga sebaliknya Zidan juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Nana mengambil nafas yang begitu panjang. Dan…

“Tuan, saya rasa saya tak perlu menyembunyikan lagi dari anda bahwa saya juga miliki perasaan yang

sama seperti anda. Tuan dengan sepenuh hatiku aku bersedia menjadi istrimu.”

Zidan tersenyum bahagia di hadapan Nana calon istrinya. Dia memasangkan cincin itu pada jari manis Nana. Semangkuk salad menjadi saksi bersatunya dua hati yang kini diliputi cinta itu.

“Aku bahagia, karena kini aku telah menemukan steak yang sesuai dengan hatiku.” Ucap Zidan sambil

menatap Nana yang duduk di sampingnya.

“Aku lebih bahagia karena aku juga telah menemukan salad yang mampu kuterima dengan sepenuh

hatiku. Sekaligus dapat chefnya juga. He.he.” tawa Nana.

 

~~~~The End~~~~

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s