Siapa Saya Mau Lawan Mereka ??

20112012864Ketika kita menjadi seorang atlet yang telah berjuang keras dan masuk ke dalam final suatu pertandingan. Lalu tanpa kita ketahui ketika berada di dalam arena pertandingan final, lawan kita adalah pelatih kita sendiri ataupun seorang lawan yang sering kita dengar nama kesuksesannya. Tanpa dimau pasti kata “aduh” itu datang ke dalam hati. Mulai dari rasa rakut, tak percaya diri hingga sungkan pasti melanda. Rasa optimis yang awalnya selalu on entah bagaimana off secara otomatis bahkan sebelum pertandingan dimulai.Ilustrasi di atas sedikit menggambarkan tema yang akan penulis angkat sebagai bahasan kali ini. Kerobohan mental secara singkat dan langsung lebih berpeluang menghancurkan kemenangan yang telah disusun dari awal.

Inilah masalah yang seringkali dialami oleh para pemuda di Indonesia. Kejatuhan opstimisme dan keberanian untuk menghadapi sesuatu yang mereka duga lebih dari mereka. Padahal belum tentu kemampuan mereka lebih lemah atau lebih rendah daripada lawan mereka. Hati menciut nyali pun menciut, dan semangat yang awalnya berapi-api padam sekaligus. Dapat dibayangkan bagaimana performa yang keluar selanjutnya. Meski berusaha dengan sangat maksimal, mental yang jatuh tersebut tak kan menghasilkan hasil yang maksimal ataupun seperti yang diinginkan.

Kerutuhan mental yang disebabkan rasa takut juga disebabkan oleh sejarah. Maksudnya bahwa lawan yang akan dihadapi pernah mengalahkan kita sebelumnya. Hal tersebutlah yang menjadi pemicu utama, kenapa tim sepak bola Indonesia belakangan ini tak pernah berhasil mengalahkan tim Malaysia. Tim Indonesia terlalu termakan oleh rasa takut mereka akan kekalahan yang mereka alami melawan tim dari Negeri Jiran itu sebelumnya. Sehingga apa yang mereka takutkan tersebut malah membantai mereka.

Tak hanya itu, mental juga bisa jatuh ketika “perasaan tak sesuai dan akan diabaikan” muncul sebelum karya dihasilkan. Ketika membaca sebuah opini dalam koran, pembaca mempunyai sebuah keinginan untuk mengkritik hal-hal yang ada di sekitarnya sehingga menimbulkan perbaikan yang berarti. Pembaca pastinya berasal dari berbagai macam kalangan. Tak hanya dari kalangan yang “pasti akan dibaca dan dipercaya” tulisannya, namun juga pasti dari kalangan yang “sedikit” diremehkan tulisan dan gagasannya, seperti mahasiswa semata. Perasaan akan diabaikan tersebut membuat siapapun, tak hanya mahasiswa menjadi ciut nyali untuk menyampaikan gagasan yang mereka pikirkan. Yang mungkin saja akan menjadi perubahan yang berarti ketika mereka menyampaikannya. Namun memang tak dapat dihindari jika topik-topik hangat dan besar pasti lebih dilihat dan dipilih daripada topik-topik sederhana dan tak populer namun sebenarnya mendasar.

Topik-topik hangat dan besar pastinya membutuhkan keahlian dan pengetahuan khusus untuk menyelipkan pendapat dan solusi di dalamnya. Dan pendapat serta solusi yang ada di dalamnya akan lebih dibaca jika penulisnya adalah seorang pengamat, ahli, ataupun guru besar bukan mahasiswa atau rakyat jelata belaka.

Lalu tak bisakah selain ahli, pengamat, ataupun guru besar menyampaikan opini mereka? Jika memang topik besar dan populer ditangani oleh para ahli seperti mereka, setidaknya mahasiswa masih mau dan bisa menyampaikan gagasan mereka untuk apapun yang ada di sekitar mereka dan dipikiran mereka. Jangan terlalu focus dan memaksa menciptakan gagasan pada topik hangat dan populer agar dilihat. Karena jika topik tersebut bukan keahlian kita, tak akan menjadi berbobot gagasan dan tulisan yang dihasilkan.

Dimulai dari hal kecil, sederhana, yang ada di lingkungan kita dan sedikit menyentuh bidang yang kita mengerti, dengan begitu akan menghasilkan gagasan yang berbobot. Selain penyampaian gagasan yang berbobot, kembali ke topik utama bahwa mental harus tangguh dan tetap optimis bahwa gagasan tersebut akan berguna bagi orang lain. Masalah dibaca atau dipedulikan tidaknya pasti dipedulikan walau kapasitasnya masih kecil. Namun jika gagasan itu disampaikan terus menerus pasti tak hanya sedikit orang yang mempedulikannya.

Permasalahan memang tak hanya datang dari para pemberi inovasi, gagasan, atau subjek. Namun masalah juga datang dari para pembaca atupun penerima gagasan tersebut. Kebiasaan memakai produk “luar negeri” dan “ahli” membuat rasa tak percaya dan meremehkan akan gagasan ataupun produk yang dihasilkan anak bangsa, mahasiswa, ataupun bukan dari kalangan ahli. Indonesia tak akan pernah maju jika masyarakatnya terus menjadi konsumen dari produk dan karya bangsa lain dan tak mempedulikan karya anak bangsanya sendiri.

Jika rasa percaya diri, kekuatan mental dari para pelaku dan rasa percaya serta dukungan dari masyarakat ada dan menguat. Maka para pemikir atau innovator muda pasti akan sellu optimis dan percaya untuk meneruskan inovas-inovasi mereka, gagasan-gagasan, serta ide-ide cemerlang yang akan mendukung akan peningkatan kesejahteraan bangsa.

Setelah semua optimisme itu tumbuh dengan baik, maka perlulah rasa keberanian untuk meningkatkan segala sesuatu yang telah ada. Seperti sedikit mengambil sebuah “ledakan.” Berisiko dan sedikit berbahaya memang jika dipikirkan. Namun itulah yang telah dilakukan oleh banyak Negara maju. Mereka berani mengambil sebuah resiko besar nan berbahaya untuk membuat sebuah perubahan. Walau belum tahu hasilnya bagaimana namun mereka selalu percaya bahwa jika sebuah “ledakan” itu berhasil maka “bayaran” setimpal yang akan mereka terima. Dan benar saja mereka mendapatkan “bayaran” tersebut dengan usaha keras mereka.

Seperti halnya film-film yang diproduksi oleh industry perfilman Hollywood. Bisa dikatakan film-film yang mereka hasilkan selalu mengesankan, mereka memperhatikan setiap detail dari film yang mereka buat. Mulai dari aktor ahli yang akan memainkan film dengan kesesuaian jalan cerita, property pendukung yang pastinya tak murah, teknologi, hingga penyanyi beserta lagunya yang akan mengisi soundtrack dari film tersebut. Namun semua itu setimpal dengan apa yang mereka dapatkan setelah itu. Terbukti hingga sekarang tak ada yang menandingi Hollywood.

Belakangan ini film-film yang dihasilkan Indonesia pun sudah mulai terasa gregetnya, hingga dilirik oleh negeri luar. Ini sebuah pertanda bahwa karya anak bangsa mulai mengalami kemajuan. Perfilman Indonesia mulai beragam dan mendidik, tak hanya melulu pada horrornya yang sarat dengan unsure sara.

Tak hanya dari dunia perfilman, dari dunia ilmu pengetahuan pun juga semacam itu. Sebenarnya banyak sekali ilmuwan-ilmuwan cerdas dari Indonesia. Bagaimana tidak? Seorang BJ Habibie yang merupakan asli anak Indonesia mampu menjadi Direktur sebuah produsen pesawat terbang di negeri Jerman. Namun ketika industry pesawat di Indonesia mulai berkembang dan ketika inovasi-inovasi dan ide mulai muncul dan terlaksana industry dirgantara malah ditutup oleh pemerintah. Memang saat itu terlalu dini untuk menyebutkan bahwa industry tersebut sukses. Pemerintahan yang kacau balau saat itu serta produk yang masih muda tak mendukung sedikitpun untuk meneruskan nafas industry itu. Tetapi seharusnya sedikit demi sedikit dibangkitkan kembali. Tak hanya selalu rencana dan rencana. Hal ini disebabkan tak beraninya pemerintah mengambil risiko untuk sebuah perubahan. Memang perubahan sendiri tak selalu menghasilkan sesuatu dengan sekejap mata berhasil. Melainkan harus melalui proses panjang yang intensif. Dan kapanlagi akan terjadi perubahan itu jika tak dimulai dari sekarang.

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s