Washington Post

Hai, benar aku tak pernah menyangka.

Menjadi seorang ratu, atau hanya bagaikan.

Aku tak pernah berpikir ini selama ini.

Ya, dengan motor itu kau menjemputku setiap malam.

Entah hujan atau bahkan badai salju.

Dan maaf jika selalu saja aku menggerutu.

Menggerutu untuk keterlambatanmu yang mungkin hanya 5 menit saja.

Jurnalis, kau dan aku sama.

Seharusnya kau benci keterlambatan.

Tunggu, kau tak pernah terlambat untuk pagi hari.

Pagi yang bukan untukku, dan malam yang bukan untukku.

Oh kau selalu saja.

Apa kau sengaja ingin membuatku menggerutu?

Bahkan sampai selarut ini?

Aku tahu malam ini bukan musim dingin.

Dan terlalu hangat untuk menjadi musim dingin.

Tapi kumohon jangan terlambat.

Ya, kau datang dengan motormu.

Dan tentu saja 15 menit keterlambatanmu.

Oh aku benci, singkirkan asap rokok itu.

’Sayang, kau terlambat lagi”

Mataku mencercamu, dan matamu tersenyum.

“Maafkan aku, kau tahu seorang jurnalis bukan? Dan ketika jurnalis harus menulis lebih?”

Kau mencium pipiku.

Dan kembali motor itu membawa kita menelusuri blok-blok bising DC.

Kau tertawa, ketika tahu sepasang kekasih menyuapkan pizza satu sama lain.

Kau menganggapnya sebagai “childish.”

Ayolah, itu romantis.

Bahkan kau tak pernah melakukannya untukku.

 

“Washington post is the best crap.”

“Oh, shut it!”

Selalu saja kau membuatku tersenyum dengan candamu itu.

Kau berlalu setelah motor itu membawaku berada di depan pintu.

Kau melambaikan tanganmu seakan melihatku.

Tak ada yang special malam itu.

Tak satupun, semua berjalan seperti putaran jam.

Seperti biasanya.

 

“Morning honey, have a great day :*”

Apa? Kau mengirimkan hal seperti ini di pagi hari?

Ada apa denganmu?

Teks singkat yang tak biasanya.

Setahuku kau hanya mengirim teks padaku saat kau lapar.

Kembali menyusuri blok-blok sibuk DC.

Berjalan sendiri, 7th street.

Kau tahu? Teksmu membuatku mengingat saat kau berlari mengejarku.

Tepat di jalan ini, ngedumel dengan Inggrismu yang tak begitu masuk otakku.

Tepat 4 tahun yang lalu.

Meski kau bukan lagi orang yang sibuk berlari mengejarku dan mencoba membuatku melihatmu dengan pandangan-pandangan kasusmu.

Karena memang aku telah sepenuhnya melihatmu.

Semoga kau mensyukuri semua itu.

Dan melupakan semua gerutuanku setiap malam untuk keterlambatanmu.

 

Selalu saja ada yang menurutku aneh.

Mereka tersenyum, hampir semua.

Oke, mungkin ada yang salah denganku.

Atau gaji mereka?

Bisa jadi.

“Oh my God, congratulation!!”

Sahabatku memelukku ketika tahu aku datang.

Ada apa dengan orang-orang ini?

Dia berlalu begitu saja usai memelukku.

Apakah aku dipermainkan?

Oh God!

 

Koranku?

Sepertinya bukan, aku tak membawanya dari rumah pagi ini.

Oh my God. Oh my God.

Apakah ada yang salah dengan mataku?

Apa yang terjadi dengan eksemplar itu?

Aku hanya bisa menutup mulutku.

Washington post?

Inikah?

Benarkah?

Kaukah yang menuliskannya?

Kemarilah, hentikan air mataku.

Kumohon.

Dimana temamu yang biasa kau usung?

Dimanakah tema politikmu? Sosialmu? Budayamu?

Dimanakah kritismu? Perangmu?

Apakah kau selemah ini kini?

 

Will you marry me Eleanor Holmes??

Itukah judul yang kau tulis malam itu hingga kau terlambat?

Tuhan, aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

Hingga kau datang.

Aku tersenyum dalam tangisku.

Aku hanya bisa memelukmu.

Dan kau tersenyum bangga.

Kenapa?

Ya, sepertinya sekali ini kau membuatku tak mampu ucapkan sepatah katapun.

“Who is Eleanor Holmes here? And who is the author?”

“OR, and the author is ME.”

“Are you kidding? Aren’t you journalist again? That’s not news, or opinion, or feature, or..”

“Shhhh.. told me your answer my Eleanor Holmes?”

Ku hela nafasku dan “Of course I do!”

 

Kau tahu?

Baru kali ini namaku kau tulis di atas lembar berharga Washington Post.

Tak ada kata perang, politik, hanya cinta.

Inikah kau untukku?

Kau memelukku, dapat kurasakan harumu sayang.

You’re different.

Kau tak pernah berlutut untukku.

Kau hanya menuliskan namaku pada lembar yang tak kan pernah kulupa.

Kau tak pernah berucap merayuku.

Kau hanya menuliskan cintamu padaku, mengakuinya tanpa malu.

Merangkai kata pada rubrik yang tak seharusnya.

Tercetak beratus ribu ekslempar dan tersebar.

Empat tahun sudah aku bersamamu.

Kurasa aku mengenalmu sepenuhnya.

Tapi selalu saja kau membuatku terkejut dengan hal-hal baru.

Yang tak pernah kupikir sebelumnya.

Kau tahu?

Aku mencintaimu, aku mencintaimu walau dengan terlambatmu.

Walau dengan ocehanmu tentang idealisme itu.

Walau dengan ketidakromantisanmu.

Walau dengan asap rokok yang jarang kau hentikan itu.

I’ll marry you.

I’ll marry you.

I love you Evan.

 

PS: Terinspirasi dari lagu Yovie and The nuno-Janji suci yang saya dengarkan tengah malam saat itu.

Nama-nama tersebut adalah nama dari tokoh-tokoh yang berada di tulisan saya.

Mungkin ini post pertama saya untuk nama tersebut. Tapi kebanyakan tulisan saya yang belum atau tidak saya post menggunakan nam tersebut.

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s