Kertas

21112012874#Evan

 

Aku benci menulis, ya aku pernah membencinya.

Kau tahu? Bahkan aku tak ingin melihat kertas-kertas kosong itu menghampiriku.

Atau terpaksa menghampiriku.

Mereka memaksaku untuk mengeluarkan otakku.

Tak peduli saat aku sakit, atau saat aku harus mengerjakan yang lain.

Aku mengenang kertas-kertas menyakitkan itu sebagai mimpi buruk.

Terlebih ketika masih ada saat “wajib” berkutat dengan kertas.

Sebenarnya tidurku tetap lelap, tapi tapi tak selelap malam liburan.

Karena benar, kertas-kertas itu mengencaniku.

BEBAN!

Itulah kata yang tepat, untuk kertas-kertasku beberapa tahun lalu.

Aku menyukai membuka pikiranku.

Aku menyukai memprotes pandanganku.

Tapi aku tak suka untuk menulisnya, walau sebenarnya ingin.

Dan tetap sekritis apapun aku.

Aku tak menyukai kertasku.

 

Dan cinta itu memang ajaib.

Semua berubah, berubah ketika aku terbangun dari tidurku.

Aku bangun, dan mulai rasakan hal yang berbeda dari kertasku.

Aku menatapnya, masih tak ada rasa.

Aku menyentuhnya, hambar.

Tapi apa yang terjadi ketika kertas yang mengerikan itu hanya ada dalam psikologiku?

Tapi apa yang terjadi ketika dia ingatkanku akan masa kecilku?

Ketika dia memelukku ketika aku menangis?

Dia juga ikut tertawa ketika aku tertawa.

Tuhan? Bahkan aku tak percaya dengan semua ini.

Benarkah?

Kurasa semua ini benar, aku masih melihat detik jam menuju kea rah kanan dengan mataku.

Dan aku tak pernah melihat detik jam itu dalam mimpiku.

Ya, aku mengeti kini.

Aku tertidur selama ini.

Aku hanya bermimpi, bermimpi buruk untuk kertasku.

Kertasku yang terlihat kejam dalam mimpi burukku namun anggun dalam sadarku.

Kertasku yang sedingin salju, namun sehangat sinar mentari ketika aku membuka mataku.

Kertasku yang membunuhku, namun yang memelukku dalam nyataku.

 

Dan kini, aku tak pernah tertidur lagi.

Aku tak pernah bermimpi buruk lagi.

Aku terus berjalan bersama kertasku.

Menuliskan jutaan kata, kenangan, dan masa depan.

Maka aku akan terus terbangun.

Aku tak ingin tertidur.

Aku tetap bermimpi walau tanpa tidurku.

Karena tidurku hanya memberiku mimpi buruk.

Karena ketika aku tidur aku tak dapat meilhat sesungguhnya mimpi itu.

Dan aku tak bisa mencintai mimpiku itu saat tertidur.

 

Friday September 27th 2013 07:19 pm

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s