Train – Day One (Part 1)

trainAku? Siapakah aku? Seorang gadis? Yang sudah mulai tua? Jurnalis? Politisi? Sang pemimpi? Oh ayolah, aku tak tahu. Yang kutahu aku lahir di sebuah rumah sakit kecil di Illinois USA itupun cerita dari ibuku. Ibuku bukan wanita muda lagi, dia berusia 47 tahun kini dan kami memiliki toko roti kecil dekat rumah kami, ibu yang mengelolanya. Ayahku? Meninggal 11 tahun yang lalu, saat terjadi badai tornado besar di daerah kami dan saat dia sibuk menyelamatkan nyawa orang lain. Itulah yang kuheran dari sikap seseorang kenapa mereka mau mengorbankan diri mereka sendiri hingga tak peduli keselamatan nyawanya. Sedikit terdengar egois memang, tapi memang aneh bagiku semua itu.

Selama ini yang kutahu hanya berlari, menulis segala yang terjadi dan menyebarkannya. Aku tak peduli ada yang membaca ataupun tidak, aku hanya suka untuk berkelana dan mencari segala peristiwanya. Kalaupun ada yang ingin membelinya aku tak ingin mereka merubahnya. Maaf aku memang sedikit egois dan keras kepala. Tapi aku tak ingin apa yang kutulis dengan fakta mereka ubah untuk mendapat nama baik. Lagi-lagi tentang pencitraan, topeng kemunafikan untuk sebuah tampilan yang mengesankan. Dan sedikit membecinya.

Cukup perkenalannya, aku harus segera mencari apa yang harus kutulis kalau tidak otakku keburu tak bisa diajak berkompromi lagi. Aku berjalan menuju stasiun kereta, seperti biasanya aku menunggu 15 menit sebelum kereta datang, dan duduk di bangku dimana aku biasa menunggu. Aku merubah playlist ku, terlalu awal di pagi hari untuk mendengar suara mellow Kate havnivik bukan? Yang terputar adalah “Grace” soundtrack dari drama serial Grey’s anatomy. Ya, aku menyukai drama itu. dunia kesehatan yang menantang sepertinya khususnya operasinya. Keprofesionalan mereka yang terkadang harus tertukar dengan rusaknya hubungan keluarga yang dimiliki sebelumnya.

Ku pandang semua yang ada di sekitarku, siapa tahu ada yang bisa kutulis. Tapi tetap saja kondisi yang tenang karena masih terlalu pagi, pukul 05.00 pagi saat itu. Mereka yang menunggu kereta pun terlihat tak banyak bicara dengan sesamanya walau hari ini awal musim panas tapi tetap saja udara pagi tak terlalu bersahabat. Aku masih melihat orang-orang yang sama, pekerja kebersihan kota itu berdiri dengan jaket coklat seperti biasanya, 2 orang ibu-ibu yang kurasa sepasang kekasih dengan belanjaan mereka, seorang tentara yang begitu banyak bicara dan 5 orang pemuda dengan pakaian rapi yang bekerja di balai kota. Bukanlah volume yang banyak memang, karena masih terlalu dini. Tapi peristiwa penting tak menunggu agak siang untuk terjadi bukan. Kami mengenal satu sama lain karena memang terlalu sering menunggu kereta pada jam seperti ini. Kami saling menyapa, atau setidaknya tersenyum.

Sepertinya kereta pagi itu terlambat, seharusnya 5 menit yang lalu kereta datang. Terlihat seorang lelaki berlari dari pintu masuk stasiun. Terlihat terburu-buru dengan tas di tangannya, sepertinya kereta menunggunya. Karena tepat setelah dia datang, keretapun juga datang.

Kurasa dia bukan penumpang yang biasanya, karena memang baru kali ini aku melihatnya. Dari cara berpakaiannya dia terlihat sebagai seorang penjaga perpustakaan dengan lumayan banyak buku di tangan kirinya dan sebuah tas di tangan kanannya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku. Oh God apa yang dia pikirkan ketika dia tahu aku memperhatikan penampilannya sejak tadi. Aku membalas dengan senyum dan anggukanku juga, dan dengan santai kualihkan pandanganku menuju jendela.

*****

            Hari yang melelahkan memang, dan tak ada berita menarik yang bisa kutulis. Hanya sedikit kabar dari kenaikan harga barang pasar dan kasus-kasus biasa. Dan aku memberikannya untuk media daerah setempat, lumayan untuk mengisi kantongku beberapa hari ini. Dan aku kembali berjalan menuju stasiun dimana aku turun tadi untuk pulang dan beristirahat. Cukup lelah untuk 3 buah berita yang membosankan.

Aku duduk dekat pintu seperti biasa, aku selalu ingin segera keluar setelah kereta berhenti. Aku lapar dan ingin beristirahat. Kulihat pustakawan itu lagi, lelaki pustakawan pagi tadi telah duduk rapi di sisi lain kereta itu. Namun kini dia tak lagi membawa buku-bukunya, dia terlihat memainkan tablet yang dibawanya. Memang bermain game adalah salah satu ide brilian untuk melepas bosan ketika berada di kereta, meski tetap dibutuhkan kewaspadaan penuh untuk itu.

To be continued..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s