Train – Brazil (Part 5)

brazil-rio-de-janeiro-city-wallpaperAku seharusnya tak hanya berputar pada pusaran Illinois bukan? Aku seharusnya berputar di segala tempat. Bagaimana aku dapatkan sesuatu yang besar jika aku hanya menunggu pusaran berita tornado di Illinois? Ah itulah yang selama ini tak pernah kupikirkan. Dan inilah yang kusebut bodoh.

Pagi itu sangat berbeda, aku tak berjalan menuju stasiun. Aku hanya memeluk erat ibuku yang memang tahu tentang keputusanku untuk pergi menuju Brazil. Entah Brazil untuk kota apa, karena aku memang tak memiliki rencana untuk menetap di satu kota. Aku hanya memiliki uang untuk satu minggu, tepat seperti liburan. Tak ada alasan lain kenapa kupilih Brazil, karena memang konflik sangat mudah terjadi di sana. Dan mungkin Negara ini cocok untukku.

Baiklah aku memang mengambil sebuah kelas ekonomi di pesawat, bukanlah hal yang bijak untukku jika harus mengambil kelas bisnis ketika harus mengepres uang untuk hidup di Negara lain selama seminggu saja. Aku sangat bersyukur ketika tahu aku duduk tepat di samping jendela, setidaknya aku tak akan bosan dengan tingkah penumpang lain.

*****

            Oh God, aku seperti hidup di sini. Konflik bisa kutemukan setiap hari, mulai dari kebun opium yang tumbuh di antara taman bunga pribadi seorang warga kaya, hingga kasus pembunuhan tak lazim yang telah umum terjadi. Oh tapi sayang sekali bukan aku yang menemukannya untuk pertama kali, oke setidaknya aku lebih merasa hidup selama 3 hari ini.

Memang halaman rumah adalah tempat ternyaman, apapun yang kita dapatkan di tempat lain tak akan pernah menjadi sama dan senyaman rumah sendiri. Memang di sini begitu banyak yang bisa kutemukan. Tapi tetap saja gelar anak rumahan ku tak hilang begitu saja. Aku mulai merindukan Illinois ku. Sepetak tanah dengan sederhananya tempat berteduh, dan aroma harum rerumputan pagi hari. Sebenarnya tak hanya aroma rumput, tapi juga roti pastinya. Gurih dan membuat setiap perut lapar. Sungguh aku merindukannya. Aku merindukan ibuku, aku merindukan setiap langkahku untuk mencari secuil peristiwa yang mungkin berarti, atau harus sedikit memaksakan ketika badai tiba. Ya, aku sedikit menyukai badai yang datang, tapi ibuku tak menyukai apa yang kusukai itu. Aku merindukan bagaimana kupaksakan mataku untuk tak terpejam di saat masih banyak yang menikmati tempat tidurnya. Aku merindukan stasiun yang setiap hari membuatku menunggu kereta menuju tempat yang kunamakan ladangku. Aku merindukan menunggu bersama petugas kebersihan itu, dua orang ibu-ibu itu, beberapa orang pemuda rapi petugas balai kota, dan… lelaki baru itu. Ya, lelaki itu, petugas perpustakaan itu. Bagaimana kabarnya, apakah dia tetap pada kereta dan jam yang sama, apakah dia tetap dengan gamenya, apakah senyumnya tetap sama. Ah, sungguh aku merindukan semua itu.

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s