Train – Home (Part 6)

House2 (1)Brazil, Brazil, Brazil. Negara asal legenda sepak bola Ronaldo berasal, negara tropis yang tentram dalam covernya, negara dengan patung yesus yang terbesar itu. lalu aku harus membawa oleh-oleh apa untuk Ibuku? Tak mungkin aku memberikan miniature Ronaldo untuknya, ibu tak pernah menyukai sepak bola, apalagi dengan berita kekacauan? Tak mungkin bukan aku menuliskannya berita kekacauan, lebih tak mungkin lagi dengan patung yesus itu, kami bukan umat nasrani. Sedikit pikiran gilaku muncul, bagaimana dengan opium? Oh come on, aku Cuma bercanda. Aku berpikir cukup lama. Memang untuk urusan seperti ini aku membutuhkan pemikiran yang tak sebentar.

Oh ya, aku menemukannya. Apa yang harus kubuat oleh-oleh untuk ibu. Kopi! Brazil adalah penghasil kopi terbesar di dunia, ibuku bisa membuat resep roti baru dengan campuran kopi.  Ya, sedikit menghibur karena akhirnya kudapatkan sebuah ide.

*****

            Ibuku menyambutku dengan pelukan ketika aku sampai di depan pintu. Ya, aku juga menyambutnya dengan pelukanku juga. Aku merindukan ibuku, aku merindukan setiap apa yang ada di Illinois ku. Sayang sekali, aku terlalu lelah untuk melihat Illinois, aku terlelap setelah aku habiskan makan malamku.

*****

            Aku terbangun dengan aroma roti seperti biasanya, aroma yang tak pernah kutemu ketika aku bangun dari lelapku saat di Brazil. Aku berencana untuk tak mencari berita hari ini, aku merindukan toko rotiku. Aku ingin bekerja sebagai tukang roti hari ini. Ya tentunya tak memasak rotinya, aku tak begitu baik dalam memasak, mungkin aku bisa duduk di meja kasir atau mengantar roti yang dipesan oleh pembeli.

Tiga bungkus roti kulahap untuk sarapanku hari ini, hingga membuat ibuku sedikit heran dengan semua ini. Aku hanya tersenyum padanya, sangat lama aku tak merasakan roti buatan ibuku. Dan aku benar-benar lapar. Aku duduk di meja kasir dengan perut yang sangat penuh, aku tak terbiasa makan begitu banyak di pagi hari. Tapi entah pagi ini apa yang terjadi. Bahkan aku sempat mengambil satu buah roti lagi ketika ibuku memberi tahuku bahwa roti dengan rasa kopi yang kubawa dari Brazil telah jadi. Sungguh rasanya begitu enak, namun sayang perutku seakan tak ingin diisi lagi walau mulutku masih mau untuk terus makan, dan memerlukan waktu hingga bermenit-menit untuk mencoba menghabiskannya.

Sungguh aku bosan bekerja sebagai kasir seperti ini, kuputuskan untuk berkeliling di kota hari ini. Aku pamit ibuku, dan berjalan menuju stasiun kereta. Sungguh keberuntungan, aku dapatkan keretaku setengah jam lagi. Aku bisa berkeliling stasiun terlebih dahulu, sambil menunggu keretaku. Aku pergi menuju toko kecil di sebelah stasiun, sepertinya hari ini aku sedang menggemari hal yang dinamakan makanan.

Aku kembali menuju stasiun setelah kurasa cukup perbekalanku. Setelah kereta datang, aku baru teringat aku tak memiliki tujuan kemana. Ya, mungkin aku bisa berkeliling seperti biasanya. Entah kemana.

*****

            Setelah aku sampai di kota, aku benar-benar seperti biasanya tanpa tujuan. Dan terbesit dalam pikiranku untuk menuju ke perpustakaan kota. Aku merindukan melihat buku-buku yang tertata rapi, aku merindukan suasana tenang yang khas. Dan, oh ya dia, lelaki itu, Evan, dia petugas perpustakaan bukan? Siapa tahu aku bisa melihatnya, dia salah satu penumpang kereta, aku merindukan semua penumpang kereta yang sering bersamaku. Jangan berpikir macam-macam.

Aku berkeliling mencari siapa tahu ada buku yang menarikku untuk berpetualang dengannya. Aku pergi ke sains, menarik sekali namun aku kurang memahami istilah-istilah yang mereka tuliskan. Aku mengambil salah satu buku tentang keajaiban-keajaiban alam semesta dalam pandangan sains, ya semoga bisa meruntuhkan mitos yang selama ini kudengar.  Aku mencari tempat senyaman mungkin untuk membaca, dan aku melihat Evan. Evan, dia sedang duduk dan membaca di meja petugas. Dia bosan dengan bukunya, dia menatap kosong buku itu. Dan meletakkan tangannya di bawah pipi kanannya, sepertinya dia lelah. Dia mengambil minumnya, dan dia tahu aku disini. Dia tersenyum padaku, matanya melebar begitupun senyumnya. Dia tersenyum begitu lebar, tak seperti biasanya.

 

To be continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s