Train – Camera (Part 7)

Aku tersenyum, membalas senyum Evan. Namun sepertinya harus tertunda untuk sampai padanya karena sepertinya dia harus bekerja, seorang pengunjung ingin meminjam buku. Dan lagi, banyak sekali yang ingin meminjam buku, hingga tak terlihat lagi bayangan Evan.

Sudah setengah jam aku di perpustakaan, kurasa aku mulai lapar lagi. Evan terlihat begitu sibuk dengan pengunjungnya, aku berlalu meninggalkan perpustakaan dan menuju sebuah kedai makanan pinggir jalan untuk membeli sedikit makanan. Entah ada apa dengan hari ini aku begitu ingin banyak memasukkan makanan untuk perutku. Setelah mendapat makanan, aku melihat sebuah iklan tentang adanya diskon kamera dan segala macam pirantinya di mall tepat di depanku. Tuhan sungguh anugerah, aku langsung pergi menuju tempat itu dengan semangat membaraku.

Aku penggemar kamera, dari mulai termurah, terburuk kualitasnya hingga terbaru, terbaik saat ini, hingga termahal. Tapi sampai saat ini belum kesampaian juga untuk yang termahal. Hehehehehe, belum waktunya.

Inilah yang aku benci dari diriku sendiri, jika telah berkumpul dengan para kamera aku lupa waktuku. Sudah pukul 11 malam, dan aku tetap di mall itu, aku tak pernah lupa waktu hingga semalam itu, aku biasanya pun pulang tepat jam 7 dari rumah. oh God, aku harus cepat sebelum aku menunggu untuk kereta yang sangat malam. Aku berlari menuju stasiun kereta,aku melihat jadwal kereta berikutnya, syukurlah kereta datang 25 menit lagi. Aku bisa bernafas dan berjalan santai menuju tempat tunggu. Begitu sepi tak ada orang satupun di tempat duduk, aku terus berjalan dan terlihat seorang lelaki. Dia tertidur, sepertinya dia begitu lelah, sepertinya juga aku pernah bertemu dengannya. Oh my God, dia Evan. Apa yang dilakukannya? Tidur di stasiun? Bukankah biasanya dia pulang lebih awal? Apa yang harus kulakukan? Kubiarkan saja dia tertidur, tampaknya dia begitu lelah. Kereta juga 15 menit lagi datangnya. Dia begitu indah, walau dia sedang tidur. Oh Tuhan ciptaanMu ini begitu indah dan ada nyata di depanku. Apakah benar dia ini manusia Tuhan? Lalu mengapa Kau ciptakan dia lebih indah dari yang lain?

Belum selesai aku mengagumi keindahannya, aku tersadar 5 menit lagi kereta akan datang. Aku harus membangunkannya, namun kameraku memanggil. Dan aku memotretnya. Aku menepuk pundak Evan, aku tersenyum padanya dan dia mulai membuka matanya. Sepertinya dia mencoba mengumpulkan kesadarannya, dan dia kembali tersenyum selebar tadi. Keretapun datang.

Aku seperti biasanya duduk di dekat pintu, sepertinya Evan tak membawa gamesnya. Dia hanya duduk dan tak melakukan apapun. Dia diam dan sesekali menatapku, tersenyum. Aku menyukainya, maaf maksudku menyukai senyumnya. Kereta begitu sepi saat itu, memang ini sudah terlalu larut. Hanya ada aku dan Evan saat itu. Dan menurutku ini suasana tercanggung saat itu, aku tak begitu mengenal Evan, tahu namanya pun secara tak sengaja. Tapi aku juga tak begitu tak mengenalnya, seperti halnya dengan para narasumberku.

Tunggu, aku tahu nama Evan secara tak sengaja. Dan pasti, dia tak tahu namaku. Oh God, hampir sebulan aku satu kereta dengannya namun kami tak mengenal satu sama lain. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan ketika tahu Evan, tak seperti dengan para penumpang lainnya. Aku tahu, karena dia begitu berbeda dan begitu indah daripada penumpang lainnya.

To be continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s