Train – Marah (Part 9)

gun-and-bloodAku begitu mengutuk kejadian seperti ini, memang hal seperti ini sering terjadi. Tapi apakah seharusnya terjadi? Tidak! Aku benci ketika salah satu di antara kami harus meninggal di tangan seorang militer. Tepat 1 hari yang lalu, Steven Brook seorang jurnalis dari Los Angeles meninggal di tangan seorang angkatan darat karena dia memergoki angkatan darat itu sedang melakukan perjanjian dengan seorang pencuri yang telah lama menjadi buron. Menurut saksi mata Brook tak mau mengalah sedikitpun ketika angkatan darat itu memintanya untuk tak menulis berita itu, bahkan sempat diiming-imingi sejumlah uang. Namun Brook bukan jurnalis abal-abal yang tergoda begitu saja dengan uang. Dia menolak uang itu dan tetap akan menulis berita yang ia dapatkan. Dan sebuah peluru menembus kepalanya tepat setelah dia mempertahankan apa yang ia percayai.

Berita kematian Brook benar-benar membuat Amerika Serikat gempar. Pihak Jurnalis tak terima dengan perlakuan seperti ini. Pihak angkatan darat meminta maaf dengan muka munafik malunya. Namun benar permintaan maaf tak mampu mengembalikan Brook serta kepercayaan masyarakat kepada angkatan darat Amerika Serikat. Military is suck!

Pagi yang begitu menjenuhkan, aku memang tak mengenal Steven Brook. Aku hanya mengenal beritanya yang begitu kuat. Dan kematiannya bukan berita yang biasa-biasa saja bagiku. Di dalam kereta suasananya pun begitu berbeda. Tentara yang biasanya begitu banyak bicara itu tak membuka mulutnya sedikitpun pagi itu. Dia duduk di ujung bangku kereta, dengan diam dan sedikit menkuk mukanya. Kurasa dia terpengaruh dengan kondisi Amerika saat itu, jelas saja. Sesekali dia menatap keluar melalui jendela.

Seperti tentara itu, aku tak begitu mood hari ini. Aku melihat Evan, sepertinya dia tak terpengaruh dengan keadaan ini. Memang seharusnya ini tak mempengaruhinya, aku yakin buku baru yang akan terbit lebih menyita perhatiannya daripada berita besar seperti ini. Huh.

Aku menatap Evan kosong, mencoba mencari senyum yang biasa kudapat. Dia kembali menatapku, namun senyumnya berbeda. Seakan dia tahu krisis yang terjadi saat ini. Seperti sebuah senyuman duka. Aku tersenyum dan berpaling.

*****

            Semarah apapun aku, aku harus tetap mencari berita. Namun kembali aku benci ketika aku membaca berita yang kutulis, semua terkesan aku menulis sebuah kemarahan. Aku harus menulis sesuatu secara spesifik, namun selalu masalah ini terbawa. Mungkin aku harus menulis pandanganku untuk peristiwa ini. Aku tak ingin terus seperti ini.

*****

            Pagi itu aku melihat Evan membawa Washington Post bukan NYP seperti biasanya. Yah mungkin dia mencoba sesuatu yang beda. Amerika masih sedikit terpengaruh dengan peristiwa kemarin. Dan tetap masih sedikit memberikan senyumannya.

To be continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s