Train – Fall (Part 11)

2e0f7026503726e350ad62709a8f9025Sungguh menjadi suatu kebiasaan melihat John, petugas kebersihan yang berangkat dengan kereta pagi bersama dengan kami, mengomel sebelum berangkat bekerja saat musim gugur. Dia selalu mengeluhkan bergerobak daun yang harus dibersihkannya ketika musim gugur tiba. Iba memang, tapi aku juga selalu ingin tertawa ketika dia mengomel. Dan sudah menjdai kebiasaan untukku membawa dua gelas kopi di pagi musim dingin, yang satu untukku dan yang satu untuk John, untuk meredam sedikit omelannya.

Omelan John saat pulang bekerja jauh lebih sedikit ketika pulang dari kerja, mungkin tenaga yang tak sefull pagi hari membuatnya tak banyak mengomel. Namun tetap saja dia pengomel yang tak kenal menyerah, bahkan di tengah lelahnya. Dia selalu saja mengomel seperti malam itu, di kereta saat perjalanan pulang. Beberapa dari kami yang telah mengenal John mendengarkan omelan John dengan sedikit menyisipkan humor. Aku pun tertawa mendengarkan lelucon-lelucon yang terjadang masih sama setiap tahunnya.

Aku selalu tahu ketika ada seseorang yang sedang memperhatikanku, atau mengikutiku. Dan Evan. Dia memperhatikanku, apakah aku tertawa terlalu keras? Oh Tuhan! Aku tersenyum padanya dan menghentikan tawaku. Sekarang dia yang tertawa kecil dan menyandarkan kepalanya ke jendela, sambil melirikku dan tertawa lagi. Aku menatapnya dengan penuh tanda Tanya, apakah ada yang salah denganku? Ataukah aku memang tertawa begitu Ataukah aku memang tertawa begitu keras? Sungguh menyebalkan. Aku mengambil Ipodku, dan mencoba tak menatap Evan yang sepertinya menertawaiku.

Kupejamkan mataku, aku tak ingin menatap Evan lagi. Aku tak ingin tahu bahwa dia sedang menrtawaiku. Dan kereta berhenti, syukurlah sudah sampai. Aku cepat-cepat berdiri dan keluar dari kereta. Aku berjalan dengan cepat, tepat seperti orang bodoh, buronan, atau apapun yang menghindari seseorang yang tak ingin dijumpainya. Walau tak tahu benarkah dia menertawaiku? Stop! Ya, aku hanya sedikit perasa, ya, tak mungkin dia menertawaiku? Aku tak salah apapun. Ya, dan aku sadar. Aku berjalan perlahan, dan mengutuk diriku untuk tindakan bodohku. Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Bahkan aku tak merasa sedikitpun bahwa ada yang salah. Oh Tuhan!

Aku semakin malu, ketika tahu kini Evan berjalan di sampingku. Kembali aku menatapnya dengan heran dan penuh tanda Tanya. Dia tersenyum begitu lebar  dan memiringkan kepalanya. Aku membalas senyumnya dengan senyum paksaku dan kembali aku mempercepat jalanku untuk menghindarinya, sungguh dia begitu mengerikan hari ini. Dosa apa yang kulakukan hari ini hingga Kau memberikanku hukuman seperti ini.

Aku begitu bersyukur begitu aku sampai di rumah. Oh God!! Evan!! Dia ada di dapur, membantu ibuku menyiapkan kue! Apa?! No God! Bagaimana bisa! NOOOOO! Dan kembali dia tersenyum tak seperti biasanya. Oh tidak, no, no nooooo!

Begitu sulit untukku bernafas, aku mencoba mencapai kesadaranku. Thanks God, ini hanya mimpi, thanks God for make me Wake early. That was really really bad dream ever!

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s