Train – Hand on Cheek (Part 13)

Baby-Cheeks-2Iniliah ibuku, tak pernah lelah untuk menjagaku. Walau aku sudah setua ini, pagi ini sepertinya matahari mulai enggan menampakkan dirinya. Udara dinginpun menyapa dengan angkuhnya. Dan ibuku seperti biasanya menyiapkan segala peralatan yang kuremehkan. Sarung tangan, syal, baju hangat. Aku menciumnya, dan memeluknya. Aku mengambil sebuah roti yang masih hangat dan berangkat dengan peralatan yang telah ia siapkan. Jadi teringat hari di mana aku masih berada di bangku sekolah dasar. Ibuku tak pernah meninggalkanku ketika musim dingin tiba karena ibu tahu aku tak menyukai peralatan musim dingin saat itu, mereka terasa sedikit gatal dan tak nyaman. Ia selalu membawakanku roti keju, dan coklat hangat, karena aku yakin itu adalah makanan musim dingin kesukaanku saat itu. aku akan menangis jika aku tak mendapatkannya setiap jam istirahat. Oh Tuhan, aku begitu cengeng saat itu. aku menyayangi ibuku.

Dan masih seperti saat aku di sekolah dasar, aku selalu membawa roti keju saat musim dingin walau bukan lagi coklat sebagai temannya, sepertinya kau lebih jatuh cinta pada kopi kini. Pasti banyak hal yang berubah ketika waktu berjalan, kini pun aku tak memiliki makanan kesukaan. Aku menyukai semua makanan, aku hanya tak bisa memutuskan mana yang paling kusuka.

Kereta datang lebih cepat hari ini, penumpang juga terasa lebih banyak. Sampai banyak yang harus berdiri, terasa kurang normal untuk sepagi ini. Di sampingku duduk seorang anak perempuan, mungkin berusia  6 tahun, dia duduk di samping ibunya yang berjarak 2 kursi dariku. Aku memberikan roti kejuku untuknya, dan dia begitu senang untuk itu.

Oh memang anak seusia Michelle gadis yang duduk di sampingku, begitu enggan untuk menggunakan peralatan musim dinginnya. Memang terlihat begitu menjemukan, dan mungkin sedikit gatal walau sebenarnya penting. Dia terlihat kedinginan dengan terus menggosok tangannya, aku tersenyum dan meminta tangannya, akyu meletakkannya  di pipiku yang sedikit hangat. Lalu Michelle tersenyum lebar, aku menggenggam tangan Michelle yang memang sangat dingin. Aku menggenggam nya dengan kedua tanganku. Syukurlah tangan Michelle berukuran kecil, sehingga kedua tangannya muat pada genggamanku.  Michelle menepuk lembut pipiku dengan kedua tangannya ketika hampir sampai di stasiun. Ibunya berterima kasih padaku karena telah menggenggam tangan putrinya selama perjalanan. Kami turun dari kereta, dan berpisah.

*****

            Aku berencana tak langsung berkeliling hari ini. Aku berjalan menuju sebuah kafe untuk membeli secangkir kopi terlebih dulu, hari ini terasa begitu dingin dari biasanya. Aku memesan secangkir cappuccino dan sebuah roti panggang keju, perutku terasa sedikit lapar. Aku menatap keluar jendela kafe, dan banyak orang yang berjalan dengan sedikit berlari. Cuaca yang begitu dingin membuat mereka tak ingin melengganggkan kakinya begitu lama di tempat terbuka, mungkin.

Yah inilah aku, menyebalkan, impulsive. Terbesit dalam pikiranku untuk tak mencari berita, aku ingin pergi ke museum kota. Aku begitu sering ke tempat itu ketika musim dingin tiba, aku ingin memotret pemandangan kota dari jendela atas museum yang kurasa begitu sempurna untuk sebuah gambar.

*****

            Yah kembali aku yang menyebalkan, tak hanya menuju museum, tapi juga pasar, mall, perkampungan penduduk, sampai wc umum pun aku datangi hanya karena sebuah ide di kafe pagi tadi, pemandangan musim dingin! Hanya dengan tambahan judul, dari berbagai sudut. Dan sekarang hampir tengah malam, dan aku belum pulang. Aku berjalan dengan santainya tanpa memedulikan waktu yang sudah begitu malam. Aku tersenyum melihat berbagai gambar yang berhasil kuambil hari ini.

Aku sampai di stasiun tepat pada pukul 12.00 malam, dan kulihat sudah tak ada orang kecuali para petugas stasiun. Aku berjalan menuju tempat tunggu kereta, aku melihat seorang lelaki sedang mondar mandir di depan tempat duduk yang digunakan untuk menunggu kereta. Evan? Ya, dia tampaknya Evan.  Apa yang dilakukannya di stasiun hingga semalam ini. Dia tahu kedatanganku dan tersenyum, aku membalas senyumnya dan duduk tanpa melihatnya lagi. Karena kurasa gambar-gambar yang kuambil hari ini begitu menarik. Dia terlihat duduk juga, aku melihatnya dari sudut mataku. Tak lama kemudian kereta datang. Hanya ada beberapa penumpang saja di dalamnya. Seperti biasa aku duduk di samping pintu, dan yang tak biasa Evan duduk di sampingku walau masih banyak tempat duduk yang masih kosong, aku menatapnya dan dia tersenyum lalu sibuk dengan ipodnya.

To be continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s