Train – Michelle (part 14)

345231-glove-on-wooden-pole-with-snow-in-the-background--copy-spaceOh God, jam berapa ini? Aku telat untuk bekerja, ini sudah pukul 06.00 pagi. Dan aku baru bangun? Oh crap! Aku segera bergegas menuju kamar mandi, bersih-bersih seadanya dan berlari berangkat bahkan tanpa mengambil roti sarapanku. Oh God, aku ketinggalan kereta pagiku, dan mungkin aku  juga ketinggalan beritaku. Aku mengecek internet di tabku untuk mencari apakah hal penting yang telah terjadi hari ini di Illinois ketika aku di kereta. Dan syukurlah belum ada hal besar yang terjadi.

Bangun terlalu siang, lupa untuk sarapan, terburu-buru, dan wow aku harus kedinginan hari ini, karena hanya sebuah jaket tanpa membawa kaos tanganku. Oh God! Terkadang aku begitu membenci diriku, termasuk hari ini.

Syukurlah Tuhan, Engkau begitu baik padaku. Mungkin aku tak membawa sarung tangaku, namun ketika aku turun dari kereta aku disambut oleh sebuah berita penyanderaan sebuah gerbong di stasiun di mana aku turun. Aku tak bersyukur untuk penyanderaannya, namun aku bersyukur untuk beritaku.

*****

            Tak seperti biasanya, aku berada di stasiun hampir sehari penuh, online, bertanya setiap orang yang kurasa cocok untuk menjadi narasumber mulai dari calon penumpang yang hanya bisa menangis sampai kepala polisi. Memang penyanderaan ini adalah berita penyanderaan yang kuliput untuk pertama kalinya. Aku terus mengirimkan beritaku kepada salah satu media cetak Illinois Post, setiap update. Juga menjadi admin sementara dari portal internet media cetak ini.

Memang terlihat begitu menantang untuk meliput berita ini, namun tak ada baku tembak sedikitpun. Pihak kepolisian mendatangkan ahli komunikasi yang benar-benar baik untuk negoisasi, dengan penjahat. Wow. Dan masalah terselesaikan sekitar pukul 07.00 malam, dan aku akan melakukan finishing untuk hari ini.

Oh tidak, aku mulai bersin kepalaku sedikit pening. Aku segera mengirimkan beritaku, membeli tiket dan selesai sudah. Aku berharap apa yang terjadi hari ini tak terjadi untuk kereta yang akan kunaiki. Amiin. Kulihat Evan berlari dari kejauhan, dia tampak mencari seseorang dengan mata khawatirnya. Dia menatapku, dan kereta datang. Evan kembali duduk di sampingku. Dia menatapku dengan matanya yang sama seperti saat di stasiun.

Tiba-tiba dia tersenyum dan mengambil tanganku yang tak berkaos tangan dan menggenggamnya. Dia tersenyum padaku, dan menepuk-nepukkan kedua tanganku pada kedua pipinya. Lalu dia menggenggam keduanya lagi. Apa yang dilakukannya?

Aku heran, heran padaku pada diriku sendiri. Kenapa aku tak mengambil tanganku?  Aku hanya bisa diam tak mengatakan apapun, dan aku takut untuk menoleh sedikitpun. Aku bersyukur ketika kereta berhenti, Evan tersenyum padaku dan melepaskan genggamannya. Aku membalas senyumnya dan pergi dengan masih merasa aneh, dan canggung. Aku berjalan dengan pelan, dan mencerna apa saja yang telah terjadi hari ini. Today’s Great!

To be continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s