Ibu (3)

23705_XXX_v1-w2000     Inilah, semua inilah yang selalu aku sesalkan. Kenapa selama ini aku mampu menjadi pendengar yang baik kepada kawan-kawanku tetapi aku tak pernah menjadi pendengar yang baik untuk ibuku. Ya Allah, ampuni aku.

Ibu, maafkan aku jika aku selama ini selalu melangkahkan kakiku dari cerita-ceritamu. Selalu menutup telingaku dari suaramu, selalu tak peduli dengan tawa atau tangis dalam ceritamu. Sungguh ibu aku menyesal kini, jika Tuhan izinkan aku mengulang waktu-Nya aku ingin menjadi pendengar baikmu, aku bersedia bu.

Entah apa yang aku hindari, aku selalu berlalu ketika engkau katakan kata pertamamu. Aku selalu merasa bahwa semua itu hanya keegoisanmu. Ibu maafkan aku untuk itu. Entah kenapa setelah ingat semua itu aku merasa bahwa aku membuang waktuku begitu banyak selama ini. Terutama untuk bisa bersamamu ibu. Bahkan aku merasa tak mampu berdiri pada cita-citaku lagi. Selalu ada keyakinan pada diriku untuk terus hidup bersamamu meski dalam cita-citaku yang nantinya akan membawaku hidup tak di sini lagi. Selalu dan selalu ada rencana untuk mengajakmu hidup di sana. Tapi bayangan akan kemungkinan bahwa cuaca, komunikasi, dan keluarga yang tak seperti di sini dan yang tak sesuai denganmu ibu membuatku sedikit gentar.

Ibu, aku begitu ingin membuatmu tersenyum. Aku ingin membuatku tersenyum kini, nanti, dan seterusnya. Aku ingin membuatmu tersenyum di sini, di tempat asing, ataupun di rumahku nanti ketika aku sampai pada pencapaianku walau itu bukan di tempat yang familiar ibu. Ku mohon ikutlah denganku kemanapun aku pergi.

Aku ingin memelukmu sepanjang waktuku, aku juga ingin memeluk cita-citaku. Aku ingin mendengar cerita-cerita masa kecilmu yang penuh petualangan. Yang tak pernah kudapatkan keramahan alam itu. Aku ingin mendengar cerita masa kecilmu yang selalu banyak teman, tak ada teknologi, tak ada media sosial. Kurasa semua itu yang bisa membuat orang-orang dulu lebih mampu menghargai orang lain. Mereka benar-benar “berteman” tak hanya melalui media sosial, yang hanya berteman dengan sesuatu yang tak nyata, yang hanya mengumbar teori tanpa praktek yang nyata dan jelas.

Aku ingink belajar segalanya ibu, aku ingin belajar akan harga hidup yang selama ini kau katakan. Aku ingin belajar segalanya yang kulewatkan selama ini. Ibu, entah aku sedikit marah ketika ingat aku membuang waktuku itu. Aku juga marah ketika ada yang membuang waktuku dengan kebimbangan dan tak jelasnya harapan, aku benci ketika ada yang melanggar janjiku. Aku hanya merasa aku harus memampatkan waktuku untukmu. Aku takut jika Tuhan memanggilku segera. Entah bu, aku selalu berpikir hal itu 3 minggu ini. Aku sungguh takut. Dan aku selalu bersyukur ketika aku dapat melihatmu berada di depanku, aku sakit ketika hanya mampu mendengar suaramu. Aku takut tak bisa memelukmu lagi ibu.

Ya Allah, panjangkan umurku dan umur ibuku ya Allah. Belum cukup bekalku untuk bersama-Mu Tuhan. Belum rela aku meninggalkan kasih dari orang yang paling mencintaiku itu ya Allah. Panjangkan umur kami ya Allah.. amiinnn..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

5 thoughts on “Ibu (3)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s