Train – White Rose (Part 17)

white-rose-bucket-1280x800Semua terasa gelap, begitu dingin dan tak berwarna lagi. Satu bulan sudah aku tak bekerja, terasa seperti tak ada lagi harapan untuk hidup. Aku ingin susul ibuku, satu-satunya orang yang memberiku alasan untuk terus berjuang. Yang sekarang tak ada lagi disini. Pergi, pergi untuk selamanya, karena truck brengsek itu. Karena sopir bodoh yang seharusnya tak hidup di dunia ini itu. Aku tak tahu harus bagaimana kulanjutkan hidupku. Sekarang aku sendiri, tak ada yang lain. Benar-benar sendiri.

Aku berjalan menuju puing-puing toko roti yang hancur bagian depannya. Dan masih terbayang kejadian yang menimpa ibuku sebulan yang lalu. Aku bisa membayangkannya meski aku tak melihatnya secara langsung. Truck itu menghantam toko roti bagian depan begitu keras hingga menghancurkan bagian depan bangunan, menghantam ibuku yang saat itu sedang membersihkan meja-meja pelanggan. Dan pipiku kembali basah oleh air mataku. Musim semi ini, tak akan pernah seindah biasanya. Dimana ibuku selalu memaksaku untuk tak bekerja selama satu hari hanya untuk menata taman kecil di samping rumah kami.

Aku berjalan kembali menuju rumah, dan menemukan sebuket mawar putih di teras.

“I’m sorry for your mother. I realized you never come to train because of this. You should be strong Ellen. I’m here for you, you’re not alone.”

                                                                                                                                                                                                                                                -Evan-

Evan? Bagaimana dia tahu alamat rumahku? Dan kejadian ini? sesaat setelah aku membaca memo kecil itu, tetanggaku mengatakan bahwa seorang pemuda sekitar satu jam yang lalu datang dan menunggu dengan buket bunga ini di depan rumahku. Namun dia pergi setelah menerima sebuah panggilan.

Benarkah aku tak sendiri? Seriuskah dia dengan tulisannya itu? Itulah pertama kalinya Evan berbicara denganku, walau hanya tulisan. Tapi tetap saja tulisan itu tak berarti apapun untukku, meski aku mebacanya seribu kali aku masih tetap merasa sendiri. Tulisan itu juga tak bisa mengembalikan ibuku. Aku hanya bisa menangis dan terus rapuh. Bahkan aku tertidur dalam tangisku.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s