Train – That Way (Part 18)

iStock_Motorcycle-Sunset-680x441Pagi tak pernah cerah, meski pagi ini adalah hari pertama musim semi. Kubuka jendela rumahku, dan menatap jalanan yang begitu sepi. Hanya sebuah motor melintas dengan kecepatan sedang menuju ke arah utara. Lalu tak ada lagi kendaraan yang melintas. Jalan itu, rumput itu, embun itu, semua terlihat begitu suram. Aku menatap rumput yang bergoyang malas itu,  embun memberatkan ujungnya dia seakan tak ingin jatuh walau angin menggoyangkannya. Bunyi motor yang melintas membuyarkan lamunanku. Membuatku melihat sang jalan, yang hanya bisa selalu diam walau akan ada nyawa terenggut. Dia seolah tak peduli dengan apa yang akan, yang sedang, ataupun yang sudah terjadi. Walau dia sebenarnya yang tersiksa untuk selalu diinjak oleh kendaraan, seperti motor yang sedang melintas itu.

Tunggu, bukankah itu motor yang sama? Apa yang dia lakukan? Bukankan dia tadi sudah ke utara? Lalu kini ke utara kembali? Apakah motor kedua yang melintas tadi adalah motor yang sama? Apa yang dilakukannya?! Aku menunggu kedatangannya yang keempat kalinya. Dan benar saja kini dia kembali ke selatan. Apa yang dilakukannya? Apakah dia kehilangan jalan?

Untuk perlintasan yang kelima kalinya, what? Evan? Apakah itu Evan? Benar-benar Evan? Apa yang dilakukannya? Aku pergi keluar rumahku dan membuka pintu pagar. Aku berdiri di luar pagar, dan menunggunya melintas. Kulihat motor yang sama berjalan perlahan dari arah utara, motor itu semakin perlahan dan berhenti tepat di depanku. Dia benar-benar Evan. Aku menatapnya heran dan penuh tanda Tanya. Dia tersenyum seperti orang bodoh, lalu dia membuka helmnya dan turun dari motor. Dia menatapku dengan pandangan yang begitu aku rindukan, dia menarik tanganku dan membawa tubuhku untuk memeluknya. Entah kenapa air mataku tiba-tiba saja mengalir, aku menangis dalam peluknya. Dia mengusap air mataku, dan menatapku iba. Dia mendorong pipiku ke atas dengan kedua telunjuknya , membuat bentuk senyum di bibirku. Lalu dia tersenyum untukku, dan mengambil sebuah coklat lalu memberikannya padaku. Dia memelukku kembali dan mencium pipiku sebelum dia pergi dengan motornya. Apakah dia ingin menenangkanku? Setidaknya aku merasakan sedikit matahari di hatiku. Thanks Evan.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s