Rp 25.000,00 (Dedicated for Mother’s Day)

Puisi Ibu Pagi itu seperti biasanya aku pergi menuju kampus untuk membagi ilmuku kepada para mahasiswaku. Doa dan syukur selalu kukirimkan pada yang maha kuasa, yang telah memberiku nafas dan kehidupan hingga detik ini. Ku awali langkahku dengan basmalah dan membawa mobilku menuju kampus dengan panggilan kampus biru itu.

Aku tiba di ruanganku tepat pukul 06:30 pagi, ku letakkan tas serta berkas-berkas yang kubawa dari rumah. Aku amati tugas-tugas mahasiswaku yang telah terkumpul di mejaku. Aku berencana untuk mengoreksinya pagi ini, karena aku baru ada jam mengajar pada pukul 10:00 pagi nanti.

Kurang lebih pukul 08:45 koreksiku selesai. Tiba-toba saja seorang mahasiswa dengan mata yang sembab bahkan bisa dikatakan sangat sembab menghampiriku. Baru kusadari dia adalah mahasiswa yang berada di bawah bimbinganku. Dia datang bersama dengan ibunya.

“Ada yang bisa saya bantu, Din?” tanyaku padanya.

Mahasiswaku hanya menggeleng dan mulai menitikkan air matanya.

“Pak, sepuntene kulo ten mriki nganteraken Dina. Nopoo kok nilaine namung sak menten? (Pak, maaf di sini saya mengantarkan Dina. Kenapa nilai Dina hanya segini?)” ucap Ibu Dina dengan wajah sedihnya.

Nopoo nilaine bu? (Kenapa nilainya bu?)” aku menjawabnya.

Nilaine Dina kok namung sak menten pak? Padahal Dina niku lare rajin pak. (Nilai Dina kok Cuma segini pak? Padahal Dina itu anak yang rajin pak).” Ibu itu menyerahkan lembar KHS padaku.

Aku melihatnya, KHS mahasiswa yang kini berada di semester empat itu terlihat baik-baik saja bahkan bisa dikatakan memuaskan dengan IPK 3,6.

“Kenapa nilainya bu? Ini sudah sangat bagus bu..” ucapku bertanya.

Oalah pak, nilaine Dina kok namung sak monten. Padahal sampun kulo belan-belani nyimpen arta kulo ben dino. Kulo niki namung buruh tani pak, bapak e Dina sampun sedo. Sedino kulo namung angsal selawe ewu (Rp 25.000,00), kulo simpen limolas ewu (Rp 15.000,00) damel Dina. Sisane sepuluh ewu (Rp 10.000,00) kulo pas-pas aken damel nedo kaleh lare-lare. Mosok sak niki Dina nilaine sak menten? Nilaine adik-adike niku luweh sae tebih dugi niki pak. Kulo nyumun tulung njenengan bimbing Dina seng sae nggeh pak. (Oalah pak, nilai Dina kok cuma segini. Padahal sudah saya usahakan menyisihkan uang setiap hari. Saya hanya buruh tani pak, bapaknya Dina telah meninggal. Satu hari saya hanya dapat Rp 25.000,00, saya sisihkan Rp 15.000,00 untuk Dina. Sisanya Rp 10.000,00 saya pas-pas kan untuk makan bersama anak-anak. Saya tidak menyangka nilai Dina hanya segini? Nilai adik-adiknya bahkan jauh lebih baik dari ini. Saya minta tolong anda bimbing Dina dengan baik ya pak.)” ucap sang ibu sambil menitikkan air matanya.

Aku masih tercengang dengan apa yang dikatakan ibu Dina, penghasilan Rp 25.000,00 sehari? Dan disisakan Rp 15.000,00 untuk Dina? Lalu Rp Rp 10.000,00 untuk makan bersama anak-anaknya? Bagaimana ibu itu melakukannya? Aku mencoba mengendalikan air mataku, dan memberikan penjelasan pada sang ibu.

“Ibu, nilai Dina ini sudah sangat bagus. Nilai tertinggi di kampus itu hanya empat bu, jadi nilai Dina ini sama dengan sembilan kalau disamakan dengan nilai adik-adiknya.” Ujarku sambil menyodorkan kertas berisi penyetaraan nilai Dina (3,6/4 X 100 = 90).

“Lho ngaten tah pak?” ibu Dina memandangku bahagia dan terharu.

Lalu masih di depanku sang ibu Dina meminta maaf pada Dina. Beliau memeluk Dina dan mereka berdua menangis. Begitu pun aku, air mataku mentes melihat mereka berdua. Inikah mahasiswaku selama ini? Seorang yatim? Dan ibunya seorag buruh tani dengan penghasilan Rp 25.000,00 per hari? Bagaimana aku menjadi tidak peka selama ini? Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini.

Aku menulis sebuah memo untuk PD 3 (pembantu dekan 3 : bagian kemahasiswaan termasuk beasiswa).

“Pak, ini titipan Tuhan. Tolong carikan beasiswa tertinggi untuk anak ini. Kalau bapak tidak mengusahakannya betapa buruknya kita karena tak membantunya.”

Kukemas rapi memo itu dalam amplop, dan menyuruh Dina untuk mengantarnya pada PD 3. Tak lama kemudian PD 3 meneleponku, dan menanyakan hal itu. Ku ceritakan segalanya, dan beberapa bulan kemudian Dina memperoleh beasiswa dengan jumlah tertinggi saat itu, yaitu sekitar Rp 1.100.000,00 per bulan.

Kini Dina mahasiswaku yang pandai itu, selalu mengunjungiku setiap kali dia pulang dari Jakarta. Dia bekerja sebagai staf di UNDP (salah satu badan yang dibentuk PBB) di Jakarta. Aku seringkali menegurnya karena dia selalu menjadikanku kunjungan pertamanya sebelum pulang ke rumahnya. Namun inilah yang selalu dikatakannya, “Saya langsung ke rumah bapak karena saya tidak bisa pulang terlebih dahulu, karena tak ada bandara di desa saya bapak. Jadi saya dari bandara ke rumah bapak lalu pulang ke rumah, begitu pak.”

Aku bahagia dan bersyukur melihat mahasiswaku berhasil. Aku juga bersyukur kepada Allah karena memberiku kesempatan untuk tahu kondisi Dina yang sebenarnya. Semoga generasi muda semakin gigih dan semangat untuk berjuang mencapai cita-citanya. Dan memerangi kemiskinan yang ada di negeri tercinta, Indonesia ini.

Based on true story. 🙂

Semoga kita adalah generasi yang bisa membuat ibu kita tersenyum. Amiin..

Terima Kasih ibu..

 

“Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com” 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s