Train – My News? (End)

newspaperSeperti biasa aku berangkat pukul 06.00, tak lagi sepagi di Illinois. Dan aku bisa tidur lebih lama, dan itu menyenangkan (?). Menyenangkan? Benarkah??

Mandi, berkemas, berjalan, dan sampai. Bukan lagi mandi, berkemas, sarapan roti, berjalan, menunggu, naik kereta, dan sampai. Hahaha, setidaknya siklus itu lebih “hemat.” Hari ini enam bulan tepat aku berada di DC, tapi tetap tak semudah itu menyamankan diri seperti di Illinois tanah kelahiranku. Sebenarnya aku ingin kopi, tapi aku tak bisa meminumnya di pagi hari lagi. Dokter melarangku melakukan hal itu, karena kondisi lambungku kini berbeda. Oh God. Aku hanya membeli 2 muffin, dan sebuah cupcake (karena toppingnya yang lucu) untuk mengganjal perutku sebelum aku berkelana. Aku berencana untuk pergi ke kantor terlebih dulu hari ini, aku ingin mengecek beberapa benda di mejaku karena sepertinya salah satu catatanku tertinggal.

Aku kembali melihat orang-orang yang sama dalam kehidupanku, maksudku orang-orang yang sama setiap harinya di kehidupan baruku. Mereka menyapaku dan tersenyum, mereka terlihat bahagia hari ini, senyuman yang lebih lebar, dan ramah. Wow, kurasa hari ini bukan hari Jumat, hello guys today is Monday the most sh*t day ever! Atau adakah even baru dari Washington Post? Benarkah? Apakah liburan? Woooow. Maaf terlalu menghayal.

Masuk lagi ruang kotak-kotak bagai kavling-kavling kecil perumahan padat penduduk, segerombol teman sesama wartawan menubruk dan memelukku, mereka mengucapkan selamat untukku. Aku masih tercengang, apakah aku memenangkan liburan? Benarkah? Mereka hanya tersenyum dan berlalu untuk bekerja. Dan seorang rekanku yang lain mengatakan padaku bahwa dia menangis saat membacanya. Membaca apa? Apa berita yang kutulis kemarin? Kurasa aku kemarin menulis berita untuk pertemuan kongres, atau feature itu? Oh ya bisa saja, aku menulis tentang kepadatan penduduk dan kemiskinan. Tapi, apakah sebagus itu? Selama ini aku menulis hal-hal seperti itu tapi mereka tak seheboh ini. Aku penasaran dengan bagaimana tulisanku, aku mengambil eksemplar Washington Post di atas mejaku. Aku baca tulisan-tulisan yang kubuat, aku mencoba mendalaminya. Tapi apa? Aku kok gak nangis? Ataukah aku mendapat paket liburan untuk tulisanku ini? Apakah aku harus ke ruang bos sekarang? Sungguh aku akan benar-benar bersyukur jika itu terjadi. Tapi selama ini yang kutahu selama 6 bulan tak pernah ada paket liburan. Dan jika ada reward pun, kami akan dipanggil melalui memo atau telepon atau apapun. Lalu benarkah ini tidak jadi paket liburan? Come on!

Entah kenapa aku frustasi sendiri gara-gara harapan paket liburan itu, aku enggan beranjak padahal sudah pukul 07.00. Aku meninggalkan koran, kuambil kamera dan pergi berkelana. Aku pergi berjalan sepanjang jalan-jalan berpolusi itu. Ada seorang anak kecil menarik-narik baju ibunya dia menunjuk-nunjukku dan dia tahu namaku. Bagaimana bisa? Oh ya, aku memakai kartu pers ini.

Kota ini memang masih begitu asing untukku, tapi aku menyukai kebiasaan membaca di sini, kurasa jauh lebih baik dari Illinois. Khususnya tempatku tinggal. Aku mengambil segala gambar di depanku yang menurutku menarik. Dan seseorang menepuk pundakku.

“Is that you?” wanita itu menunjuk salah satu foto di halaman Washington Post.

Aku tercengang, aku hanya menganggukkan kepalaku dengan wajah shock. Aku menarik perlahan koran itu untuk kubaca sedikit demi sedikit. Aku hanya bisa menutup mulutku. Kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul hingga aku selesai membaca tulisan itu. Aku menatap wanita yang meminjamkan korannya padaku, masih dengan wajah bingungku. Dia tersenyum, dan memberikanku selamat disusul dengan orang-orang yang ada di sekitarku dan membacanya.

Aku berlari menuju Federal Triangle Metro Station, masih dengan menggenggam Washington Post.

—-.—–Washington Post—–.—–

Evan Jefferson’s

            Hai, Ellen. Aku tahu ini aneh, mungkin bisa dikatakan gila. Maaf Ellen tapi aku tak tahu bagaimana membuatmu kembali lagi. Ternyata kata-kata juga sepenting tindakan, selama ini kita tak pernah berbicara, satu katapun. Aku pikir sudahlah cukup untuk menunjukkannya padamu dalam bentuk tindakan, aku mengerti hampir semua perasaanmu dari mata, cara berjalan, senyuman, tindakanmu serta bagaimana kau memelukku. Dan aku baru menyadari ketika kesalahpahaman yang  begitu besar terjadi antara kau dan aku. Aku membaca suratmu pada Farah, Farah Jefferson adikku, bukan istriku. Dia adalah wanita yang kau lihat bertengkar denganku di restaurant pagi itu, aku bercerita padanya tentang semua perasaanku padamu. Dia memberikan ide untuk melamarmu di kereta saat itu. Aku bukanlah orang yang bisa menyimpan sesuatu dengan baik, dia menyarankanku untuk memakai cincin yang akan kuberikan padamu karena aku tahu jarimu hampir seukuran denganku. Namun ternyata itu membuatmu berpikir aku adalah pria beristri, oh Tuhaan itulah yang belum kupikirkan sebelumnya. Aku begitu menyesali apa yang aku lakukan ketika aku tahu itu terjadi. Saat itu aku marah, aku menyalahkannya untuk ide gila yang disebutnya manis dan klasik itu, walau sebenarnya di hanya ingin membantu. Ellen, mungkin memang seharusnya kita sering bertukar kata, tak hanya apa yang selalu kita lakukan di kereta. Menatap, tersenyum, saling menggenggam tangan, kita harus bicara Ellen. Kita juga harus pergi ke stasiun kecil Illinois bersama, membeli tiket bersama, menunggu kereta bersama, makan, berjalan, naik kereta, bahkan menatap matahari pagi saat terbangun bersama. Ellen, mungkin aku adalah sesuatu dalam kotak yang belum kau tahu bagaimana aku sepenuhnya. Aku juga bukan orang yang pandai merangkai kata seperti kau, tapi maukah kau menikah denganku? Would you marry me Eleanor Holmes?

 

PS : Federal Triangle Metro Station, Washington DC.

 

Aku sampai di Federal Triangle Metro Station dengan nafas tersengalku, tak yakin aku langkahkan kakiku ke dalamnya. Bagaimana jika aku hanya dibohongi? Bagaimana kalau dia berubah pikiran dan tak ada di sana? Aku berjalan tak begitu cepat, aku menelusuri stasiun itu perlahan. Dan aku melihatnya duduk bersama Farah (kurasa) di tempat tunggu. Aku menatapnya dari lantai atas, Farah menemukanku dia melambaikan tangannya dengan antusias dan memukul pundak Evan. Aku berjalan perlahan menuju mereka, Evan menatapku canggung begitu pula aku. Hampir setahun kami tak bertemu, dan..

“I love you Ellen, I love you so much.” Evan memelukku erat.

Kupejamkan mataku dalam pelukan itu sungguh aku merindukannya. Entah gravitasi terlalu kuat saat itu atau bagaimana, air mataku jatuh.

“I love you.” Aku menatapnya dan tersenyum.

“Ellen, what’s your answer? Would you? Would you marry me Eleanor Holmes?” dia berlutut di depanku.

Tuhan! Tolong jangan biarkan dia melakukan itu, aku tak tahu harus bagaimana? Aku ikut turun dan menekuk lututku juga. Aku menggenggam tangannya yang mengacungkan cincin padaku.

Aku tersenyum dan menangis untuk itu, aku masih tetap menggenggam tangannya.

“I do, I do, Evan.”

–The End–

Finished at 10:38 PM

Tuesday , October 22nd 2013

Kamar Kos, Dinoyo, Malang

Should I continue it? 😀

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s