Train 2 – Us (Part 1)

babysbreathrealsimple Aku masih tak percaya jika kini aku bukanlah gadis kecil lagi. Dua puluh delapan tahun menghirup udara di planet yang bernama bumi ini, mencoba bersahabat dengan segala keadaan yang menyenangkan atau ingin dibuat menyenangkan. Seperti halnya dongeng Cinderella dan Snow White yang selalu kukagumi, dan ingin kupercaya bahwa itu benar. Indah, dan selalu berakhir bahagia meski susah untuk menghabiskan bagian awalnya karena penuh penyiksaan dan penderitaan. Aku benci hal-hal negatif seperti itu. aku hanya menyukai bagian cerita yang bahagia, romantis, penuh dengan tawa, dan tentunya akhir bahagia.

Dari segala unsur kebahagiaan yang terkandung dalam cerita, bagiku akhir bahagia adalah unsur terpenting dan paling menarik sehingga aku lebih menyukai film ataupun buku yang bisa dikatakan sadis, menyedihkan, tapi berakhir bahagia daripada yang penuh dengan keromantisan dari awal namun akhir dari cerita tersebut adalah mengenaskan. Aku kurang menyukai yang seperti itu.

“Ellen, Evan menunggumu di bawah.” Ucapan Sidney membuyarkan lamunanku.

“Oh, Ok. Thanks.” Aku tersenyum padanya.

Sidney mengacungkan jempolnya sambil berlalu pergi bersama kopinya.

Apakah ini salah satu akhir bahagia dari ceritaku? Lelaki yang kini menungguku di lobi bawah apakah pangeran seperti yang dimiliki Snow White ataupun Cinderella? Haha. Kurasa bukan, karena memang dia bukanlah seorang pangeran, dia adalah seorang pustakawan yang tiga bulan lalu melamarku melalui kolom opini Washington Post dan berlutut di depanku di Federal Triangle Metro Station, Washington DC memintaku untuk menjadi istrinya.

Aku selalu tertawa mengingat apa yang dilakukan Evan untuk melamarku, sampai kinipun aku masih menyimpan satu eksemplar penuh Washington Post edisi 7 Juli 2016 tersebut. Setidaknya eksemplar itulah yang menjadi kuda putih dari seorang pangeran yang sebenarnya bukanlah pangeran yang menginginkanku. Hahaha

Aku turun menuju lobi, dan melihat Evan sibuk dengan koran yang dibacanya dengan serius, lagi-lagi Washington Post. 😀

“Bagaimana isi kolom opini hari ini?” aku menanyai wajah sibuknya itu dengan senyum.

“Hai sweetheart,” dia memelukku dan mencium pipiku.

“Kolom opini tak sebagus tanggal 7 Juli lalu.” Evan melanjutkan kalimatnya dan tertawa.

Hari ini kami berencana untuk terbang menuju Illinois menentukan segala persiapan pernikahan yang akan kami lakukan kurang lebih 2 bulan lagi. Sudah 5 hari ini Evan berada di DC untuk membicarakan pernikahan kami.

Meski  keluarga Evan akan menangani detail pernikahan kami nantinya, kami tetaplah yang menentukan bagaimana konsep kasar acara nantinya. Ternyata bukanlah hal yang mudah untuk menyatukan pikiran kami berdua. Terlebih karena tak ada kerajaan yang biasanya di dongeng memiliki bagian untuk mengatur pernikahan. Hahaha. Seperti halnya ketika kami membuat kesepakatan menganai gaun pengantin. Aku pikir aku akan memiliki bagian sepenuhnya mengenai gaun, tapi Evan selalu saja menambahkan “opini”nya. Awalnya aku memilih gaun berwarna putih dengan tema summer yang anggun dan klasik, namun Evan lebih menyukai jika aku memakai gaun bertema winter dan lebih terkesan ceria. Aku tak menyukai apa yang dipikirkan Evan, karena menurutku akan terlalu childish nantinya. Namun satu alasan yang membuatku benar-benar menyetujui apa yang Evan sarankan, yaitu setelah designer gaun itu mengatakan akan memberikan kesan anggun dan klasik pada gaunku juga setelah Evan mengatakan,

“Jangan lupakan sarung tanganmu lagi yaa.” Evan mengusapkan kedua tangannya pada

pipiku.

Aku tersenyum dan teringat kejadian di kereta saat itu, ketika Evan mengusapkan tangannya pada pipiku yang dingin, dan mengenggam tanganku sampai kereta berhenti karena sarung tanganku yang harus tertinggal di hari musim dingin saat itu. oh Tuhan, gaun ini akna menjadi berarti. Kami keluar dari toko gaun itu dengan kesepakatan gaun winter dan tuxedo hitam untuk Evan.

Tak hanya ketika gaun dipesan, tetapi juga saat pemilihan tema dan tempat yang akan kami gunakan untuk pesta pernikahan. Namun syukurlah semua itu bisa teratasi dengan baik. Hanya satu masalah yang membuatku hampir menyerah untuk pernikahan ini.

Malam itu, kami membicarakan konsep pernikahan kami di apartemenku. Kami membicarakannya dengan santai dan banyak sekali candaan di dalamnya meski beberapa kali kami memiliki beda pendapat dan teratasi. Namun terlintas di benakku saat itu..

“Evan, bagaimana aku bisa melakukannya tanpa ibuku?”

“Honey, yakinlah semua akan berjalan dengan lancar. Ibumu akan bahagia melihat kita berdua.” Evan menghiburku.

“Tapi Evan, selama ini ibuku yang selalu mendampingiku. Aku bahkan tak bisa menyelesaikan pekerjaanku tanpa ibuku. Evan.. I’m afraid. I’m afraid I mess it.” Aku mulai menitikkan air mataku.

Saat itu aku benar-benar mengkhawatirkan pernikahanku yang akan terjadi tanpa ibuku. Ibuku selama ini adalah orang yang membuatku percaya akan segala yang sebelumnya aku tak percaya bisa melakukannya. Aku menangis, Evan memelukku.

“Ellen, everything’s gonna be alright. Tenanglah sayang, kau menyelesaikannya dengan baik sampai sekarang. Kau tahu? Ibumu selalu percaya bahwa kau bisa melakukannya. Oke? Aku ada di sampingmu kapanpun kau membutuhkanku. Oke..”

“Tapi Evan, aku selalu mengacaukannya di akhir. Dan ibuku selalu mencegahku untuk melakukan hal itu. Bagaimana jika nanti aku akan mengacaukannya Evan? Aku takut Evan. Siapa yang akan mencegahku? Aku tak tahu siapa lagi yang…”

“Kau tahu? Kau tak sendiri sayang.. aku disini, ibuku, ayahku, juga Farah tak kan membiarkanmu sendiri. Mereka keluargamu juga, tenanglah Ellen.”

Evan memelukku dan tangisku mulai reda, aku teringat pada keluarga Evan yang menerimaku dengan tangan terbukanya. Aku meyakinkan diriku bahwa mereka akan menyayangiku, bahwa aku tak akan mengacaukan pernikahanku, dan aku tak sendiri.

To b continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

2 thoughts on “Train 2 – Us (Part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s