Sunset dan Terbitnya Harapan

Another naive story that i wrote when high school. But I like it, because i wrote when I see the world in black white, and no other colors. So, happyy reading 🙂

Photo0256

 

Dia, matanya selalu menatap senja di tepi pantai Maurena. Melukis indah mentari yang hampir terlelap, di dalam galau benaknya. Firman Adiputra, seorang Direktur perusahaan makanan terapi Diabetes. Setiap sore, disempatkannya waktu yang begitu padat untuk sekedar menikmati sang surya yang berjalan menuju tempat teduhnya. Dia begitu focus terhadap perjalanan sang surya yang menyemburkan mega yang indah, merah kekuning-kuningan. Pemandangan yang takkan dia jumpai di dalam kantor, yang selama ini menghadupinya. Mungkin, kejenuhanlah yang mengantarnya pada tempat itu.

 

“Damai, teduh, indah, dan sejuk,” ucap Direktur muda itu.

 

Setelah senja berganti dia berjalan menuju mobil Mercedes berwarna hitam. Dan terus mengendarainya menuju gedung peraduannya.

*****

Masa yang tak sejenak bersama pantai Maurena, membuatnya mau tak mau berinteraksi dengan lingkungan social sekitar pantai itu. Tentu, kawasan itu dipenuhi oleh nelayan, karena sumber kehidupan yang tersedia bertiang pada air dan segala yang ada di dalamnya.

 

“Seneng lihat sunset ya mas????” gertak seorang pemuda dari arah belakangnya.

 

“Eh, iya mas, sambil nyante aja,” jawabnya santai.

 

Pertemuan itu, menjadikan mereka berdua sebagai sepasang sahabat, yang menyebabkan perubahan besar pada diri Firman.

 

******

            Firman adalah seorang direktur yang patut menjadi panutan. Dia begitu tegas, ulet, bijaksana, bertanggung jawab, dan cepat mengambil keputusan. Dia juga begitu patuh terhadap semua perintah dan nasehat orang tuanya. Segala amanat, perintah, dan tuntunan dari ayahnya selalu dia terapkan. Namun, ada satu sifat dari ayahnya yang tak begitu ia suka.

*****

Seperti biasanya, menjelang senja dia pergi menuju pantai Maurena. Di sana, hilanglah semua penat yang ia hadapi selama satu hari. Dia berbincang dengan sahabatnya, membicarakan segala masalah yang tengan terjadi di antara mereka.

 

“Iya sa, aku juga bingung. Kenapa manusia itu tak pernah mampu bersyukur terhadap semua yang telah diperoleh?!” ucap Firman.

 

“Kamu sih enak, pekerjaan tetep, gak bingung kalau ada badai, musim ganti-ganti! Lha aku??!” balas Musa, sahabat Firman.

 

“Kamu ini bisa aja. Kita itu sama lagi, kalau kamu hadapi badai dan ganti-ganti musim alam. Tapi kalau aku, badai dang anti-ganti musim keuangan perusahaan!” ujar Firman.

 

Perbincangan itu berakhir bersama berakhirnya senja. Firman kembali ke kantornya, tak disangka ternyata ayahnya telah berdiri di dalam ruang kerjanya.

 

“Dari mana kamu Firman?” Tanya sang ayah.

 

“Aku dari pantai Maurena yah! Capek di kantor terus.” jawabnya.

 

“Firman, seharusnya seorang pimpinan itu tak boleh meninggalkan kantor hanya karena aktifitas yang tiada artinya!” nasehat ayah.

 

“Aku jenuh yah, seharian mikirin perusahaan doank. Lagian tadi udah gak ada pekerjaan kok.”

 

“Firman, gimana jika ada kunjungan mendadak untuk kerjasama proyek, tapi kamu gak ada di tempat?”

 

“Iya ayah, maafin Firman.” ucapnya.

 

*****

            Hari ini, Firman menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke rumah Musa. Dia begitu pandai menempatkan diri di kawasan itu. Sehingga kedatangan-kedatangan selanjutnya selalu diterima oleh warga kampung nelayan itu. Warga kampung begitu menyukainya, karena sifat hormat, ramah-tamah, sopan dan ringan tangannya. Dia selalu menyapa semua warga kampung yang dijumpainya, meski dia tak mengenal siapa yang disapanya itu.

 

******

            Pagi itu, Firman bertekad untuk mengirim satu truck box makanan khusus diabetnya untuk warga kampung nelayan. Karena setelah lama ia berinteraksi dengan kampung itu, ternyata lebih dari separuh warga menderita diabetes. Firman juga memanggil dokter khusus untuk mengobati penyakit itu. Rencana itu terlihat berjalan mulusawalnya, namun di tengah perjalanan 1 mobil Mercedes berwarna silver silk dan 2 mobil Range rovers sport hitam di belakangnya menghadang mobil Firman dan truck box yang berjalan di belakang mobilnya.

Ternyata, mobil itu adalah mobil sang ayah yang telah mengetahui rencananya. Sang ayah keluar dari mobilnya, dan konflik pun tak terelakkan. Firman berusaha meyakinkan ayahnya, namun ayahnya menutup mata, dan telinganya, termasuk hatinya.

Keinginan Firman untuk menolong sesama, gagal!! Namun, Firman bukanlah orang yang mudah putus asa. Dia akan terus berusaha sampai mendapatkan keberhasilan.

 

*****

Seminggu telah berlalu, setelah peristiwa itu Firman tak pernah mengunjungi pantai Maurena juga tak pernah sekali pun tak pernah berbicara dengan ayahnya. Dia jalani kehidupan yang monoton seminggu itu.

Malam yang sunyi, gelap, dan hampa. Membuat Firman terlelap di meja kamarnya. Di depan laptop apple machintosh yang masih menyala. Dalam lelapnya, Firman bermimpi tentang hancurnya kampung nelayan. Semuanya mati, membusuk. Dan, satu orang pemuda yang tak lain adalah Musa, berdiri di tengah mayat-mayat dengan menggendong mayat yang tak berbentuk manusia lagi. Wajah mayat itu familiar, dan itu adalah Firman. Membusuk, penuh dengan belatung dan lalat.

 

Musa berkata, “Firman, jangan biarkan semua ini terjadi!”

 

Langsung, Firman tersentak dan mulai membuka matanya. Dia menelepon beberapa orang, dan terlihat mengeluarkan Mercedes black metallic dari garasi rumahnya. Ternyata, dia telah menyiapkan rencana untuk mengganti rencana yang gagal. Namun, ternyata untuk sekali lagi sang ayah juga telah menghadang rencananya. Firman yang telah merencanakan untuk melewati jalan yang lain, ternyata sang ayah juga telah mengetahuinya. Karena tanpa sepengetahuan Firman, sang ayah telah memasang kamera CCTV pada mobil, kamar, dan ruang kerja Firman.

Ayah Firman tak dapat meredam emosinya lagi. Di tengah jalan itu juga, akhirnya Firman diusir oleh ayahnya. Dan, tak diperbolehkannya ia kembali untuk perusahaaan atau pun rumahnya sendiri.

Malam itu, Firman tak terlihat lagi sebagai seorang bangsawan layaknya waktu yang lalu. Dia berjalan sendiri, sepanjang jalan yang tak sesuai dengan harapannya. Dia tak tahu, harus kemana dia langkahkan kakinya. Hatinya tak kuasa meredam kecewa, marah, dan menyesal. Ternyata, Tuhan tak meridhoi keinginannya, pikirnya saat itu. Dia terus melangkah walau telah hilang arah. Dia hentikan langkahnya, pada mata Maurena. Dia terlelap, dengan alas pasir lembut menusuk, ditemani angina semilir yang menyelimuti hatinya.

 

*****

Dia terus menghilang, terbang menuju angkasa, hingga dia temukan kembali, sadarnya. Ternyata, saat dia terlelap Musa mengangkatnya menuju rumah sederhana, yang tak lain adalah rumah Musa. Saat itu, Firman menceritakan segala yang terjadi., dan tak dapat dipungkiri, Firman down! Setelah diceritakan semua, Musa dan keluarganya mencoba tenangkan kekalutan hatinya.

 

*****

            Sebulan telah berlalu, dan sebulan itu pun Firman hanya mampu terdiam tak bicara sedikitpun. Hingga suatu ketika, berita kematian seorang warga kampung nelayan sampai di telinga Firman. Saat itu, Firman sadar bahwa tiada guna dia sesali semua dan hanya terdiam untuk waktu yang lama. Karena berita kematian warga penderita diabetes itulah yang membuat Firman bangkit. Di dalam hatinya tertanam kewajiban untuk menolong penderita penyakit mematikan itu.

Waktu demi waktu dia pikirkan apa yang harus ia lakukan. Firman bukanlah orang yang bodoh, dengan kepandaiannya dia manfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitarnya untuk meracik makanan terapi penderita diabetes. Awalnya makanan itu, hanya mempu meredam rasa sakit saat penderita diabetes kambuh. Namun, lama-kelamaan makanan ini berkembang sehingga mampu menyembuhkan secara total penyakit mematikan itu. Firman juga mulai mencoba mendistribusikan hasil eksperimennya ini. Harga yang tak melejit, membuat semua kalangan masyarakat mampu mengkonsumsinya.

 

*****

            Lama sudah Firman menjalani usaha ini, usaha yang tak hanya memberikan keuntungan bagi dirinya, namun, juga bagi semua. Hingga suatu ketika, dia membeli sebidang tanah dan membangun gedung perusahaan makanan terapi itu, dengan tabungan hasil kerja kerasnya. Perusahaan itu mengalami persoalan saat pembangunan, hingga Firman harus menghentikan pembangunan gedung mewah itu. Namun, semua itu tak berlangsung lama. Karena Tuhan selalu ada di dekatnya. Warga, terutama Musa berinisiatif untuk membantu Firman. Gedung itu dibangun secara gotong royong oleh wargakampung nelayan. Dan akhirnya, selesailah gedung mewah itu.

 

*****

            Dua tahun telah berlalu, perusahaan Firman telah memiliki kedudukan tersendiri di hati masyarakat. Sampai suatu waktu, dia memperoleh undangan untuk menghadiri rapat tahunan 10 perusahaan terbesar di Indonesia. Untuk yang pertama, dia dapat dan hadiri undangan yang memiliki komposisi terbatas dan bergengsi itu.

Dia datang dengan kewibawaan yang tinggi. Dan di sanalah dia bertemu dengan ayahnya. Mereka saling bertatap dan akhirnya dengan bersamaan mereka berpelukan.

 

“Firman, ayah bangga padamu!” bangga sang ayah.

 

“Terima kasih ayah, Firman tak kan jadi seperti ini tanpa restu ayah!”

 

“Ternyata, orang yang memiliki ketulusan sepertimu akan selalu mendapatkan pertolongan Tuhan. Ayah juga sadar, egois dan rasa tek pernah peduli ayah terhadap orang lain, tak pernah ada manfaatnya. Terima kasih Firman, kau sadarkan ayahmu ini!”

 

“Alhamdulillah, akhirnya ayah merasakan semua itu.” ucap Firman.

 

Mereka berdua pulang ke rumah masing-masing. Dan selang beberapa waktu kemudian, mereka bekerja sama, yang mampu menembus pasar Internasiolnal, dengan ketulusan hati mereka.

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s