Catatan Kecil dari Tanah Jeumpa

High school’s too.

Happy reading 🙂

aceh

Perkenalkan, aku Irfan, wartawan sebuah televisi swasta Nasional. Aku lulusan terbaik Universitas Indonesia (UI) jurusan Komunikasi Massa. Sungguh berat hidup yang kujalani, aku harus bekerja siang malam hanya untuk gaji yang tak seberapa. Lamunanku terbangunkan oleh dering telepon dari Pimred Seputar Indonesia. Hari ini aku harus langsung berangkat menuju Aceh.

*****

            Bencana tsunami telah menyisir habis daerah NAD dan sekitarnya. Semua jalan, dipenuhi dengan reruntuhan bangunan, serta Lumpur yang masih pekat menggenang. Ku susuri jalan-jalan berlumpur di tanah Jeumpa ini. Dan, aku sampai di tempat pengungsian di mana korban gempa dan tsunami tinggal. Terlukis jelas di wajah mereka kesedihan yang mendalam. Tangisan-tangisan masih membasahi pipi mereka. Pandanganku tertuju pada seorang balita dengan luka di dagunya, dan dia memeluk sebuah buku kecil yang menurutku sebuah agenda. Dia terlihat bingung, dengan mata berkaca-kaca. Aku mendekat menghampirnya.

“Adek… adek cari siapa?”

Dia tak menjawab pertanyaanku, malah dia menangis terisak seraya memelukku. Mungkin dia ketakutan akan bencana itu.

Aku mencoba bertanya kepada seluruh korban tentang balita ini. Namun tak satu pun yang mengenalnya. Hari sudah larut malam, aku memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah sementaraku, yang terletak + 3 km dari tempat pengungsian.

*****

            Sesampai di rumah aku menidurkannya. Aku heran, mengapa dia begitu tak ingin melepas buku kecil itu dari genggamnya. Sampai dia tertidur pun, dia masih tetap memeluk erat buku itu.

“Ah… biarlah, mungkin itu buku cerita kesayangannya,” gumamku.

Pagi hari, setelah aku merawat balita yang masih belum ku tahu namanya ini, aku berangkat ke tempat pengungsian untuk meliput perubahan-perubahan yang tak banyak terjadi di sana. Aku menuju kantor ketua penanggung jawab pengungsian setelah peliputan selesai, untuk menanyakan kerabat balita ini, yang tak kunjung mencarinya.

*****

            Seminggu telah berlalu, namun masih tak ada satu pun orang yang mencari anak malang ini. Aku tak bisa meninggalkannya sendiri di sini. Sementara besok aku harus pulang ke Jakarta. Namun, jika aku membawanya pulang, akankah orang tuaku menyetujui niatku ini??! Ah… aku tak peduli. Dengan sedikit rundingan bersama Kepala Penanggung Jawab Pengungsian, aku membawanya pulang ke Jakarta. Alhamdulillah, sesampai di rumah, orang tuaku mau menerimanya.

Satu tahun telah berlalu, dia mulai mampu beradaptasi dengan keadaan. Dan dia mulai memperbolehkanku membaca buku itu, yang ternyata, hanya ada selembar penuh tulisan tangan. Aku membacanya, tulisan itu berisi:

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Aku Harun, anak dari seorang TNI yang ditugaskan 3 tahun yang lalu di sini, Aceh. Kedua orang tuaku meninggal dunia + 2 tahun yang lalu, saat penyerangan GAM di kawasan hutan pedalaman Aceh. Aku dan adikku, yang saat itu masih berumur 1 tahun melarikan diri dan menetap hingga kini di gua yang tak aku kenal namanya ini. Kini, usiaku telah menginjak 14 tahun, dan adikku seminggu yang lalu tepat berumur 3 tahun. Aku takut untuk pergi dari hutan ini, karena aku tak mengenal sepenuhnya daerah ini. Selama ini, kami makan seadanya. Buah-buahanlah yang mendukung keberadaan kehidupan kami di sini. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan, karena kami selalu diberi kekuatan dan rezeki. Banyak kisah yang kami hadapi di dalam hutan ini. Salah satu kisah yang membuatku sangat kecewa dengan diriku sendiri yaitu ketika aku mencoba memanjat pohon kelapa. Dan Ali, Ali Syahreza adikku, aku dudukkan di bawah pohon itu. Ketika aku sampai di puncak, Ali hampir diterkam seekor harimau saat itu. Namun sekali lagi, pertolongan Allah lah yang menyelamatkan kami. Harimau itu digiring oleh sosok putih bercahaya yang beberapa saat kemudian menghilang bersama harimau itu. Namun, bukan ancaman harimau itu yang aku takutkan. Aku takut jika suatu hari aku ditangkap oleh pasukan GAM. Aku takut, jika Ali terlantar, atau disiksa oleh mereka.

                Aku berharap kepada siapapun yang membaca catatan ini. Aku ingin engkau menjaga adikku, karena jika catatan ini telah terbaca oleh orang lain, berarti aku telah tiada lagi di samping Ali. Semoga kau orang terbaik untuk Ali. Amien…

                Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

                                                                                 Senin, 12 Desember 2004

“Sungguh mulia hati Harun,” gumamku sambil menghapus air mata yang tak terasa menetes di pipiku.

Saat itu, Ali juga bercerita, jika kakaknya sebelum tertangkap oleh pasukan GAM berpesan kepada Ali untuk tidak keluar dari gua, dan agar tidak melepas dan memberikan buku ini ketika Harun pergi. Ali juga mengatakan dia sempat mendengar suara tembakan di depan gua sebelum kakaknya menghilang.

“Lalu, bagaimana Ali bisa sampai di tempat orang-orang banyak itu??” tanyaku padanya.

“Ali, digendong sama orang yang mirip banget sama mas Harun, tapi dia gak pake kaos yang biasanya dipakai mas Harun. Dia pakai baju putih, bajunya wangiiii banget kak!!” ungkapnya.

Harun telah tiada, namun kasih sayangnya masih terus ada untuk Ali. Ali tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Begitu kejam manusia itu, yang beraninya merampas hidup orang lain. Namun, aku sadar tak ada gunanya aku meratapi. Karena semua itu telah terjadi dan tak kan kembali.

Sekarang aku mengerti, hidupku tak seberat hidup yang mereka jalani. Terlebih mereka masih kanak-kanak, yang seharusnya masih merasakan masa-masa indahnya bermain dengan teman-teman mereka. Namun, keadaan memaksa mereka untuk lebih tegar menghadapi semua. Mereka mampu hidup dengan kemandirian mutlak, yang belum pernah mampu aku jalani. Kini, aku mengerti arti hidup yang sebenarnya. Tak hanya uang yang dibutuhkan, tapi, kasih sayanglah yang mempertahankan sebuah kehidupan. Aku akan menjaga amanah dari Harun, dan menjadikannya sebagai teladan kehidupan yang tak tergantikan.

 

 

~~~~~~~~The End~~~~~~~~

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

3 thoughts on “Catatan Kecil dari Tanah Jeumpa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s