Lembar dalam Hening

white-tulips-flowers-wallpapersTersenyumlah pada dunia dan dunia akan tersenyum padamu. Benarkah? Kurasa kat-kata itu tak berlaku untukku. Seberapa lama pun aku tersenyum untuk dunia, tak sedikitpun senyukmu itu terbalas. Bagaiman bisa terbalas, kalu dunia tak mampu dengarkan apa yang ku katakana. Bagaimana bisa dunia tersenyum padaku, mengerti maksudku saja terasa begitu sulit. Astaghfirullah.. tak seharusnya aku mengeluh seperti ini, merasa begitu menderita dengan apa yang Tuhan berikan. Aku seharusnya sadar jika masih banyak yang lebih menderita daripadaku. Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang hina ini.

“Zidan! Kenapa kau lama sekali? Kau tahu! Kau hampir menghancurkan proyekku jika kau datang satu menit lebih lama!”

Bergegas kususun kata maafku dalam hening, namun..

“Sudah! Kau tak perlu meminta maaf! Terlalu lama untuk mendengarkan kata-kata tak penting itu terucap! (Bruakkk!!)” laki-laki itu menutup pintu mobilnya dengan keras dan berlalu meninggalkanku.

Aku hanya mampu menundukkan bahu dan kepalaku ketika lelaki itu semakin jauh dari tempatku berdiri. Sesaat aku terdiam menyesali keterlambatanku yang merugikan orang lain. Namun, aku harus lebih cepat agar tak lebih banyak lagi orang yang kurugikan.

Ku kayuh sepedaku dengan cepat menuju kantor tempat di mana aku bekerja. Sesampainya di depan kantor kulihat bos telah berdiri di depan kantor bercat biru tua itu.

“Zidan! Kau sengaja ingin membuatku bangkrut hha?? Kau mengecewakan pelanggan setia perusahaan ini! Kau tahu, jika memang terjadi. Nyawamu pun tak mampu mengganti kerugian itu!”

Begitu tak berhargakah nyawaku, hingga orang yang kuanggap berpendidikan seperti bos pun mengatakan hal semacam itu?

Aku meminta maaf kepadanya dan kulanjutkan pekerjaan yang masih menungguku. Ku lihat tumpukan kardus di depanku, tertata rapi seperti telah menungguku untuk mengangkatnya ke dalam truk barang. Jika melihat tumpukan barang ini, aku teringat rekanku Irfan, yang saat ini tak lagi bekerja di sini. Dia begitu beruntung bisa bersekolah lagi, walau dia juga sama denganku dari kaum miskin. Sebenarnya aku juga pernah bersekolah walau hanya sampai lulus Sekolah menengah pertama, dan Irfan adalah teman segenerasiku.

Irfan mendapatkan rezeki dari bu dhenya yang bekerja sebagai seorang TKW di luarnegeri. Dia dibiayai untuk melanjutkan sekolahnya di bangku SMA. Sedangkan aku yang tinggal seorang diri, tak mampu untuk menanggung biaya SMA yang tak dapat dikatakan mahal lagi, tapi sangat mahal. Namun, aku sangat bersyukur karena setelah pekerjaanku sebagai kurir selesai, aku meneruskan bekerja sebagai cleaning service perpustakaan daerah. Dan aku bisa mendapatkan ganti ilmu dari berbagai ribuan buku yang berjajar rapi di sana.

*****

            Sepulang kerja aku begitu bersemangat untuk segera pulang. Karena Irfan berjanji padaku untuk memberitahu tentang sekolahnya. Ku kayuh sepeda mini bekas yang kubeli dua tahun yang lalu ketika gaji pertama ku peroleh.

Tok. Tok. Tok.

“Zidan, akhirnya kau datang juga. Zidan, kau harus tahu semuanya, begitu menyenangkan Zidan. Berbeda dengan SMP kita dulu. Terlebih ketika pelajaran kewarganegaraan dimulai, aku langsung teringat kau Zidan. Pemikiran guruku sama persis dengan pemikiranmu. Tentang Pancasila sampai pemerintahan saat ini.”

Deg..

Pancasila? Kewarganegaraan??” ku tatap Irfan tajam.

“Iya Zidan. Dan kupikir akan lebih seru jika kau di sana. Dan akan lebih baik jika kau juga menjadi guruku.”

Aku tersenyum bahagia mendengar hal itu. Memoriku tentang pelajaran itu kembali membuatku merasakan semangat hidup yang kurasa telah lama hilang. Aku begitu menyukai topik tersebut, aku begitu menyukai untuk memberikan argument-argumenku tentangnya. Begitu pula untuk mempelajarinya lebih.

*****

“Zidan, menurutmu apakah Pancasila masih tinggi tingkat pengamalannya oleh rakyat Indonesia saat ini??” Tanya Irfan padaku.

Aku tersenyum padanya, kuacungkan jari telunjukku padanya. Kurasa memang telah sedikit rakyat Indonesia yang mengamalkan dan menghayati Pancasila itu sendiri. Terlihat dari keadaan masyarakat yang sudah bisa dikatakan kacau dalam sisi social, budaya, politik, pemerintahan, serta persatuan dan kesatuan. Dan terasa bahwa liberalisme telah dipraktekkan kembali di Indonesia.

Kusodorkan sepucuk kertas pemikiranku pada Irfan. Penjelasanku yang panjang lebar dicerna Irfan dengan mudah. Dan sepertinya pendapatku sama dengannya, terlihat dari kedua sudut bibirnya yang naik ke atas.

“Kenapa kau berpikir bahwa Pancasila mulai ditinggalkan oleh Indonesia??”

Jelas saja keadaan tanpa hati mulai dipraktekkan di Indonesia. Kaum atas tak lagi peduli dengan kaum bawah. Mereka hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri. Hingga seorang bangsawan akan lebih menjadi bangsawan dan yang miskin akan lebih jadi miskinnya miskin.

Kembali kuberitahukan argumenku pada Irfan. Matanya berbinar.

“Kau memang ahlinya pak Jubir!” ucapnya semangat.

Aku menatapnya dengan senyum pesimisku. Aku tak mungkin mendapatkan jabatan itu.

“Jangan seperti itu Zidan. You can do it! And you shoul do it! Kau harus optimis bahwa kau bisa Zidan!”

Aku bahagia memiliki sahabat seperti dia yang mengerti apapun sebelum aku mengatakannya. Ya Allah.. terima kasih untuk sahabat yang mampu nmemberiku waktu lebih untuk memberikan fikiranku.

****

Tiga tahun kemudian..

Sore yang hangat ketika ku kayuh sepedaku menuju tempat kerja keduaku. Aku selalu bahagia untuk pergi bekerja di tempat itu, terlebih dengan keberadaan buku-buku yang selalu menungguku dengan tenang dan rapi.

Ketika kusampai, kulihat masih ada beberapa orang yang duduk dengan tenang di depan buku mereka. Aku menatap sekeliling ruangan yang berukuran + 10 m x 15 m itu. Semua serba tertata rapi, dari rak-rak buku berwarna coklat tua hingga buku-bukunya sendiri yang teratur rapi.

Walau telah lima tahun aku bekerja di sini, tak pernah ada rasa bosan dalam hatiku. Aku dapatkan ilmu dengan gratis walau mungkin tak sesempurna seperti di bangku sekolah. Aku bersyukur untuk ini semua.

*****

Malam itu seusai shalat Isya’ kudengar pintu rumahku diketuk dengan keras oleh seseorang yang kurasa adalah Irfan.

“Zidan… Zidann..”

Aku berlari membuka pintu untuknya. Irfan membawa banyak sekali kertas dia menerobos masuk ke dalam rumahku dengan kertas-kertasnya itu.

“Zidan, please Bantu aku ya. Aku besok ikut seleksi masuk Harvard University tapi untuk itu semua aku juga harus menyelesaikan semua berkas ini. Aku butuh bantuanmu.”

Apa?? Harvard? Aku menatapnya kaget sekaligus bahagia.

“Zidan, maafkan aku. Mungkin untuk saat ini aku tak bisa menceritakannya padamu dulu. Waktu begitu mencekikku. Please Bantu aku ya..” tatapnya melas padaku.

Jelas aku langsung menyetujuinya. Aku bahagia melihat temanku sesukses ini, hingga dia hampir menembus universitas nomor wahid itu.

Dengan penuh semangat kuputar otakku untuk memberikan argument-argumenku tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam lembaran tingkat tinggi itu. Aku harus membantu sahabatku hingga dia berhasil. Karena hanya dia satu-satunya dunia yang selalu tersenyum padaku.

Pukul 02.57 malam, kulihat ketika kami merampungkan ¾ pekerjaan kami. Kulihat Irfan telah mengantuk sangat. Namun juga terlihat bahwa dia berkeras untuk mengerjakannya walau akhirnya dia tertidur di atas lembaran yang ia kerjakan. Rasa kantukku pun mungkin sama dengan Irfan, namun fikiranku terlalu bersemangat untuk dihentikan. Tanganku terus menuliskan argument-argumen yang mengalir dari fikiranku.

Dan alhamdulillah lima menit setelah adzan shubuh berkumandang, berkas-berkas itu terselesaikan.

*****

“Zidaaannnnnnnn….” Ku dengarkan Irfan berteriak memanggilku.

“Aku diterima di Harvard. Dan ini tak kan terjadi tanpa bantuanmu!”

Alhamdulillah ya Allah.. ku sujudkan tubuhku mensyukuri segala apa yang terjadi. sahabat terbaikku berhasil memperoleh pintu kesuksesannya.

*****

Sepuluh tahun kemudian..

“Zidan kau tahu? Hari ini Irfan dilantik sebagai menteri.” Ucap rekan kerjaku yang juga rekan Irfan.

“TVRI!” sahut rekanku yang lain.

Masih dengan hati yang bergetar bangga, aku mengganti channel menuju TVRI. Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar secara langsung dari Irfan melalui surat yang ia kirimkan. Namun, aku belum tahu jika hari ini Irfan dilantik menjadi seorang menteri.

Subhanallah..

Kulihat temanku itu berdiri di antara kandidat penting pemerintahan Indonesia. Acara penting itu dimulai, dan sampailah untuk Irfan berpidato.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh..

 

Kepada yang terhormat para undangan yang hadir untuk menghadiri acara besar ini. Juga kepada yang terhormat seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikan acara akbar ini.

Untuk mengawali pidato kenegaraan kali ini, patut saya ucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kita semua. Shalaway serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah menuntun kita dari gelapnya kejahiliaan menuju islam yang terang.

Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada segenap pihak yang telah mendukung saya untuk berjalan hingga sejauh ini. Tanggung jawab besar telah terlihat di depan mata saya.

Saya sangat berterima kasih khususnya kepada seorang sahabat saya yang selalu mendukung dan membantu saya hingga sejauh ini. Dia adalah sumber inspirasi saya. Yang selalu meluangkan waktu-waktunya yang berharga bersama berlembar-lembar kertas serta argument-argumen bernilai tingginya. Mungkin anda sekalian mengira bahwa dia adalah seorang penulis. Bukan, dia bukan seorang penulis, atau psikolog, atau pun politisi. Dia hanya seorang yang tak takut untuk maju demi apa yang dianggapnya baik untuk semua orang. Tak takut akan caci maki yang selalu orang lontarkan atas kekurangannya. Seorang argumenter besar yang tak diketahui dunia. Argumenter yang terlihat lebih sunyi daripada tengah malam. Namun pikirannya lebih kaya daripada harta saudagar termasyur, Qarun.

Dia seorang penyandang cacat. Dia tak memiliki suara layaknya kita semua. Namun, dia tak menyerah begitu saja kepada kekurangannya itu. Dia berpikir dia masih memiliki beribu lembar kertas yang mampu mendengarnya. Dan tekad kuatnya yang selalu memotivasi saya hingga seperti ini.

….

Iya, aku memang masih memiliki beribu kertas untuk dunia tahu apa yang ada di dalam pikiranku. Aku harus memulainya dari sekarang. Aku harus memberikan seluruh pikiranku agar diketahui dunia. Aku harus memulainya.

*****

Tujuh  tahun kemudian…

Beribu lembar kertas itu kini menjadi berkah tersendiri bagiku. Sejak pidato kenegaraan Irfan menyadarkanku bahwa aku bisa melakukan lebih hingga kini. Aku telah berhasil membuat dunia mendengarkanku dan tersenyum padaku. Kini, aku adalah seorang juru bicara Presiden ke lima belas Indonesia. Presiden Muhammad Irfan Rizky.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

2 thoughts on “Lembar dalam Hening”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s