Marry Your Daughter

model-lekuk-dalam-tengah Hatiku begitu gemetar hari ini, aku sudah melatihnya berhari-hari sebelum hari ini tiba. Tapi tetap saja hatiku tak bisa bersembunyi dari kekhawatiran ini. Aku akan melakukan hal yang belum pernah kulakukan seumur hidupku. Lebih mengkhawatirkannya hal ini bukanlah hal yang kuinginkan menjadi blak-blakan, aku ingin menjadi surprise, yang tak akan pernah dia lupakan nantinya. Aku akan meminta izin ayah Ellen untuk melamar putrinya menjadi wanita yang mendampingiku seumur hidupku. Tuhan, bantu hamba-Mu ini. Huh..

Aku mengendarai motorku menuju rumah Ellen. Hari ini Ellen tak ada di rumah, setidaknya untuk satu minggu ke depan, karena kini dia berada di Los Angeles untuk liputan The Oscars. Kakak Ellen, Aaron, mengetahui rencanaku ini dan dia mendukungku namun masih dengan ancaman yang selalu kudapatkan sebelumnya.

“Don’t ever you try to make my sister cry. I’ll make you become ash, ok?” agen FBI itu memberiku senyum sangarnya.

Ellen dan aku bukanlah pasangan yang memiliki hubungan masih muda. Kami telah menjalin kasih selama enam tahun lamanya. Aku masih teringat ketika pertama kali melihatnya bekerja di Washington Post. Dia bukanlah sosok yang percaya diri seperti sekarang, Ellen lebih banyak diam dan tak berkata ketika tak dirasa penting. Dia juga terlihat sebagai sosok yang dingin namun memiliki senyuman yang hangat. Aku yang saat itu sudah dua tahun bekerja di WP ditempatkan dalam satu divisi dengannya. Dari situ aku mengetahui Ellen lebih menyukai menuliskan gagasan ataupun ide yang ada dalam pikirannya daripada mengungkapkannya secara lisan. Namun Ellen yang kukenal kini lebih cerewet dan menyukai berbicara daripada dahulu, setidaknya ketika bersama denganku.

“Evan? Are you kidding? It’s 02.00 pm and you didn’t have lunch? Don’t told me if your profession make you didn’t eat. I am journalist too, and I had have lunch. What if your stomach is me?” cercanya saat itu.

“Oh no Honey, if my stomach is you I’ll eat every time,” candaku.

“I’m not kidding! Just EAT! Don’t mess your lunch time when I’m not beside you, though,” dia terlihat marah dari layar ponselku.

“Hahaha, oke I’ll eat. But you never knew it’s real eat, or no.”

“You think that you’ll lie to me? Okay, I’ll not reply your text, I’ll not picking up your phone, so, bye, liar!.”

“Wwwait! Hold on Ellen. Okay, I’ll have lunch.” Aku menyerah

“Prove it.”

“I won’t lie.”

“Prove it Evan!”

“How?”

“I want you to have lunch in front of your phone, in front of me,” dia tersenyum.

Dan setelah telepon seperti itu, aku selalu menghabiskan makananku di depan layar teleponku. Ellen akan tertawa ketika melihat gaya makanku yang menurutnya seperti seorang bocah. Dia selalu berkata aku tak pernah sekhusyuk itu saat aku melakukan hal lainnya. Dan senyumnya, selalu semanis dan sehangat seperti yang kulihat saat pertama kali dia tersenyum.

Perjalanan menuju rumah Ellen tak membutuhkan waktu lama, dan aku tersadar dari ingatanku tentang wanita mungil itu saat aku sampai di halaman rumahnya. Aku melihat ayah Ellen sedang menyiram taman bunga di samping rumahnya. Seperti biasanya aku selalu nervous ketika bertemu dengan Howard, ayah Ellen. Sepertinya dia menyadari kedatanganku, dia tersenyum ke arahku.

“Ellen’s not home yet, son,” ucapnya sambil menepuk bahuku.

“Yeah, I know sir. I come for you,” aku tersenyum mencoba menutupi kenervousanku.

“Come for me? What can I do son? Come in.”

Tak seperti biasanya, aku merasa lebih nervous ketika memasuki pintu kayu dan memasuki beranda rumah Ellen.

“What can I do son?” ucap lelaki yang sangat dicintai Ellen itu.

“Umm.. Sorry Howard, may I go to toilet first?” ucapku.

“Yeah, you know where to go.”

Inilah masalahku, selalu saja ingin ke kamar kecil ketika akan melakukan sesuatu yang begitu besar. Seusai dari kamar kecil, aku memantapkan hati dan keberanianku.

“Sir, I wanna marry your daughter,” ucapku spontan bahkan sebelum Howard menyadari aku datang dan duduk.

Kulihat wajahnya kaget mendengar ucapanku dan dia tersenyum, “Now I see, why you want to go to toilet.”

Kami berdua tertawa, walau sebenarnya aku hanya tertawa dengan terpaksa untuk menghargainya. Aku masih gugup, dan tetap gugup. Howard tersenyum ketika melihat kegugupanku.

“Evan, you really wanna marry my daughter?” ucapnya lembut.

“Yes, sir.”

Dia menganggukkan kepalanya pelan, “Son, she is my lovely girl. She look like a strong girl, but her heart still fragile like kid. I never let her get pain, so her brother. You know that her mother died when she was eight. That’s the first and the last time I saw her crying, her heart crying. After that I never know she cry, she promise to her mother to be a strong girl. But I always know that she always miss her mother, and her heart not strong as how she look like. Maybe you have known this story, but she is my everything,” Howard menganggukkan kepalanya.

“I know it sir, I promise I’ll take care of her. I love her,” kali ini gugup itu hilang entah kemana.

“I believe you, you’re a good guy. But I will never afraid to make you suicide when you hurt her. Right?”

Aku tersenyum, “Yes sir, I’ll try to always make her happy. I promise.”

“Ok, make my princess be your one and only queen,” ucap Howard  tersenyum.

“Really Howard? Oh thank you, thank you so much, I don’t know what to say. Thankyou so much.”

Howard memelukku, dia memberiku selamat. Aku bahagia sekali saat itu, aku tak sabar untuk segera bertemu dengan Ellen. Setelah itu aku mulai membicarakan surprise untuk melamar Ellen bersama Howard. Aku berencana untuk melamarnya tepat ketika Ellen pulang dari Los Angeles tepat satu minggu ke depan, di tempat kesayangan Ellen, rumahnya.

Aku ingin menggunakan sebuah drama dengan bantuan Howard dan Aaron. Nanti ketika Ellen sampai di rumahnya, dia akan dikagetkan dengan ayahnya yang baru saja mengambil undangan pernikahan bernamakan namanya dan namaku di dalamnya. Lalu setelah dia membacanya, Aaron akan muncul dengan membawakan cincin pernikahannya dengan mengatakan bahwa dia memperolehnya dari seseorang. Setelah itu aku akan muncul dengan membawakan bunga kesayangannya white lily. And…

“Ellen, will you marry me?” dengan berlutut.

Lalu dia akan menangis, memelukku, dan menciumku, “Of course, yes honey!”

*****

Aku menitipkan cincin dan undangan pernikahan yang akan kuberikan pada Ellen tiga hari setelah aku meminta izin pada Howard. Dan aku semakin tak sabar menunggu Ellen pulang.

****

Oh Tuhan, aku sungguh gugup hari ini. Segugup satu minggu yang lalu ketika akau datang pada Howard. Hari inilah yang akan menentukan waktuku bersama Ellen. Aku mencintainya Tuhan, sungguh aku mencintainya.

Aku menunggu telepon dari Howard, karena aku berencana tak menjemput Ellen dari bandara demi kesuksesan rencanaku, aku mengatakan bahwa aku ada tugas peliputan keluar kota saat ini pada Ellen. Beberapa menit kemudian Howard meneleponku karena satu jam lagi Ellen akan sampai di rumah. Aku bergegas mengendarai motorku, aku akan pergi menuju kebhagiaanku. Tuhan, katakan padanya aku sungguh mencintainya.

Howard dan Aaron sudah menungguku dengan cemasnya. Aku berjalan menuju mereka dan memasuki rumah mereka. Aku menunggu Ellen, aku sungguh merindukannya. Kulihat sebuah taksi memasuki halaman rumah mereka.

“Ellen, you said you’ll come 30 minutes more,” ucap Howard gugup.

“Dad, you’re not happy your girl home 30 minutes less?” Ellen memasang muka melasnya.

“Dad! Evan!” teriak Aaron.

“What? Now?” mata Howard seakan bertanya.

“What Evan?” Ellen tersenyum heran pada Aaron.

Ellen berlari memasuki rumah. Dia menerjang Aaron.

“I know that Evan will give me surprise welcome in my house. Where are you honey??”

Ellen terlihat membaca undangannya. Dia menangis terharu melihat namanya dan namaku tercetak di kertas itu. Howard dan Aaron memasuki rumah itu, dan..

“Ellen..” ucap Aaron.

“Yeah, where is him? Told me, I know you are in my side right Aaron? Where is him?” ucap Ellen antusias.

“I’m sorry Ellen, he has an accident. He is in hospital now,” ucap Aaron lembut.

“Is it the piece of your plan too guys? Cause it’s not funny,” Ellen memaksakan tawanya dan memasang wajah heran.

“It’s not the plan Ellen,” tambah Howard.

Ellen menatap kedua lelaki itu dengan bingung. Dan dia mulai menangis histeris, dia tak percaya apa yang didengarnya. Howard memeluknya dan mereka langsung berangkat menuju rumah sakit.

*****

“I’m sorry miss, we do everything we can,” ucap seorang dokter kepada Ellen.

“No! You should help him! You didn’t do anything! You didn’t!” Howard terlihat menenangkan gadis yang kucintai itu.

Aku mendekatinya, aku ingin memeluknya dan menghapus lukanya. Namun tak sedikitpun dia melihatku. Dia berjalan menemui jasadku, dia menatapku.

“What about or wedding then? You give up just like that? Evan, wake up! Wake up

Evan!”  dia menggerak-gerakkan bahuku. Dia menangis.

“Evan! Just wake up, for me, please. Please Evan, please. Do it for me, please Evan. Please,” dia memeluk tubuhku.

Aku tak tahan melihat tangisnya, aku begitu ingin memeluknya dan meredakan tangisnya. Mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi aku sudah tak mampu melakukan itu semua, Tuhan tak mengizinkanku lagi.

Howard mengajak putrinya itu pulang namun Ellen tak begitu saja mengiyakan.

“No Dad, he will wake up if I’m here. I remember he never wanna wake up in the morning without me in his side. And I know that he will wake up, Dad,” dia mencoba meyakinkan ayahnya.

“Ellen, I’m sorry girl. He’s dead, I’m sorry,” Howard membelai kepala putrinya itu dan menitikkan airmatanya.

“He’s not, he’s not dead! Evan! Wake up! My brother will slap you if you didn’t wake up! Wake up Evan!” Ellen memukul pundakku.

“Come on Ellen, please,” Aaron menarik adiknya itu pergi.

*****

Aku melihat banyak sekali orang-orang yang kucintai datang. Tak ada satupun dari mereka yang memasang tawa seperti biasanya lagi. Terlebih dia, gadis yang kucintai. Pandangannya kosong, matanya sembab air matanya tak berhenti mengalir mengiringi peti matiku yang semakin dekat dengan liang lahat.

Ketika bunga dia taburkan pada peti matiku sebelum tanah menguburnya. Kulihat dia memakai cincin yang akan kuberikan padanya di jari manis tangan kirinya dan dia berbisik.

“I’m your bride, and always be, I love you Evan, I love you,” bisik Ellen saat menaburkan bunga.

 

Terinspirasi dari sebuah lagi oleh Niko McKnight and Brian Mcknight Jr – Marry your daughter.

😀

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

3 thoughts on “Marry Your Daughter”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s