Love Married Guy

1392744_f520Beberapa hari yang lalu saya mengikuti kelas Cultural studies yang terkadang (sering) membahas tentang bagaimana kita memandang bangsa barat sebagai bangsa yang lebih dari kita. Walau sebenarnya memang begitu adanya, dari segi teknologi, pemikiran dan ilmu menurut saya (yang mungkin masih memandang bangsa barat adalah keren) bangsa barat memang lebih baik dari Indonesia. Hal itu membuat saya terkadang benci dengan  kualitas hiburan yang diproduksi tanah air ini, dan berimbas pada pencarian hiburan yang diproduksi oleh luar negeri. Contohnya saja serial Grey’s anatomy, saya begitu menyukai serial ini dengan alasan bahwa saya tidak pernah menemui serial atau sinetron semacam ini di Indonesia. Serial bertemakan kehidupan dunia kedokteran khususnya, para dokter bedah (surgeon) yang penuh dengan petualangan kasus-kasus kesehatan yang baru, aneh, dan langka serta bagaimana mereka berdebat dengan para ahli untuk menyelesaikannya. Serial ini juga tidak seperti serial-serial Indonesia yang seringkali keluar dari tujuan awal atau tema awal saat pembuatan, serial ini konsisten dengan tema awal. Biasanya di Indonesia serial yang bertemakan religi misalnya memiliki awal yang bagus dan nyambung sama temanya, tapi lama-kelamaan serial religi tersebut akan berjalan tanpa arah dan menjauhi tema awal, biasanya akan berjalan menjadi tema cinta, perebutan harta, dan sejenisnya, rakyat Indonesia pasti tahulah. Saya tidak akan membahas bagaimana serial Indonesia dan luar negeri lebih lanjut, paragraf di atas hanya sebagai pembuka dan pandangan umum mengenai tulisan saya selanjutnya.

Dari kegemaran menonton serial televisi luar negeri ini, saya banyak mengadopsi nilai-nilai yang bangsa barat sisipkan dari serial hiburan mereka. Secara keseluruhan banyak sekali nilai-nilai mereka yang berbeda jauh dengan Indonesia, meski sekarang sudah mulai blur perbedaannya karena nilai-nilai tersebut sudah mulai diterapkan juga di Indonesia, tetapi masih tetap saja sebagian bahkan mayoritas orang Indonesia masih berpikiran bahwa hal itu adalah aneh. dan tidak sewajarnya. Salah satu nilai tersebut adalah ketika seorang wanita akan menikah dengan lelaki yang lebih muda, di Indonesia dipandang sebgai hal yang aneh dan tidak wajar, karena wajarnya di sini adalah wanita menikahi lelaki yang lebih tua. Tetapi ketika seorang wanita muda menikah dengan lelaki yang usianya jauh lebih tua di atasnya misalnya dengan selisih umur sekitar 20 tahun, maka hal itu juga menjadi perbincangan tetangga karena (tetap dengan alasan yang sama) aneh, dan tidak wajar. Lha kalau begini kan belibet jadi orang Indonesia, sedikit-sedikit dirasani (diomongin), nikah sama yang lebih muda salah, nikah sama yang terlalu tua salah, lalu harus bagiamana?

Menurut saya orang Indonesia itu terlalu menyukai sisi kehidupan pribadi orang lain. Mereka selalu mengeksplor, mengomentari, dan selalu ingin tahu kehidupan pribadi orang lain. Menjadi orang yang sensitif dan perhatian itu baik, tapi jika sudah keterlaluan itu menjadi hal-hal yang mengganggu dan menyebalkan. Apalagi kalau sudah ngomongin orang dan menyebarkannya dengan bahasan yang negatif. Oh God.

Menyukai atau menikah dengan orang yang jauh lebih tua menurut saya adalah hal yang wajar-wajar saja. Selama yang bersangkutan merasa nyaman dan tidak menimbulkan perkara itu bukanlah sebuah masalah besar seperti yang tetangga katakan. Cinta ataupun rasa suka tak bisa diatur hanya untuk teman seumur, atau yang lebih tua hanya beberapa tahun di atas kita. Mungkin saja kita memiliki tipe ideal tentang lelaki yang nantinya kita inginkan untuk menemani hidup kita, tetapi kadangkali rencana itu tidak berjalan persis seperti yang ada di proposal yang kita ajukan pada Tuhan. Mungkin saja kita memiliki kriteria lelaki ideal seperti pekerja yang sudah mapan, bertanggung jawab, satu keyakinan, mencintai kita, dan umurnya 5-7 tahun di atas kita. Tetapi bisa saja pada prakteknya kita mencintai seseorang yang tidak sesuai dengan kriteria ideal kita, mungkin saja dia sudah pas tetapi dia tidak memiliki pekerjaan yang mapan, atau mungkin memiliki umur yang lebih muda dari kita, atau bahkan jauh lebih tua dari kita.

Masalah umur bukanlah hal yang sebegitu serius, menurut saya buat apa memiliki seorang pendamping yang lebih muda ketika mudanya itu tak produktif, atau pengangguran, pemalas misalnya. Kita mau makan apa nantinya? makan umur mudanya itukah? Pastinya tidak bukan. Tua atau muda itu pastinya akan kita lalui, itu hanya sebuah siklus kehidupan. Bahkan lelaki yang lebih tua jauh  di atas kita itu seringkali memiliki pemikiran yang lebih baik serta pengalaman yang lebih banyak sehingga akan membantu kita dalam menjalani kehidupan ke depannya.

Setelah konteks umur menjadi hal yang tabu di Indonesia, konteks lainnya yang sangat tabu adalah menyukai orang-orang yang lebih tua dan MASIH BERISTRI. Memang menurut saya sendiri hal itu sangat tidak pantas, tetapi rasa suka itu sekali lagi bagi saya bukanlah hal yang bisa dikontrol dengan semau kita. Kenapa saya katakan tidak pantas ketika saya bilang rasa suka tidak bisa dikontrol? Coba saja posisikan diri anda pada posisi sang istri dari pria tersebut, bagaimana perasaan anda ketika suami anda disukai oleh wanita lain? Cemburu? Itu pasti, dan yang utama adalah khawatir. Khwatir jika nantinya wanita lain yang menyukai suami anda tersebut akan bertindak untuk mengambil suami anda dari anda. Perasaan itu wajar bagi seorang istri. Tetapi juga posisikan diri anda pada wanita lain yang menyukai suami orang tersebut juga? Bagaimana perasaan anda ketika lelaki yang anda cintai ternyata tidak sedikitpun melirik anda dan sangat mencintai istrinya? keluarganya?

Posisi yang serba tidak enak yang kita dapatkan ketika menyukai seorang pria beristri menurut saya wajar. Hal itulah yang harus anda terima ketika anda menginginkan apa yang sudah dimiliki orang lain. Masyarakat menganggap menyukai pria beristri adalah hal yang sangat buruk, tapi menurut saya itu biasa saja dan relatif. Hal itu bisa menjadi sangat buruk ketika kita menyukai pria beristri dan ada maksud untuk merebutnya dari keluarganya dnegan berbagai cara. Tetapi memiliki maksud merebut itu tak akan menjadi apa-apa tanpa keberanian dan praktek dari niat. Jadi menurut saya sangatlah wajar ketika kita menyukai seseorang dan ingin memilikinya saja tanpa melakukan hal-hal yang negatif. It’s fine ketika kita menyukai pria beristri dan memiliki niat jahat untuk memilikinya, karena untuk bertindak dibutuhkan keberanian moral yang tinggi dan tekad yang kuat. Keberanian moral itu seperti keegoisan, membuang perasaan atau pemikiran tentang keluarga sang pria, dan hal-hal lain yang serupa. Dan ketika kita bisa melakukan semua itu bisa dikatakan kita telah mempraktekkan “being a bitch.” Dan selama kita tak melakukan hal-hal itu, kita tidak masuk dalam tataran “being a bitch,” tetapi hanyalah “think like a bitch.”

Meski nantinya sebuah pemikiran berpotensi untuk menjadi nyata, tak ada yang bisa menyalahkan sebuah pemikiran ketika hal itu tak menjadi nyata. Tak ada yang salah ketika kita menyukai seorang pria beristri, karena pada hakikatnya tidak ada yang bisa menyalahkan CINTA.

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s