Jarak

flat,550x550,075,f  Semua mengatakan pernikahan adalah hal terbaik dalam sebuah hubungan, dan tak akan menjadikan jarak apapun sebagai masalah, tapi BAGIKU? Tidak sama sekali. Aku hanya bisa melihatnya ketika bersama dengan wanita lain, aku hanya bisa melihatnya tertawa dan bercanda dengan orang lain, pergi bersama orang lain. Jadi siapa bilang pernikahan adalah hal terindah dan membuatmu bahagia? Tidak, tidak sama sekali.

Aku muak ketika mereka yang terlihat berlebihan mengenai LDR (Long Distance Relationship) yang sedang mereka hadapi dengan curhat di media sosial, bersikap childish dan mengumbar kemesraan di media sosial karena tak bisa bertemu secara langsung. Kekanak-kanakan! Bersyukurlah hanya tempat yang berbeda yang memisahkan kalian!

Sore itu aku melihatnya begitu bahagia ketika menelpon seseorang, yang kurasa adalah seorang wanita.

“Hai, kau baik saja?” bukanya.

“…..” dia tersenyum.

“Ya, aku baik saja. Hanya mahasiswaku banyak yang mengeluh hari ini, huh aku lelah,” dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.

“…..” dia kembali tersenyum dan mulai terdengar tawa kecilnya.

“Benarkah? Kau memang yang terbaik sayang.”

“…..” dia lagi-lagi tersenyum.

“Oh God. Oke aku akan berlari padamu secepatnya.”

“….”

“Bye.” Dia menutup teleponnya dan tersenyum menatap layar handphonenya.

 

Oh Tuhan, siapakah yang dia telepon. Dan kembali aku hanya bisa diam, membenci diriku sendiri ketika air mata mulai membasahi pipiku. Aku begitu ingin ada di dekapnya kini, aku tak peduli aku menangis karena dia, orang yang sangat kucintai. Aku tetap ingin dia yang mendekapku, hanya dia.

Hari demi hari berlalu, dan hal yang paling kusukai darinya adalah ketika dia begitu khusyu dalam shalatnya. Wajahnya begitu teduh, senyumnya pada Yang Kuasa begitu indah, dan dia memang yang terbaik yang Tuhan ciptakan. Aku bersyukur Tuhan ciptakan dia, membuatku bertemu dengannya. Dia lelaki terbaik, penuh dengan cinta dan tak pernah lupa dengan Tuhan ketika banyak sekali yang enggan berkenalan dengan Tuhan.

Apa yang dia katakan adalah hal yang sangat berarti, dia tak menyukai basa-basi. Banyaknya negara yang pernah dia jajaki membuat dia tahu banyak hal. Dia disukai banyak orang karena pengetahuannya, dan dibenci banyak orang pula karena pengetahuannya serta kekritisannya. Seperti ketika dia selesai melipat sajadahnya pasti ada saja yang menghampirinya untuk bertanya ataupun berdiskusi sampai bahkan dia tak sempat untuk sekedar melihatku atau memang dia tak tahu kami sedang berada pada tempat yang sama.

Siang itu aku membuat janji bertemu dengannya, dan menunggunya di tempat biasa dia bertemu denganku. Setelah satu jam menunggu dia tak juga datang. Aku kirimkan pesan padanya, yang membuatku menunggu dua hal, dia dan pesannya.

Tiga puluh menit kemudian pesan darinya membuat dunia terasa tak pernah berpihak padaku. Langit seakan jatuh menimpaku dengan keras dan menghancurkanku. Aku pergi dari tempat itu dan mencoba mengendalikan air mataku.

Aku benci dengan semua ini, aku benci ketika aku tahu aku mencintainya, dan aku lebih membenci diriku ketika aku tak bisa berhenti mencintainya yang berarti aku juga tak bisa berhenti menyakiti diriku.

Tuhan, kenapa Kau tak berikan jarak geografis saja pada kami berdua dan mengahpus jarak pada hati kami? Kenapa Kau buat aku mencintainya begitu dalam, sedangkan dia? Kenapa kau buat pernikahan, janji suci itu sebagai jarak? Kenapa Tuhan? Kenapa kau buat dia mengagungkan janji pernikahan itu Tuhan? Janji pernikahan yang tak pernah kumiliki? Janji pernikahan yang tak sedikitpun menyiratkan namaku, hamba-Mu yang Kau buat mencintainya begitu dalam? Ini tak adil Tuhan!

Untuk kesekian kalinya aku menyalahkan Tuhan atas perasaanku. Aku juga sering menyalahkan Tuhan karena tak membuatku lahir sebagai jodohnya, tak menuliskan namaku sebagai pendampingnya. Tak menjadikannya sebagai lelaki yang mengucapkan ijab Kabul untukku, yang memberikanku senyuman pertama ketika kumembuka mata di pagi hari, mengatakan ‘I love you’ untukku, memelukku ketika aku terluka dan menangis, dan menjadi ayah dari anak-anakku.

Tuhan malah menjadikannya sebagai milik orang lain, yang membuatnya menikahi wanita itu, mengatakan kata cinta, memeluk, dan tersenyum untuk wanita itu, dan menjadi ayah dari anak-anak, wanita itu. Kenapa Tuhan membuatku jauh lebih muda darinya, bertemu dengannya pada waktu yang tak tepat, membuatnya menjadi orang yang menyucikan pernikahannya dan tak sekalipun melihat yang lain selain istrinya? Kenapa Tuhan membuatku menangis dan hancur dengan pesan singkat darinya :

 

“Maaf Ana, saya mengantarkan istri saya saat ini. Teks kamu, kamu taruh di meja saya saja. Besok akan saya koreksi, Jumat bisa kamu ambil.”

 

Kenapa Tuhan mempertemukanku sebagai seorang murid dan guru dengannya?

 

****The End****

 

 

 

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s