Jarak (yang Lain)

LDR-long-distance-relationships-32911371-500-300Awalnya aku tak menyadari bahwa gadis itu menyimpan sesuatu untukku. Aku merasa biasa saja, bahkan tak menyadari setiap kehadirannya, tapi lama-kelamaan aku tahu. Aku tahu bahwa dia menunda setiap apa yang akan dilakukannya hanya untuk melihatku melintas, berusaha tepat waktu setiap jam pertama di hari Senin karena tak ingin sedetikpun melewatkan perkuliahanku, memakai sepatu lebih lama di luar masjid untuk melihatku bedzikir ataupun shalat, berkali-kali mengantarkan temannya konsultasi tugas saat tugasnya sendiri sudah beres hanya untuk melihatku di ruang dosen, rela berdiam diri di bawah terik matahari di lapangan parkir hanya untuk melihatku bekerja dari jendela ruang dosen, tak peduli apa yang temannya katakan saat dia menyiratkan aku di media sosial, tugas, serta pendapat-pendapatnya.

Dan layaknya seseorang yang ditugaskan untuk professional memberikannya ilmu bukan yang lain, aku tak mungkin membalas tatapannya, senyumnya, bahkan cintanya. Aku bersyukur ketika selalu ada yang mengajakku berbicara usai shalat sehingga aku bisa melenggang keluar masjid dengan berpura-pura tak tahu dia di sana, serta kebiasaanku berjalan cepat membuatku merasa cepat terselamatkan dari pandangannya, dan selamat lagi dia tak memintaku untuk menjadi temannya di media sosial mungkin karena dia tak ingin aku dan teman-teman dosen tahu kegalauannya karena aku.

Siang itu aku memiliki jadwal mengajar pukul 10.00 pagi, dan pukul 09.00 aku telah sampai di depan lift. Aku lihat gadis itu sibuk dengan handphonenya sampai kurasa dia tak tahu aku di sana. Dia hendak ke lantai atas, dengan menggunakan tangga tapi temannya yang kurasa tahu dia menyimpan perasaan padaku rupanya tahu aku di situ dan menariknya untuk menunggu lift. Setelah gadis itu menyadari aku di sampingnya dia menatap temannya dengan senyum tertahan dan mencubitnya dengan keras. Ketika kami berada di lift bersama dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya, aku yang juga memiliki perasaan layaknya lelaki lain ingin ‘memperkenalkan’ diriku kepada gadis yang menyukaiku sebagai lelaki yang peduli. Meski aku berdiri paling belakang di lift aku bertanya (sebenarnya pada gadis itu), “Lantai berapa mbak?” tetapi perempuan yang lain yang menjawabnya, “Lantai 6 pak, terima kasih.” Gadis itu hanya menahan diri untuk tidak merasa berlebihan di depanku, namun ketika dia keluar di lantai 3 bersama denganku dia mencubit temannya yang tak sengaja dia temui di depan lift dan terdengar menhan tawanya. Aku memasuki ruang dosen dengan senyumku.

Aku selalu terhibur ketika bertemu dengan mahasiswaku itu, sikapnya yang berubah menjadi aneh di depanku selalu menimbulkan tawaku meski aku harus menahannya terlebih dahulu untuk tak tertawa di depannya. Tapi sore itu, ketika aku menatap mendung di luar ruang dosen dari jendela lantai 3 itu aku melihat lapangan parkir dan entah kenapa teringat gadis aneh itu. Dan sepertinya Tuhan melihat pikiranku, gadis itu sedang menatap jendela di mana aku berdiri kini, dan tersenyum ketika tahu aku sedang melihat ke luar jendela. Aku tersenyum kembali padanya, oh Tuhan! Apa yang kupikirkan?! Dia menatapku dengan heran, lalu tersenyum kembali. Aku menyadari apa yang kulakukan, aku pergi dari sisi jendela itu dan mulai menyesali senyumanku yang kuberikan padanya sesaat yang lalu. Bagaimana kalau dia mengartikan berlebihan? Tuhan, aku akan menyakitinya dengan senyumku itu, maafkan aku Tuhan.

Pagi itu aku memutuskan untuk tak lagi duduk di pinggir jendela untuk menghindari hal-hal yang tak seharusnya kulakukan seperti saat itu. Tetapi kurasa takdir berkata lain, tepat setelah aku memindahkan barang-barangku sebuah surat datang di mejaku menyatakan bahwa gadis itu berada di bawah bimbinganku untuk skripsinya. Oh Tuhan, selamatkan hamba-Mu ini. tetapi aku tak memiliki pilihan lain selain menerimanya, aku harus professional.

Dia adalah gadis yang brilian, dia selalu memenuhi tugas tepat waktu, menulis review 7 jurnal satu minggu dengan baik, penulisan proposal dengan tepat, dan memiliki pemikiran yang out of the box. Kelemahannya hanyalah aku, sebagai dosen pembimbingnya. Dia selalu canggung dan kehilangan kata-kata jeniusnya di depanku, tapi tulisannya selalu maksimal mungkin karena dia tak menulis di depanku.

Aku mulai menikmati setiap waktu bersama mahasiswaku itu, Tuhan aku seharusnya berhenti, aku tak ingin terjadi hal-hal yang tak seharusnya terjadi. Aku memiliki jarak professional dengannya. Aku hanyalah seseorang yang harus memberikan ilmu padanya, hanya ilmu, bukan yang lain. Aku tak ingin nantinya dia tak fokus dengan skripsinya dan malah terfokus denganku jika aku memberinya perhatian lebih. Aku juga memiliki jarak yang tak mungkin kulintasi demi tertawa dengannya, pernikahanku. Aku mencintai istriku dan keluargaku, dan dia akan terus tersakiti dengan jarak itu jika ia terus mencintaiku.

Pagi itu gadis itu terlihat memiliki urusan dengan dosen lain dan seperti biasanya dia mencoba tersenyum padaku. Aku ingin dia berhenti, aku mengambil handphoneku dan berpura-pura menelpon istriku. Kurasa dia meredam perasaannya ketika aku menyebut panggilan ‘sayang’ pada istriku, dan dia pergi tanpa melihatku ketika urusannya selesai.

Besok aku memiliki janji konsultasi dengan mahasiswaku itu, dan aku berniat untuk tak menghadiri konsultasi itu. Aku benar-benar tak ingin dia mencintaiku lebih dalam, terlebih bagiku. Aku adalah pria beristri. Hari itu setelah satu jam lebih lama dari jam sudah dijanjikan untuk konsultasi aku menerima pesannya menanyakan apakah konsultasi jadi dilakukan, saat itu aku meilhatnya menunggu di luar ruang dosen dan aku sengaja tak menempati tempatku. Aku membalas pesan itu 30 menit kemudian, dan kulihat dia meninggalkan tempat dengan mata berkaca-kaca.

“Maafkan aku, aku ingin kau berhenti mencintaiku. Aku sudah berkeluarga, aku mencintai istriku, anak-anakku, dan keluargaku. Aku tak ingin semua itu hilang jika waktu membuatku melihatmu, mencintaimu. Berhentilah mencintaiku Ana Semoga pesan singkatku itu menjadi hal terakhir yang membuatmu menangis. Aku tak ingin lukamu lebih dalam,” bisik batinku melihatnya keluar dari ruanganku sambil membaca berulang kali pesan dariku.

 

Isi pesan itu :

“Maaf Ana, saya mengantarkan istri saya saat ini. Teks kamu, kamu taruh di meja saya saja. Besok akan saya koreksi, Jumat bisa kamu ambil.”

 

****The End****

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s