Train 2 – First Sight (Part 2)

mariage-03            Besok, besok adalah hari besar. Hari besar seperti ketika mungkin pada cinderella, snow white, dan kawan-kawannya datang menuju istana dan kata-kata ‘happily ever after’ dituliskan pada sebuah buku dongeng. Semoga, huh. Aku membaca setiap dongeng-dongeng terkenal walt disney tersebut the bride atau pengantin wanita selalu dengan senyumnya menuju ke dalam istana sang pangeran. Tapi aku? Hmm…

Kukatakan kembali, dunia tempatku berada bukanlah dunia dongeng yang begitu indah dan jatuh cinta pada pandangan pertama. What? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Apakah aku dan Evan seperti itu? Aku tak mengenalnya sebelum hari-hari di kereta itu? Dan sebelum dia melamarku pun aku tak pernah sekalipun berbicara dengannya. Tuhan, bagaimana jika nantinya aku tak bisa memahami dia? Dan bagaimana jika ini semua hanyalah obsesi sementara kami berdua?

Pikiran-pikiran buruk itu terus mengejarku, semakin aku ingin menenangkan hatiku selalu saja muncul pertanyaan-pertanyaan baru. Aku memutuskan keluar rumah tanpa seorang pun tahu termasuk Farah yang terlihat begitu sibuk menyusun karangan bunga untuk dekorasi. Aku berjalan menuju stasiun kereta, menggenggam ipod dan memutar lagu anak-anak berharap bisa melupakan apa yang kupikirkan kini. Minimarket yang terletak dekat stasiun serasa memanggilku untuk membeli beberapa makanan ringan sebelum menyegarkan pikiranku.

Aku membeli beberapa makanan ringan dan kopi untuk sejenak menenangkan pikiranku. Aku duduk di salah satu bangku tunggu, dan teringat di sinilah aku pertama kalinya melihat seorang lelaki yang terlihat terburu-buru dan kereta datang tepat setelah lelaki itu menginjakkan kaki di depan bangku ini. Dan kini lelaki itu akan menjadi suamiku esok, jika Tuhan menghendaki-Nya.

Kereta datang dan para penumpang keluar. Aku teringat ketika Evan menatapku dengan heran ketika aku meninggalkannya begitu saja setelah aku tahu dia mengenakan cincin di jari manis tangan kirinya. Aku tersenyum geli membyangkan kejadian itu.

“Ellen? Apa yang kau lakukan di sini?” ucap seorang lelaki menegurku.

“John? Oh aku hanya merindukan stasiun ini. Kau baru pulang?” kulihat lelaki tua itu duduk di sampingku.

“Seperti yang kau lihat, haha. Bukankah kau menikah esok hari? Kau seharusnya berada di rumahmu, beristirahat untuk esok. Aku tak ingin melihat kau dengan kantung mata besar esok,” ucapnya.

“Ya, tapi aku hanya ingin di sini sebentar saja,” senyumku.

“Kau memikirnya terlalu keras bukan?” tanyanya menyeringai.

“Ah kau, seperti pengantin pada umumnya bukan? Haha.”

“Benar kau, haha. Apa yang kau risaukan? Kurasa Evan pemuda baik-baik, dan aku menyukai kalian berdua, terlebih dengan opini Washington Postnya. Haha,” tawanya.

“Kau membacanya juga? Oh God, haha.”

“Apa yang kau risaukan Ellen? mungkin aku bisa membantumu,” senyumnya.

“Hmm.. aku tak tahu John. Aku hanya memikirkan bagaimana nanti aku akan menjalani pernikahan ini. Sebelum melamarku aku tak pernah berbicara dengan Evan, tidak satu katapun. Dan aku begitu saja menerimanya ketika dia menginginkanku. Aku juga sedikit sekali tahu tentangnya. Aku khawatir ini hanya keinginan sementara kami berdua,” aku menunduk.

“Lalu apakah kini kau mau dia jauh darimu?” tanyanya menyelidik.

“Maksudmu?”

“Apakah kau tak merasa sedih atau merindukannya ketika dia tak di sampingmu? Apakah kau tak menangis ketika melihat jarinya bercincin bukan denganmu?” senyumnya.

“Oh John, sejak kapan kau menjadi ahli cinta seperti ini.”

“Haha, aku memang ahli cinta Ellen. Jangan kau anggap aku hanya mampu mengomel untuk orang-orang yang tak peduli pada sampah, dan musim gugur. Haha.”

“Bagaimana kau tahu?” aku heran.

“Itu yang semua orang pikir mengenai aku Ellen, haha.”

Aku tersenyum menepuk bahunya.

“Kau tahu? Dulu ketika aku menikahi istriku aku juga tak mengenalnya sama sekali. Bahkan melihatnyapun belum pernah sekalipun,” ceritanya.

“Bagaimana bisa John?”

“Aku dijodohkan dengannya. Dia adalah anak dari teman lama ayahku. Bahkan aku baru tahu setelah 3 tahun menikah bahwa ketika dia menikah denganku dia masih memiliki seorang kekasih, tapi dia meninggalkannya untuk menikah denganku dan menuruti apa yang dikatakan orang tuanya. Aku tak memiliki perasaan apapun padanya saat menikah, tapi aku menghormatinya sebagai istriku. Tapi aku selalu melakukan yang terbaik untuk mencoba memahaminya, begitupun juga dia. Dia merawatku dengan baik, tapi saat itu kami masih sama-sama canggung. Even, we never touch each other until a year. Kami ingin mengenal satu sama lain terlebih dulu. Setelah berjalannya waktu, meski masih belum mengakui bahwa kami mencintai satu sama lain kami tahu kami saling membutuhkan dan tak bisa jauh. Aku masih ingat ketika dia berjalan dari rumah menuju ladang dengan tergesa-gesa dan wajah khawatirnya saat langit memperlihatkan mendung tebalnya, hanya untuk memintaku menghidupkan api di perapian. Tapi saat itu aku tahu dia mengatakan hal itu agar aku pulang dan tak berada di luar rumah saat badai datang. Karena aku bukanlah orang yang begitu saja pulang ketika belum benar-benar melihat badai di depan mataku. Oh Tuhan aku merindukannya,” ucap John.

“Oh my God, aku bisa merasakan kau begitu mencintainya John,” ucapku.

“Ya, aku begitu mencintainya Ellen. Jika Tuhan memberikanku kesempatan untuk hidup kedua kalinya nanti aku akan tetap memilihnya sebagai istriku. Dia juga mengatakan hal yang sama padaku. Aku tak menyangka aku akan mencintainya seperti ini saat aku menikahinya dulu, begitu juga dia. Ellen, hanya satu yang perlu kau ingat. Setiap hari adalah hari baru akan ada hal-hal baru yang dunia tunjukkan padamu dan kau harus memahaminya untuk mengenal dunia dengan baik. Kau pasti telah mengetahui hal ini karena kau jurnalis. Begitu juga dengan pernikahan,” ungkap John.

“Lalu bagaimana kalau dia memiliki hal-hal yang tak kuketahui John? Aku takut aku tak mengenalnya.”

“Kau akan tahu segalanya mengenai suamimu. Kau akan menjadi orang yang terbaik dalam mengenalnya. Bertahanlah, kau menyayanginya begitupun Evan. Mungkin kau berpikir apakah ini hanya obsesi sementara kalian berdua kini, tapi kau tak kan tahu jawabannya ketika kau barehenti di sini dan kau akan tahu jawabannya ketika kau telah menjalaninya. Bertahanlah, buka mata, telinga, dan hatimu jangan kau berhenti hanya karena ada hujan di depanmu karena Tuhan memberikan keindahan setelah hujan itu sendiri. Yakinlah akan hal itu Ellen, kau akan mengenalnya dengan begitu baik dan menjadi yang terbaik dan jangan menyerah untuk orang yang kau cintai,” John menepuk bahuku.

“Ya John aku mencintaimya sangat mencintainya,” aku menyadari sesuatu dalam kata-kata John.

“Oke, kurasa kau sudah sedikit mereda Mrs. Jefferson. Aku harus pulang menemui istriku Ellen. Aku merindukannya karena perbincangan ini,” ucapnya tersenyum.

“Baiklah, terima kasih banyak John atas cerita dan nasihatmu. Kurasa aku tak kan bisa setenang ini jika tak bertemu denganmu,” aku memeluknya.

“You’re welcome sweetheart. Sekarang pulanglah, beristirahatlah untuk hari besarmu esok. Jangan sampai kantung matamu lebih terlihat dari eyeshadowmu,” tawanya.

“Ah kau bisa saja. Haha. Baiklah. Terima kasih John. Jangan lupa ajak Renee besok, bye John,” pamitku pada John dan kami pun berjalan berlawan arah karena rumah John tak berada pada jalan yang sama dengan rumahku.

 

Ya, semua ini membutuhkan waktu dan aku kan mengenalnya lebih baik setelah aku menikah dengannya. Bagaimana aku bisa mengenalnya dengan baik ketika aku meragukan diriku sendiri seperti saat ini. Tuhan, I’ll be the best wife in the world.

“Oh God! What are you doing here?!” ucapku kaget ketika melihat Evan begitu saja muncul di hadapanku dengan wajah datar dan mencoba menakutiku.

“Haha, surpriiseeee. J” ucapnya bangga karena berhasil mengagetkanku.

“Kau begitu jahil Evan asal kau tahu,” aku berjalan meninggalkannya dengan memasang wajah cuek.

“Terima kasih aku tahu itu,” dia mengambil kripik kentang di tanganku.

“Wait, bagaimana kau tahu aku di sini?” tanyaku heran.

“GPS, dan apa yang pengantin wanita lakukan di stasiun semalam ini?” ucapnya menyelidik.

“GPS? Kau memata-mataiku sekarang?” tanyaku melotot.

“Tidak sayaaang, aku hanya ingin tahu apa yang kau, calon istriku, lakukan. Dan aku sedikit heran ketika titik merah itu berada pada stasiun bukan rumahmu. Apa yang kau lakukan di sini?” Evan menjelaskan.

“Hmm.. aku pergi ke tempat aku tahu kau pertama kalinya, karena aku khawatir tak bisa menjalani esok dan esok-esoknya lagi denganmu,” jelasku,

“Why? Kau tak yakin?” wajah Evan berubah.

“Ya, aku khawatir tak mengenalmu dengan baik Evan dan takut menjadi istri yang buruk bagimu. Tapi lalu aku bertemu dengan John dan…” aku menjelaskan semua cerita John.

“Kau tahu? Aku menyukai mengenal orang dengan baik, orang-orang baru. Dan setiap hari aku bertemu dengan orang-orang baru.dan aku tahu semua itu membutuhkan waktu untuk mengenal mereka semua. Kita bisa mengenal satu sama lain dengan baik pasti, aku yakin. Jangan terlalu khawatir sayang, kau akan menjadi the best wife in the world.” Dia mencium keningku.

“Ya, I will!” aku menatap matanya.

“Oke, sekarang agar kau tahu aku dengan baik aku akan mengungkap sebuah rahasiaku padamu,” Evan mengubah wajahnya serius.

“What is that?” aku penasaran.

“Aku bisa kentut di mana saja, termasuk ketika tidur denganmu,” tawanya.

“I know that! Aku tepat di sampingmu dan belum menatap mataku ketika kau melakukannya saat tertidur. Hahaha.” Aku tertawa.

“Benarkah? Well, sekarang kau telah tahu akau dengan baik. Hahahaha.”

 

Kami pulang dengan tawa seakan melupakan ketegangan akan hari besar esok. Dan tentu saja kami mendapat kemarahan Farah ketika Evan sampai mengantarku di rumah. Gadis itu memang telah memberikan Evan peringatan untuk tak menemuiku sebelum pesta pernikahan sejak 3 hari yang lalu. Tapi Evan dengan jahilnya memeluk adiknya itu dan mengambil makanan lalu berlalu meninggalkan Farah yang masih mengomel. Aku tertawa melihat hal tersebut, kurasa aku akan bahagia bersama mereka.

 

Tobe continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s