Malam Takbir Kali Ini

Photo1214

Waktu berlalu begitu cepat, terlebih ketika waktu yang dilalui penuh dengan kebahagiaan dan merupakan hari-hari yang tak biasa, Ramadhan. Dan tibalah kini malam untuk menyambut hari yang disebut sebagai kemenangan, malam Idul Fitri. Malam yang dipenuhi dengan gema takbir, tahlil, dan tahmid. Mengagungkan nama-Nya, sebagai ungkapan syukur akan ‘kemenangan’ yang akan segera tiba.

Malam takbir saya rasa semakin tahun semakin sepi. Entah dari pandangan saya sendiri atau mungkin pembaca merasakan hal yang sama. Dulu malam takbir terasa sebagai malam terindah dalam satu tahun, bisa bersama dengan kawan-kawan takbiran di langgar, berlari ke sana ke mari untuk sekedar meminjam kaleng cat, galon, ataupun kentongan untuk mengiringi takbiran di langgar. Tapi sekarang? Hmm.. tak ada semua itu, hanya sibuk sendiri dengan urusan rumah, tak ada lagi lari ke sana ke mari untuk kepentingan takbiran.

Dari tahun ke tahun, saya mencari apa penyebab dari semua itu dan baru tahun ini menyadari mungkin umur yang semakin tua, pikiran yang semakin dipenuhi dengan hal-hal lain yang seringkali tak lebih penting, komentar sana-sini mengenai urusan dunia dan ‘kesibukan baru’ wirid gadget. Idul fitri semakin terkesan sebagai kesibukan membuat kue-kue, membersihkan rumah, dan menatanya sedemikian rupa, tak lebih.

Ya saya rasa memang hal-hal itu yang menyebabkan malam takbir saya semakin kurang greget. Terlebih malam ini, malam takbiran bersama dengan periode kontroversi pemilu. Sebagian besar pikiran masih terus mengamati apa yang terjadi dengan kontroversi itu. Komentar sana-sini, memuji menjelekkan sana-sini. Memang benar pernyataan “semakin banyak yang didengar semakin banyak masalah.” Terbukti, dulu saat masih jaman-jaman ‘hanya peduli dengan malam takbiran, dan segala kepentingan takbiran’ saya tertawa lebih bebas, merasa sangat bahagia, dan merasakan apa yang disebut sebagai ‘puas.’

Tak hanya pengaruh berita yang semakin mengakar, tetapi budaya wirid gadget yang semakin marak dan terjadi pada diri saya sendiri juga penyebab sebagai kurang serunya malam takbiran. Takbiran 5 menit, bingung lihat handphone, buka medsos, update, selfie. Ah, kurasa semakin rusak saja diri ini. Bagaimana mau menikmati dan fokus pada malam takbiran ketika tangan dan pikiran tak berada di satu tempat yang sama.

Saya semakin merindukan masa kecil, dan malam-malam takbiran yang benar-benar membuat bahagia itu. Dulu saya tak berpikir sama sekali kalau akan seperti ini rasanya malam takbiran ketika saya sudah tua. Tetapi inilah yang terjadi, meski tak dapat dipungkiri rasa syukur tetap ada tetapi tak sebesar dan sebahagia saat dosa tak sebanyak umur saya ini.

Selamat Idul Fitri, fokuslah pada malam takbiran ini. Tinggalkan kontroversi-kontroversi yang sedang terjadi, tidurkan gadget, dan agungkan nama-Nya, syukurilah waktu yang telah diberikan-Nya, sambut kemenangan dengan kedua tangan terbuka, jangan hanya memeluk gadget anda. Isilah masjid, langgar, musholla dengan alunan takbir dari suara anda jangan biarkan rekaman yang mendapatkan pahala lebih banyak dari anda.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laailahaillallah hu Allah hu Akbar Allahu Akbar Wa Lillah Hilham. Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. Maafkan saya ya kalau selama ini saya banyak salah, dan ada tulisan-tulisan saya yang kurang mengenakkan. 😀

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s