Train 2 – Love No Plan (Part 3)

23705_XXX_v1-w2000Ketika semua orang tertidur mereka tak akan tahu apa yang terjadi ataupun mereka lakukan. Sama dengan yang kini berada di sampingku yang masih bercengkerama dengan lelapnya, bayipun tak dapat mengalahkan kelelapannya. Aku begitu menyukai pagi saat aku melihatnya tidur, melihat suamiku tidur. Suami? Haha masih terdengar canggung olehku. Walau sudah 7 hari lamanya Evan menyadang gelar tersebut, tetapi masih tetap saja belum terbiasa dengan sebutan tersebut. Hehe.

Aku ingin sekali mengganggu tidurnya saat ini, tapi aku tak akan membiarkannya membuka mata ketika dia masih harus menunggu untuk perut kosongnya itu. Aku meninggalkannya menuju dapur melihat apa yang kami miliki untuk sarapan pagi ini. Aku membuat dua buah omelet dan dua gelas susu untuk sarapan pagi ini. Aku menaruhnya pada meja makan dan membuka jendela untuk membiarkan udara bersih masuk, dan berjalan dengan penuh semangat menuju kamar untuk saat yang kutunggu, mengganggu Evan dari tidurnya. Haha, hal yang paling menghibur setiap pagi.

Aku memencet hidungnya tanpa kata-kata. “Ouch!” responnya.

“Haha, bangun sayaang,” aku mencium pipinya.

Evan tersenyum dan memelukku, “Ayolah, tidur saja kita masih memiliki banyak waktu sayaang.”

“Aku tak akan membiarkanmu kelaparan hanya karena kau lebih mencintai tidurmu daripada aku,” ucapku.

“Hmm? Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?” Evan memasang wajah heran beserta senyumnya.

“Kau bisa begitu setia dengan tidurmu tanpa memedulikan aku yang setiap hari menatapmu saat pagi hingga setengah jam lamanya,” aku memasang wajah cemberut.

“Benarkah? Kenapa kau melakukannya?” Evan menyelipkan rambutku di belakang telingaku.

“Kau ingin tahu mengapa? Tunggu di sini,” aku bergegas mengambil kameraku.

Aku menunjukkan foto yang aku ambil saat Evan tertidur di stasiun dulu.

“Oh my God, kau seorang paparazi? Tapi aku terlihat begitu tampan saat tertidur,” Evan mengamati fotonya sendiri.

“Aku menyesal memberitahukannya padamu,” aku menjulurkan lidahku.

“Kapan kau mengambil foto ini? Ini di stasiun bukan?” tanyanya penasaran.

“Tak ingat tepat kapan, tapi kurasa itu saat pertama kalinya aku mengamati tidurmu,” aku tersenyum.

Pagi itu berlanjut dengan candaan tentang tingginya rasa percaya diri lelaki yang telah seminggu lamanya menjadi suamiku ini. Sungguh, aku bahagia. Tuhan aku mencintainya.

*****

Hari ini kami berencana untuk berlibur tanpa arah. Berjalan tanpa arah tapi tetap di dalam Illinois. Hari cuti kerja Evan berakhir hanya sampai nanti malam, besok pagi dia harus kembali bergelut dengan buku-bukunya. Tempat yang pertama kali kunjungi jelaslah stasiun, membeli kopi, dan duduk di tempat tunggu. Evan menyandarkan kepalanya di pangkuanku.

“Ellen, aku tak tahu jika saat itu aku berkeras untuk tetap bekerja di LA apa yang kini terjadi padaku. Aku tak kan mungkin sebahagia ini,” ucapnya tersenyum.

“LA? Kau dulu bekerja di sana?” aku baru mengetahui hal ini.

“Ya, dulu aku pustakawan di LA, tapi aku dipindahtugaskan ke Illinois dan aku sempat menolak pada awalnya karena aku menyukai pantai di sana,” ucapnya mengenang.

“Kau terlihat merindukannya?” tanyaku.

“Yeah.”

“Kita bisa ke sana suatu saat jika kau mau,” ucapku.

“Benarkah? Kau bisa?”

Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum, “Anytime.”

“Baiklah besok kita berangkat, LA,” Evan bangun dan menarikku pergi.

“Besok? Kau bercanda? Bukankah kau harus bekerja?”

“Ya, aku akan memperpanjang cutiku hari ini. Kita akan sangat sibuk hari ini, aku akan menelpon tempat kerja. Lalu kita bisa membeli tiket dan bersiap,” ucapnya bersemangat.

Aku begitu terkejut ketika dia benar-benar menelpon seseorang yang kurasa atasannya, dan berlanjut dengan perburuan tiket pesawat. Dia seperti seorang yang tak menyukai berpikir terlalu panjang kurasa, beda denganku. Sesuatu yang baru! Dan aku menyukainya.

******

Tengah malam ketika aku masih terlelap dalam dekapan Evan harus sedikit terusik dengan telepon yang terlihat begitu memaksa.

“Honey, teleponmu,” aku mencoba memberitahunya dengan mataku yang masih tertutup.

“Biarlah, lima menit lagi,” dia memelukku semakin erat.

Dering telepon itu terhenti, namun satu menit kemudian terdengar lagi.

“Evan, kurasa penting, sudah tiga kali menelpon,” aku melihat layar handphone itu.

“Hmmmm.. aku tak menyukai siapapun yang mengganggu kita,” ucapnya dengan wajah setengah terlelap.

Aku memberikan handphone itu padanya.

“Ya?” ucapnya.

Seketika itu dia membuka matanya lebar-lebar, dan bangun dari tidurnya.

“Oke, aku segera ke sana,” tutupnya.

“Evan? Ada apa?” tanyaku.

“Ada sedikit masalah sayang dan aku harus pergi,” dia berdiri mengganti bajunya.

“Kemana? Ini tengah malam sayang? Apakah itu atasanmu?”

“Ya, harus ada beberapa hal yang kuselesaikan, tak ada waktu menceritakannya sekarang. Besok tunggu aku jam 7 di bandara, aku akan langsung ke sana. Oke? Sekarang kau lanjutkan tidurmu, aku tak ingin kau tidur di sepanjang perjalanan di pesawat,” dia menciumku dan berlalu.

“Evan? Tak ada sesuatu buruk yang terjadi bukan?”

Dia menghentikan langkahnya dan berbalik, “Tak ada yang perlu kau khawatirkan sayang, seperti berita yang tak bisa menunggu kapan jurnalisnya siap bukan?”

Evan memelukku, “Aku akan menceritakannya nanti saat di pesawat, oke?”

“Oke, kau berhati-hatilah.”

 

Aku melihatnya berlalu dengan matic yang dulu ia gunakan untuk menghiburku waktu ibuku meninggal, aku tersenyum mengingat hal itu. Bagaimana bisa ia bolak-balik melintas di depan rumahku hanya untuk memancingku keluar? Kenapa dia tak mengetuk pintuku saja? Tapi mungkin tak seberkesan ini jika dulu dia hanya mengetuk pintu rumahku.

Sulit sekali untuk kembali menutup mata, sebenarnya apa yang terjadi? Hingga Evan harus pergi pada tengah malam seperti ini? Apakah kini dia baik-baik saja? Oh Tuhan..

*****

Tepat pukul 7 pagi aku sampai di bandara, mencari tempat duduk untuk menunggu Evan. Pesawat kami berangkat pukul 08.30, aku mengirimkan sebuah pesan kepada Evan mengatakan di mana aku sekarang agar dia mudah menemukanku.

Jam 08.10 aku mulai sebal saat tak juga kutemukan batang hidungnya. Dia juga tak membalas pesanku, hmmm… Pukul 08.14 Evan menelponku.

“Sayang, kau dimana?” ucapnya.

“Kau tak membaca pesanku?”

“Sudah, hihi.” Dia tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” ucapku kesal.

“Karena aku tepat di belakang tempat dudukmu sejak 5 menit yang lalu,” ucapnya.

Aku menatapnya kesal, tapi entah tertawa juga. Dia duduk 2 baris di belakangku tepat.

Dia berjalan padaku dan segera melihat wajah kesalku.

“Sorry,” dan tersenyum seperti seekor puppy yang lapar dan meminta tuannya untuk memberi makan.

“Kau tak apa?” kulihat wajahnya yang terlihat lelah itu.

“Totally happy!”

*****

Dia lagsung menguap ketika duduk di pesawat. Aku tak tega untuk menanyainya tentang semalam. Tapi rasa penasaranku? Kubiarkan 5 menit, dan dia masih berbicara.

“Evan? Sebenarnya apa yang terjadi? Hingga kau harus pergi tengah malam?” ucapku.

“Sometimes not everyone is good guy,” jawabnya singkat.

“Dan? Maksudmu ada yang mengacaukan perpustakaanmu?” aku kurang mengerti apa yang dikatakan Evan.

“Ya, tak hanya pada perpustakaan Ellen. Tapi juga orang-orang yang berhubungan dengan perpustakaan itu sendiri. Sayang, aku tak ingin kau memikirkan ini dan tak fokus pada honeymoon kita. Aku tahu kau penasaran, just please. Hold it, kau akan berbulan madu, lupakan dunia beritamu sejenak saja. Please..” dia memohon padaku.

Aku tersenyum padanya, “Apakah ini honeymoon?” aku bertanya, karena memang tak

ada rencana sebelumnya.

“Tentu saja, apakah ini bukan?” tanyanya.

“Kukira honeymoon harus ada perencanaannya dan kita belum membuatnya sama sekali,” I’m confused.

Evan tersenyum, “Kenapa harus direncanakan ketika kita bisa langsung melakukannya? Perencanaan hanya akan mengurangi keindahannya sayang,” dia tersenyum padaku, dan beberapa saat kemudian dia terlelap. Hmm..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s