Train 2 – Elf (Part 6)

lord-of-the-rings-www-harebellblog-blogspot-com        Sungguh aku merindukan kehadiran anggota keluarga baru. Aku selalu bermimpi akan adanya kehidupan baru di dalam perutku, membayangkan segala yang akan terjadi ketika aku mengandung selalu membuatku tersenyum. Merengek manja pada suamiku yang penuh kejutan itu, berdebat untuk nama calon buah hati kami, merasakan gerakan pertama di dalam rahimku, ah sangat momen yang selalu kutunggu.

Hmm, tapi akan lebih baik jika aku bersabar sekarang. Aku belum memenuhi kuota berita untuk hari ini dan jam makan siang sudah tiba. Lebih baik aku mengisi perutku dengan makanan terlebih dahulu, sebelum aku kelaparan dan mungkin pingsan di jalanan.

Aku menunggu videocall sambil menyeruput jus yang kubeli di kedai kecil di pinggir jalan bersama dengan sepotong roti dan kentang goreng. Ah, tak kunjung dating juga videocall darinya. Ah, apakah dia terlalu sibuk dengan buku-bukunya itu kini? Semoga dia tak lupa dengan makan siangnya? Apakah kini dia sedang makan siang? Dengan sereal? Demi tinta dan kertas, bagaimana bisa dia makan makanan yang sama berturut-turut. Tapi itu merupakan sebuah keuntungan bagiku mengetahui kebiasaan makan dari calon ayah dari anakku itu, melihat aku tak terlalu mahir seperti  ibuku dalam urusan dapur.

Aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Dia berikan. Tuhan begitu adil pada hamba-Nya yang tak pandai memasak ini. Dia memasangkanku dengan partner hidup yang mampu mengisi kekosonganku tersebut. Tidak! Jika kalian pikir Evan memiliki tangan dan kemampuan bak seorang chef, kalian salah besar. Maksudku dengan Evan mampu mengisi kekuranganku itu adalah dia bisa makan dengan menu makanan yang sama setiap hari, tremasuk sereal, omelet sayur, roti selai, dan makanan-makanan sepele seperti itu lainnya. Hehehehe.

“Ayolah Evan, jam makan siang hampir habis dan aku belum mengejar beritaku!” gumamku ketika mengetahui Evan tak juga menelponku, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Mungkin dia terlalu sibuk hari ini, aku tak harus menunggunya. Aku hanya akan mengirimkan pesan padanya, mungkin dia akan membalas. Aku harus kembali memburu beritaku.

*****

Ada apa dengannya? Tak ada satupun pesan ataupun panggilan dari Evan. Oh Tuhan, semoga dia selalu berada pada lindungan-Mu.

Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi benakku, terlebih ketika tahu Evan memiliki bakat bagai ‘gangster.’ Mulai luka di punggungnya hingga malam perkelahian di Los Angeles saat itu. Ah, seperti yang kukatakan, dia begitu penuh dengan kejutan. Berbeda dengan ekspektasiku pada saat aku menerima tangannya di Federal Triangle Station beberapa bulan yang lalu. Kupikir dia adalah seorang pustakawan, yang memiliki pemikiran setenang perpustakaan, tak teralu menyukai ‘bergerak’ layaknya buku tanpa pembaca. Tapi ternyata dia lebih baik disebut sebagai ‘buku’ itu sendiri. Dia tenang dan tak terlalu bisa bergerak seperti buku pada bentuk fisik / covernya. Tapi isi dari buku itu sendiri mampu memberikan ide-ide bahkan sampai menggerakkan orang lain untuk berbuat yang tak terduga-duga.

Oh seharusnya aku membaca buku itu terlebih dulu. Aku berpikir terlalu panjang hingga pintu flat yang selalu melindungiku dari panas, hujan, badai, berada tepat di depanku. Aku hanya berharap buku kesayanganku itu kini sedang baik-baik saja.

Hmm.. Tuhan aku begitu lelah, tulangtulangku seperti enggan digerakkan, bahkan untuk mandi. Aku menaruh laptoku dan menyalakannya di meja ddi depanku, siapa tahu aka nada videocall yang datang. Aku merebahkan diriku pada sofa di kamar tidurku, lagi-lagi enggan untuk berjalan menuju tempat tidur walau hanya berjarak 1,5 meter saja. Aku memejamkan mataku, lalu membukanya kembali. Mengingat bahwa tak ada satupun pesan ataupun panggilan pada teleponku membuatku sulit untuk beristirahat meski tubuhku menuntut hal itu.

Kuhembuskan nafas panjang, berkedip menatap setiap detail yang ada di kamarku. Flat ini yang menemaniku sejak aku meninggalkan Illinois. Aku tersenyum menatap rak buku di dekat meja kecil di samping tempat tidurku. War journalism, jurnalisme dan perempuan, media massa dan perempuan, dan yang paling menarik dan memiliki jumlah lebih banyak disbanding buku yang lain, novel-novel fantasi! Tolkien, Paolini, Funke, karya-karya mereka berjajar memanjang memenuhi rak buku sebanyak 2 baris, padahal rak buku itu hanya memiliki 3 baris saja. Kegemaranku menjelajahi dunia baru memang begitu tinggi, aku menganggap penulis-penulis novel fantasi adalah seorang yang sangat jenius. Menciptakan dunia yang terduga, ajaib, penuh sihir, dan wow.

Sedikit demi sedikit mataku terpejam, lalu ceklek. Aku membuka lebar mataku lagi, ada yang membuka pintu flatku. Aku begitu yakin telah menguncinya.

“Siapa di sana?” aku bergegas keluar.

Aku tertegun ketika melihat siapa yang datang, “Apa yang kau lakukan di sini?”

Dia kaget dengan apa yag aku katakan saat itu dan dengan mudah menjawab, “Oh I miss you too, surprise!” Evan tersenyum selebar-lebarnya.

Aku berjalan menuju ke arahnya dan memeluknya. Oh Tuhan aku begitu merindukannya.

“Aku merindukanmu, bagaimana kau bisa tahu dan ke sini?” ucapku sambil terus mendengarkan nyanyian jantungnya yang selalu kurindukan.

“Aku paranormal sayang, oh Tuhan kau tak mengetahui hal itu?” dia mencoba menjadi lelaki yang lucu, tapi aku tahu yang satu ini, dia tak berbakat untuk itu.

“Haruskah aku tertawa?” aku meringis dan menahan tawa, bukan untuk candaannya tetapi karena ketidaklucuan candaan tersebut.

Dia mengerucutkan bibirnya, “Yah, mungkin aku harus mengasah bakatku itu sebelum aku menjadi suami yang membosankan karena tak bisa membuat candaan,” dia mencium rambutku.

“Aku lapar,” Evan berbisik pada telingaku.

“Kau selalu pulang saat lapar? Hmm, ayo aku tahu steak yang enak dekat-dekat sini.”

*****

Aku melihatnya lama sekali memilih makanan yang disediakan di menu. Sejak kapan dia terlalu lama berpikir tentang makanan saat lapar, pikirku.

“Kentang goreng?” Dia memesan kentang goreng setelah sekian lama mengamati menu. Apa yang dia lakukan menghabiskan waktu untuk meneliti buku menu dan berakhir hanya pada kentang goreng?

“Ya, kenapa sayang? Kau mau juga?” jawabnya.

“Nope, tapi aku mengajakmu ke sini untuk menikmati steak yang selalu kuceritakan padamu sebagai steak terbaik di DC, kau yakin tak ingin mencicipinya?”

“Oh Tuhan, maafkan aku Ellen. Aku tak memberitahumu sebelumnya. Aku vegan,” dia menatapku dengan tatapan menyesalnya.

Vegan? Dia seorang vegetarian? Benarkah? Aku sedikit terkejut dengan pernyataannya itu. Setelah 2 bulan menikah aku baru tahu kalau dia seorang vegetarian? Dan untuk yang kesekian kalinya aku salah berekspektasi terhadapnya. Evan bukanlah orang yang bisa makan dengan apapun. Dia bisa makan dengan sereal, roti, atau omelet meski ada unsure hewaninya dia masih mentolerir, tapi tidak dengan daging.

“Tunggu di sini sayang,” aku meninggalkannya menuju meja kasir dan memesan makananku agar dibungkus saja. aku tak ingin emmakan daging di depan suamiku yang seorang vegetarian di hari pertama kepulangannya atau lebih tepat kunjungannya untuk minggu ini (rumah kami di Illinois).

Aku kembali ke meja dengan membawa 2 kotak makanan. Satu kotak berisi steak, dan yang lainnya berisi kentang goreng milik Evan. Dia memberikanku tatapn tanda tanya.

“Aku tak ingin kau enggan menciumku di hari pertama kepulanganmu,” ucapku tersenyum.

Dia menghela nafas dan tersenyum, “Oh, aku akan tetap menciummu meski kau harus makan daging sebanyak yang kau bisa. Aku hanya tak bisa memakannya, itu saja. Kau bisa memakannya Ellen.”

“No, please.”

“Hmm, okay. Lalu kau akan makan apa?”

“Aku tak ingin kau hanya makan kentang goreng untuk mala mini, apakah ramen mendapatkan persetujuan perutmu?” aku menatapnya dengan wajah bertanya.

“Hahahah, tentu.”

Aku menggamit lengannya dan pergi menuju kedai makanan Asia yang berada tak jauh dari kedai steak itu.

*****

 

Mentari telah menembus cakrawala ketika kubuka mataku. Evan tidur di belakangku dan masih memelukku. Kurasakan hangat nafasnya di tengkukku.aku tersenyum, dan mengingat mimpiki untuk segera mengandung anaknya. Aku menggenggam tangannya dan mengarahkannya ke perutku. Membayangkan dia akan melakukan hal itu ketika aku mengandung nanti. Berbicara kepada bayinya sebelum berangkat menuju perpustakaan, menempelkan tangannya pada perutku saat menonton televise karena tak ingin ketinggalan gerakan-gerakan yang dilakukan buah hatinya. Oh Tuhan, aku yakin dia akan menjadi ayah yang baik.

“Kau hamil?” Evan terbangun.

Aku tersenyum, berbalik menatapnya. Berharap bisa mengucapkan ‘ya sayang, anakmu bernafas di dalam rahimku,’ tetapi itu tak benar, belum. Kutangkap sorot takut di matanya. Aku menatapnya.

“Kau tak menginginkannya?” rasa penasaranku membawaku mengabaikan pertanyaannya.

Evan hanya diam dengan tatapan kosong yang diarahkannya padaku. Kenapa? Apakah dia tak ingin memiliki seorang buah hati? Tuhan? Apakah benar?

“Evan, kau tak berencana memiliki anak?” suaraku mulai bergetar.

Dia menutup matanya dan menghembuskan nafasnya, “Ellen, dengarkan aku.” Aku mendengarkan nada kesedihan di dalamnya, benar. Dia tak mengingkan anak dari pernikahan ini, aku bisa melihat dari sorot mata bersalahnya. Oh Tuhan, kenapa dia tak memberitahuku sebelumnya, setidaknya aku tak kan meemiliki harapan yang melambung tinggi. Aku masih menuntut jawaban darinya.

“Ellen, dengarkan aku. Bukannya aku tak menginginkan anak darimu, aku hanya tak ingin melakukannya, akan banyak hal berubah, dan perubahan itu tak selalu baik dan manis” ucapnya dengan penuh rasa bersalah.

“Tapi kenapa Evan? Kau tahu bukan? Aku selalu membicarakan masalah ini denganmu sejak awal, tapi kau tak pernah memberitahuku akan keinginanmu ini? Apakah kau tak ingin mengenggam tangan-tangan kecil dan berlari bermain dengannya? Apakah kau tak ingin dipanggil ‘ayah’?”

“Ellen, aku yakin hal-hal itu akan sangat indah. Tetapi kita tak bisa,” dia mengusap air mataku.

“Apa maksudmu tak bisa? Kalau kau khawatir anakmu akan mengganggu pekerjaanmu aku akan merawatnya dan akan mengajaknya bermain ketika kau tak ingin dia berada di sekelilingmu.”

“Tidak Ellen, bukan itu. Bukan karena aku takut dengan hal itu, tetapi kita tak bisa memiliki seorang anak karena kita tak sama Ellen,” kutangkap nada khawatir di dalam suaranya.

“Tidak sama?” aku tak mengerti maksud ucapannya. Aku menangis dan menyembunyikan mukaku dengan menunduk.

“Ya, maafkan aku Ellen.”

“Apa maksudmu? Apa maksudmu kita tak sama?”

Aku menatapnya, dan, “Ya Tuhan! Siapa kau sebenarnya?!”

Aku menatap seorang lelaki dengan rambut panjang coklat pekat, mata dengan iris perak, dan telinga runcing. Wajahnya begitu halus hingga tak layak dia disebut seorang manusia, karena tak ada sedikitpun tanda luka pada wajah halusnya bahkan kulit bayipun tak mampu disandingkan dengannya.

“Aku bukanlah manusia Ellen. Aku Elf. Karena inilah aku tak bisa memiliki anak darimu. Tapi aku tetap Evan yang mencintaimu.”

Aku tersentak mundur, “Menjauhlah dariku!”

Aku tersengal, kurasakan air mata di pipiku semakin deras. Dan, aku membuka mataku. Semua menjadi hening, tak ada siapapun di sana. Hanya aku, dan laptop yang masih menyala di depanku. Oh Tuhan, terima kasih telah membangunkanku. Mimpi buruk.

Aku mengecek handphoneku, dan menemui 2 pesan dari Evan.

 

“Sayang, maafkan aku. Aku tahu kau menunggu videocall dariku seperti biasanya. Tapi perpustakaan entah kenapa hari ini begitu padat. L sudah makan malam? Kumohon jangan tidur terlebih dulu.” (Pesan 1)

 

“Ellen??” (Pesan 2)

 

Sejak kami berdua harus tinggal terpisah karena pekerjaan, kami selalu menyempatkan diri untuk menatap wajah satu sama lain saat jam makan siang. Dan baru hari ini Evan tak melakukannya. Tapi syukurlah dia baik-baik saja.

Aku masih termenung, memikirkan mimpiku. Semua itu hanya karena aku menatap novel-novel fantasi itu sebelum tidur, aku meyakinkan diriku. Tetapi masih ada beberapa pertanyaan menggantung di benakku. “apakah Evan benar-benar seorang vegetarian? Oh Tuhan kenapa kau tak menanyakannya, aku hanya merasa sangat senang ketika dia bisa makan dengan menu-menu yang kusajikan, dan seingatku aku tak pernah memasak daging untuknya. Hal itu, eeeee, karena aku tak bisa mengolahnya dengan baik. Pertanyaan selanjutnya apakah Evan menginginkan anak? Oh Tuhan, aku harus menghubunginya.

Aku tersenyum ketika melihat wajahnya di layar laptopku.

“Hai..” sapanya.

“Haii. Aku merindukanmu.” Aku tersenyum getir.

“Aku juga merindukanmu sayang, kau kenapa? Apakah harimu buruk?”

“Hmm? Kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Ellen, apakah kau mengira aku lebih mengenal buku-bukuku dan mengabaikan dirimu? Aku tahu kau selalu tersenyum, tersenyum dalam arti sebenarnya ketika kau melihatku. Tetapi kau belum melakukannya.”

“Aku bermimpi buruk,” jawabku singkat.

“Mimpi buruk? Oooh, andai aku ada di sampingmu aku akan memelukmu saat ini. Mimpi apa sayang?”

Aku menceritakan detail dari mimpi yang kualami beberapa saat yang lalu, dan lagi-lagi di luar ekspektasiku, Evan memberikan respon yang sangat mengagetkan. Dia tertawa! Dan terlihat sangat terhibur dengan ceritaku, setidaknya di akhir cerita.

“Aku? Elf? Hahahaha. Apakah aku setampan legolas yang tak pernah membuatmu berkedip saat menonton film-filmnya? Oh Tuhan! Mungkin aku akan sangat bersyukur jika itu terjadi, hahhaa,” lagi-lagi dia tertawa.

Oh Tuhan, aku merindukan tawanya, tapi di luar itu semua aku merasa jengkel.

“Evan, kenapa kau tertawa? Aku serius. Itu mimpi yang sangat buruk bagiku. Kupikir kau akan sangat khawatir dan mencari kereta saat ini juga dan pergi memelukku, tapi kau malah tertawa di belahan Negara bagian lain kini? Huh!”

“Sayang, aku tahu kau tak pernah percaya dengan mimpi-mimpi seperti itu. Semua yang ada di mimpimu itu salah besar.” Ucapnya, masih dengan tertawa.

Aku tak mempedulikannya, aku hanya peduli dengan pengakuannya yang mengatakan mimpiku salah besar, “Jadi, kau bukan seorang vegetarian?” tanyaku.

“Bukan, bahkan kalau aku bisa aku akan memilih daging untuk seumur hidupku. Dan aku sangat menyukai seafood seperti kau,” dia tersenyum.

“Maafkan aku, tak pernah memasak untukmu,” ucapku menyesal.

“Kita bisa membuat makanan bersama minggu ini mungkin. Tenanglah, jangan memasangan wajah bersalah seperti itu, FYI, aku membenci brokoli.” ucapnya menenangkan.

“Padahal aku sangat menyukai brokoli. Hmmm.. Evan, lalu tentang bagian mimpiku yang lain?” aku bertanya, aku seolah enggan menyebutkannya. Aku khawatir jika dia memang tak menginginkan seorang anak, aku harus siap dengan segala jawaban yang akan dilontarkannya.

“Kids?” dia bertanya.

“Yeah?”

Hmm, aku bisa datang kepadamu saat ini juga dan …”

“Evan!” Aku tertawa, malu, tetapi juga lega mendengarkan jawabannya. Aku tahu apa yang akan dikatakannya selanjutnya. 😀

“Hahahaha, aku selalu menginginkan ada tawa, tangisan, teriakan kecil di rumah kita sayang. Menjadi seorang ayah yang baik, membelikan lollipop setiap pulang kerja, pergi ke taman bermain, mengantar sekolah. Hmm, bukankah kau selalu berpikir menjadi seorang ayah adalah hal terseksi? Haha, dan aku ingin menjadi lelaki terseksi untukmu.”

“Yeah, seorang lelaki yang disebut ayah akan lebih menarik bagiku. Tetapi aku tak setuju dengan terlalu banyak lollipop untuk anakku.” Aku tersenyum padanya.

Aku sungguh bahagia mendengarkan jawaban Evan, bahwa dia ingin menjadi ayah. Percakapan kami lanjutkan dengan apa yang telah kuekspektasikan ketika aku membicarakan masalah anak dengan suamiku itu. Dia ingin dialah yang memilih nama buah hati kami nantinya, tetapi jelas aku tak setuju. Hehe. Letak kamar anak kami nantinya, letak ruang bermain, apakah akan lebih baik jika kami membangun kolam renang atau kolam pasir saja. Ah, aku sangat bahagia. Lagi-lagi buku kesayanganku ini memberikan cerita yang mengejutkan, tak sesuai dengan mimpi burukku itu. Kau selalu mengejutkanku sayang, I love you Evan!

 

To bo continue..

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s