The Keys

63e0641bb4bb55e32db1acbc23f6ee02

Hari ini aku akan pulang ke negeriku nan jauh di sana. Negeriku yang terlalu indah namun berada di tangan yang salah. Negeriku yang seakan meronta untuk dibebaskan dari borgol-borgol perebutan kekuasaan dan gelimang pencitraan.

Masih teringat jelas di benakku, 5 tahun yang lalu. Ketika tak ada satupun yang melihat apa yang telah kukerjakan demi negeriku. Di dalam hatiku hanya satu yang utama, kunci untuk borgol itu. Kususun tangga, kutulis mantra-mantra, kucari ramuan-ramuan untuk menemukan kunci itu. Aku masih tak peduli dengan bisikan-bisikan manis akan waktu luang, yang kini kusadari saat itu diriku begitu naif. Hanya berpegang pada pijakan, “Borgol itu akan lepas dan tak akan meninggalkan jejak lagi di pergelangan tangan negeriku dengan kunci ini. Borgol itu akan membebaskan perbudakan dari penguasa. Borgol itu akan menyetarakan antara emas dan tanah. Borgol itu akan menyetarakan anatara seorang ayah dan seorang ibu.”

Tak peduli gelap ataupun terik kuucapkan mantra-mantra, kutuliskan berbagai fakta, kususun ukiran-ukiran makna menjadi sebuah kunci. Dan, aku akan membebaskan negeriku, pikirku. Aku mulai berkelana, mencari sosok yang mampu membawaku menuju borgol itu. Aku mencari siapapun yang percaya akan kekuatan kunci itu. Kumulai dari para rumput yang tak memahami akan pentingnya ukiran itu, baiklah, kulanjutkan pada seekor kambing yang hanya mengembik-embikkan hinaan akan bentuk kunci yang menurutnya tak sempurna. Aku tak peduli, mungkin aku harus berjalan lebih jauh. Aku tahu harus ke mana, aku harus pergi menuju sang elanag atau singa. Tapi itu tak mudah, ular menghadangku. Berusaha menuangkan bisanya yang mampu hancurkan kunci itu menjadi sehalus debu bahkan tak kasat mata. Tetapi lagi-lagi Tuhan begitu membuatku yakin dan memberikan jalan menuju sang Rajawali. Mimpiku akan menjadi kenyataan, negeriku akan bebas, aku akan bertemu dengan sang bijaksana.

Rajawali, dengan mata tegas dan paruh bijaksananya ternyata tinggal di sebuah istana dengan penuh bangkai di dalamnya. Dia bahkan hampir mencabikku ketika mendengar namaku disebut oleh prajuritnya. Aku harus berlari, terus kepada sang singa. Hanya dia satu-satunya harapanku! Tapi entah mungkin hari ini bukan hari terbaikku, sang singa enggan beranjak dari singgasananya dan membuatku harus menunggu. Setelah dia mau menemuiku dia memberiku sekantong berlian dan berkata , “Terima kasih atas perjalananmu, pulanglah.”

Apa yang terjadi?! Apa yang mereka pikirkan, aku memiliki kunci untuk borgol itu. Aku duduk bersandar pada gua yang begitu gelap, menyadari bahwa mereka tak menginginkan kunciku. Mengapa? Lalu kudengar sang Elang datang, bertengger di atas gua tempatku duduk. Mengucapkan salam termerdu dan menghampiriku. Dia melihat kunci yang berada di tanganku dan seketika menunduk bagaikan itu adalah jimat yang berharga. Berharga? Mengapa?

Elang itu bersedia memberiku apapun agar kunci itu bersedia kuberikan untuk dirinya, untuk negerinya. Benarkah? Aku bahagia, akhirnya ada yang mengharagi kunci itu. Aku pergi bersama Elang dan bertemu dengan sang naga impianku. Menilik setiap lubang borgol yang terkait dengan luka-luka memar menyakitkan.

Dan kembali, Tuhan mencintaiku. Dia melukiskan senyumku dengan fakta bahwa kunci itu tak hanya bisa membuka satu borgol kekangan, tetapi semua borgol itu terbuka dan tak ada lagi luka memar. Elang begitu menundukkan kepala padaku dan bersedia menjadi teman baikku.

Tapi ada saat di mana kau merindukan tempat semua itu berawal. Aku merindukan negeriku, aku ingin melihat negeriku. Aku ingin menghirup indahnya negeriku yang seindah Rivendel.

Aku tersenyum ketika kakiku menginjak tanah tropis itu kembali. Begitu bahagia melihat realitas bahwa tak butuh kunciku untuk membebaskan negeriku dari borgolnya. Realitas itu mengalir ketika kulihat para rumput memakai baju layaknya sang Rajawali, kurasa mereka begitu bahagia hingga saat malam pun kutemui baju Rajawali itu pada tubuh kecil mereka. Aku menyentuh dan berbicara dengan rumput itu. Aku tahu aku akan menemukan lagu-lagu bahagia ketika angin bersama mereka.

Aku salah, salah besar. Baju Rajawali itu, hanya pemberian, hanya bekas. Bukan milik mereka! Ya Tuhan, lalu? “Tak ada lagi baju yang harus kami kenakan, ini yang terbaik untuk sore hingga malam hari. Dan saat pagi, kami tak memakai baju ini karena kami bukanlah bagian darinya.”

Ya Tuhan… mengapa semua ini terjadi?! Apa yang telah terjadi selama dua tahun ini. Tidakkah mereka menemukan kunci untuk borgol-borgol itu? Kenapa aku begitu bodoh?! Meninggalkan luka itu hingga membusuk. Membiarkan penguasa biadab itu mengencingi luka memar itu.

Aku harus kembali, aku harus mengukir kunciku lagi. Sesaat aku harus meninggalkan sang Elang yang begitu mulia padaku. Aku harus ada untuk luka yang lain, aku harus menyusun mantra-mantra untuk kunci baruku. Kunci yang dulu kuciptakan tak lagi berguna, borgol itu kian membengkak bersama memar-memar yang mulai bernanah. Aku harus menciptakan kunci baru, aku akan kembali untuk negeri tropisku. Aku akan lebih keras saat ini, aku tak ingin mereka tumpahkan harapanku lagi. Semoga semua tak kan terlambat dan semoga aku lebih dulu daripada kematian.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s