Sudahlah, terserah

image005Kau katakan kau adalah nyawa
Dan mereka selalu jadi belatinya
Tak bisakah hanya dengan tawa
Tak bisakah tanpa tamparan muka
Katanya telah jadi yang luar biasa
Katanya kau adalah nyawa?
Apakah sebenarnya kau belatinya?

Atau semuanya hanya janji belaka?
Janji petentang petenteng yang kau katakan sebagai ‘idealis’?
Lupa darimana kau bermula
Lupa pada siapa yang mengangkatmu dari kubangan lumpur nista
Tak lagi ingat dengan tempat kau bermula

Ngaku Indonesianis tapi lupa dengan moral?
Sudah kau coretkah moral, dan kau golongkan dengan konsep kapitalis?
Oh ya terserah anda, saya tak peduli dengan bisikan “aku masih benar”

Karena aku juga berbisik “aku masih benar”
Apa? Sistem? Yah, kapan mereka tak salah?
Mereka kan belatinya, dan kalian nyawa ingat?
Yah kalian memang cendekia dan mereka hanya pihak yang kalian sebut ‘buruh uang’? ‘kesalahan sistem’?

Tapi,

Apa guna kalian sebagai CENDEKIA
Jika kalian tak bisa gunakan yang ada dalam dada?
MORAL!
Kurasa memang tak lagi ada?!
Oh ya aku lupa, kalian pembela mereka yang ada di bawah.
Ya Tuhan aku sungguh lupa

Tapi inikah jalannya?
Hanya inikah yang ada di benak idealis kalian?
Benak cendekia kalian?
Benak berpendidikan kalian?

Oh atau mungkin ‘pihak bawah’ selalu dituliskan sebagai ‘pihak bawah’ karena ternyata ada yang membuat mereka ‘dilihat’ sebagai sosok dalam ‘realitas pembelaan’ yang tanpa moral itu?
Oh aku selalu membaca ‘pihak bawah’ adalah barbar
Oh siapakah ide barbar itu?
Oh ya mungkin pihak atas, mereka yang tak pernah benar bukan?
Haha sungguh mudah, sungguh dangkal

Siapa yang barbar?!
Ah sudahlah salahkan aku saja
Tak usah menyeleksi kambing hitam selanjutnya
Yah aku tahu aku tak nasionalis seperti para idealis
Aku juga pengagum kapitalis
Disini aku hanya tak ingin lebih terkejut
Dengan berbagai macam kotak idealis
Sudahlah, terserah.
Oh Moral, maafkan kau adalah cerita lama
Oh Indonesia, maafkan jika keringat ini tak lagi ketimuran
Oh nasionalisme, maafkan untuk kepergian moral
Oh embun dalam kegelapan, maafkan kami yang hanya punya satu mata
Oh embun dalam kegelapan, maafkan kami yang telah mengubur apa yang ada dalam dada
Oh embun dalam kegelapan, maafkan kami karena melupakan moral pada dasarnya
Selamat tinggal moralitas

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s