Kau

pc5o5pbxi

Picture perfect memories,
Scattered all around the floor,
Reaching for the phone cause, I can’t fight it any more.
And I wonder if I ever cross your mind.
For me it happens all the time.
It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now.
Said I wouldn’t call but I lost all control and I need you now.
And I don’t know how I can do without, I just need you now

(Lady Antebellum – Need You Now)

Inilah yang kubenci, selalu ada ‘alasan’ dan ‘bagaimana jika’ yang membenarkan dan menidakmungkinkan apa yang kuharapkan. Ya, aku jatuh cinta padamu. Orang asing yang baru kukenal kurang dari satu putaran bumi pada matahari. Aku buka kembali semua lembaran yang pernah kau tulis. Percakapan kita pada malam-malam yang lalu, aku tertawa. Bagaimana bisa aku berbicara sebebas itu padamu. Dan bagaimana bisa kita berdua tertawa pada tengah malam saat semua terlelap dalam gelap. Guyonan mengenai bahasa kita yang tak sama, saling membanggakan diri sendiri, dan berbagi mimpi, itulah yang kita lakukan beberapa bulan yang lalu.

Komentar-komentar sarkasme mengenai penampilan tak pernah membuat kita berhenti berbicara satu sama lain. Malah guyonan dan lupa waktu menyertai setelahnya. Bahkan saat kau katakan kau telah menjatuhkan hatimu untuk seorang gadis yang telah lama tak kau temui dan berada jauh darimu aku tak pernah sedikitpun merasa sakit.
Rasa penasaranku mengenai siapakah gadis itu dulu benar-benar tak bercampur akan kecemburuan yang kini kurasakan. Malam yang dulu kurasa akan menjadi malam di mana aku bisa menambah daftar teman baikku ternyata menjadi awal di mana aku menambahkan daftar pesakitanku. Tepat ketika kita menggeser duduk kita lebih dekat dan saat aku siap untuk membaca ceritamu. Kau katakan akan lebih baik jika kau mendengar suaraku. Aku merasa jengah akan hal itu, aku tak menyukai berbicara. Tapi rasa penasaranku akan gadis itu membuatku akhirnya bicara padamu.

Satu menit, dua menit, sepuluh, tiga puluh dan beberapa menit selanjutnya berlalu tanpa hal berarti. Hanya obrolan tak tentu arah seperti biasa. Bahkan aku lupa untuk menanyakan mengenai gadis itu. Sampai pada saat kau ingin memamerkan kemampuanmu di hadapanku. Aku tertegun, jantungku yang semula normal, berlari lebih cepat, dan lebih cepat. Saat kau membacakan ayat-ayat suci tersebut, aku hanya bisa diam dan mencerna semua yang sedang terjadi. Tak sadar akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mataku yang saat itu benar-benar ingin kututup karena memang telah lewat tengah malam, kembali terbuka dan seperti seorang telah mengguyurku dengan seember air dingin.

APA YANG KAU LAKUKAN!

Tak seorangpun selain bapakku pernah membacakan ayat-ayat suci itu untukku. Aku tahu mungkin kau melakukan itu hanya karena kau ingin menunjukkan kemampuanmu. Tapi kau keterlaluan, tak pernahkah kau berpikir bahwa semua itu akan membunuhku perlahan setelahnya?! Tak ada lelaki yang begitu percaya diri di hadapanku untuk membacakan kalam-kalam Tuhan itu. Tak pernah! Tapi kau? Orang yang seenaknya datang dan berani-beraninya menjamah hatiku dengan taktik cerdikmu itu?! Lihatlah apa yang sekarang terjadi padaku?! Aku sekarat. Aku selalu menantikan pesan-pesanmu lebih sering daripada sebelumnya. Aku menatap wajahmu, membaca tulisanmu, mencoba tahu kepribadianmu lebih dari yang mampu kulakukan. Dan satu lagi yang kulakukan yang tak pernah kulakukan sebelum aku mendengar lantunan indah itu dari bibirmu. Khawatir! Khawatir jika kau tak akan berbicara denganku lagi.

Dan kekhawatiranku itupun terjadi. Lihatlah apa yang kau perbuat! Aku tak kuasa untuk berbisik di telingamu bahwa ‘aku memiliki sedikit rasa untukmu.’ Aku bertindak seperti maling, mencoba mebuka perasaanku secara tersirat padamu dengan anonimitasku juga dengan tulisan-tulisanku yang tak secara gamblang kutujukan untukmu. Namun ketika aku menatap senyummu itu, aku selalu menyukainya dan merasa kau adalah yah sempurna, tapi satu sisi hatiku mengatakan bahwa kau bukan siapa-siapa, dan kau tak pernah menatapku seperti aku menatapmu.
Kau tahu? Kini aku setiap malam, siang, sore, dan pagi selalu menantikan sapaanmu. Satu katapun akan cukup bagiku. Terkadang aku tak peduli dengan perasaan yang hanya kurasakan ini. Tapi aku sadar meskipun aku ingin disebut bukan manusia, aku tetaplah manusia yang tahu apa itu cinta, dan aku pernah merasakan bagaimana itu cinta, dan aku penasaran bagaimana jika kau merasakannya juga padaku?!

Aku yakin kau akan tahu jika yang kutulis ini adalah kau, kau hanya perlu membaca lebih jeli jika kau masih tak meyakini itu kau. Hanya bapakku dan kau yang pernah membacakan surat-surat suci itu padaku. Tapi aku memiliki alasan kenapa aku menulisnya dalam bahasaku, karena aku tak ingin kau tahu dengan mudah. Mungkin saat kau mengerti apa yang kutulis saat ini, aku berharap aku sudah memenuhi lembarku dengan orang lain, dan ketika kau merasa harus menjauhiku aku telah siap dengan segalanya. Ya, inilah pengakuanku padamu. Aku menyukaimu, mungkin sekarang kau harus memikirkan untuk tak sering-sering membacakan kalam-kalam indah itu kepada wanita yang tak pernah kau inginkan untuk membuatmu berlari 24 jam seminggu dalam pikirannya. Semoga Tuhan memberkatimu. 🙂

Jika kau telah membaca ini kuharap kau tak mengirimkan pesan dengan nada mengasihaniku. Akan lebih baik dan jauh lebih baik jika kau mengirimkan “I read your post” dan ketika aku telah lupa katakan “That post.” Terima kasih 🙂 Semoga Tuhan memberkatimu.

Atra gülai un ilian tauthr ono un atra ono waíse sköliro frá rauthr.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s