Pernikahan di Bawah Umur

image-1-mountain

Tehani, 8 tahun (gaun merah muda) dan suaminya Mejad, 27 Tahun. Dan Ghada (8 tahun) dan suaminya yang berusia 33 tahun bernama Saltan

            Setelah sedikit menulis paper tentang isu perempuan dalam pernikahan usia dini. Terbesit pemikiran-pemikiran ‘gila’ di benak saya. Merasa sangat jengkel karena menemukan data akurat dari laporan UNFPA yang berjudul “Marrying too Young” (2012)  bahwa lebih dari 67 juta perempuan berusia 20-24 tahun pada tahun 2010 telah menikah di bawah umur 18 tahun. For God Sake! 67 Juta perempuan! Saya kemana saja selama ini??

Bahkan ada di antara mereka yang menikah di bawah umur 10 tahun. Ya Tuhaan! Parahnya mereka menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua di atas mereka. Salah satu contohnya adalah kasus yang dialami oleh Tehani anak perempuan berusia 8 tahun asal Hajjad yang harus menikah dengan laki-laki berusia 27 tahun bernama Mejad. Tak hanya Tehani yang harus mengalami peristiwa tersebut, teman sekelasnya, Ghada (8 tahun) juga menikah dengan seorang laki-laki berusia 33 tahun bernama Saltan.

Umur 8 tahun, menikah, dengan laki-laki yang berumur jauh di atas mereka pula. Ya Tuhan! Data-data mengatakan bahwa banyak sekali penyebab dari pernikahan di bawah umur ini, diantaranya adalah tradisi, keadaan ekonomi, hingga kepercayaan mengenai perbedaan peran gender.

Sebagian besar anak perempuan yang dinikahkan pada usia di bawah 18 tahun berlatarbelakang ekonomi yang rendah, pendidikan rendah, serta hidup di daerah pedalaman (UNFP, 2012).  Para orang tua yang menikahkan anak mereka pada usia di bawah 18 tahun umumnya masih mempercayai bahwa anak perempuan tidak lebih berharga daripada anak laki-laki. Sehingga mereka lebih mudah untuk menikahkan anak perempuan mereka pada usia sangat muda, selain itu dengan menikahkan mereka pada usia muda mereka juga bisa mengurangi biaya kehidupan yang mereka keluarkan.

Menurut Vogelstein (2013) pernikahan di bawah umur ini salah satunya juga disebabkan oleh keyakinan semakin muda anak perempuan dinikahkan maka akan semakin tinggi pula baktinya pada suami dan keluarganya (Terkadang saya bingung, mereka dijadikan istri atau budak atau pembantu).

Hal tersebut membuat perempuan-perempuan yang nantinya dinikahkan pada usia di bawah umur tak memiliki pendidikan yang layak. Seperti kebanyakan yang ditayangkan oleh media massa, perempuan hanya ditakdirkan untuk urusan domestik kalau orang Jawa katakan adalah “Dapur, kasur, sumur.” Lihat iklan Rinso, Surf, Teh Sariwangi, Superpel, Sunlight dan produk-produk rumah tangga lainnya. Mana ada bapak-bapak yang nyuci? Ngepel? Cuci piring? Bikin teh? (Padahal kalau sampai ada saya akan lebih tertarik, haha)

Media memang telah mengkonstruksi bahwa urusan domestik adalah urusan perempuan, tetapi urusan yang membutuhkan ‘otak’ adalah urusan laki-laki. Padahal menurut pengalaman saya banyak sekali perempuan yang memiliki kemampuan kognitif lebih dari laki-laki. Bahkan banyak laki-laki terkesan jauh tertinggal dalam hal kognitif daripada perempuan. Laki-laki seringkali  mengedepankan urusan ‘senang-senang’ daripada tugas kuliah misalnya. Meskipun banyak juga perempuan yang melakukan hal serupa. Tetapi mengapa laki-laki yang ditampilkan sebagai ‘yang lebih’ daripada perempuan?

Kenapa laki-laki bisa menikahi dan memilih anak perempuan untuk jadi istrinya sedangkan anak perempuan yang bersangkutan tak memiliki pilihan atau hak untuk menolaknya dan lebih memilih kehidupan kanak-kanak normal mereka? Bahkan dalam salah satu foto yang diambil oleh seorang jurnalis foto asal Amerika Stephanie Sinclair yang mendirikan lembaga sosial “To Young to Wed” menggambarkan seorang pengantin (anak) perempuan yang menangis dan menolak untuk dinikahkan.

image-7-red

National Geographic Live! - Too Young to Wed (720p).mp4_000771771

Seorang anak perempuan sedang dirias untuk prosesi pernikahannya, India

            Belum menikah saja mereka menangis bagaimana ketika mereka harus hidup jauh dari orang tua mereka. Mereka belum berada pada usia di mana mereka bisa melindungi mereka sendiri, mereka masih butuh orang tua mereka. Suami? Belum tentu menjadi orang yang bisa melindungi mereka. Bahkan dalam beberapa kasus yang juga ditampilkan dalam video dokumenter yang dibuat oleh Sinclair bersama dengan Pulitzer Center menampilkan seorang istri yang masih berusia di bawah 18 tahun menjadi korban kekerasan oleh suaminya yang berusia lebih tua.

Picture1

Bibi Aisha 17 tahun, Perempuan yang Menikah di Bawah Umur dan Mengalami  Kekerasan dalam Rumah Tangga

            Banyak sekali dampak yang disebabkan oleh pernikahan di bawah umur ini, seperti penularan penyakit seksual seperti HIV/AIDS, trauma dan kekerasan seksual terhadap anak, dan komplikasi kehamilan dan kelahiran yang menjadi sebab utama kematian perempuan berusia 15-19 tahun di Negara-negara berkembang (UNFPA, 2012).

Tak hanya itu dengan menikahkan anak perempuan pada usia di bawah umur, itu berarti juga hancurnya mimpi-mimpi mereka. Bagaimana tidak? Usia belasan adalah usia dimana anak-anak membangun mimpinya, dan membuat jalan serta rencana untuk menggapainya. Jika mereka harus menikah pada usia tersebut maka mereka hanya akan sempat berangan tentang mimipinya. Masa depan mereka hancur begitu saja.

Semua penderitaan yang harus mereka tanggung membuat saya marah, jengkel, ingin rasanya membalik keadaan. Dan muncullah ide-ide yang ‘menguntungkan’ perempuan dan ‘kurang menguntungkan’ laki-laki dalam benak saya.

Hanya beberapa pertanyaan :

  • Bagaimana jika perempuan yang bisa sesukanya memilih laki-laki yang akan dinikahinya, dan laki-laki tak punya hak sama sekali untuk menolak akan hal itu (saya akan memilih Benedict Cumberbatch/Adam Levine/Bradley Cooper. Well meskipun usia saya terlampau jauh dari mereka, tetapi saya sudah di atas 18 tahun)
  • Bagaimana jika perempuan menjadi pihak yang berhak sepenuhnya atas pendidikan terbaik dan menjadi pemimpin dari semua orang termasuk laki-laki?
  • Bagaimana jika laki-laki memiliki akses terbatas terhadap lapangan pekerjaan? Dan mereka hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan seperti cuci piring, bikin teh, cuci baju, setrika, ngepel?!!
  • Bagaimana jika semua laki-laki memiliki imej lemah, menye-menye, manja, dan tidak lebih kuat daripada perempuan?
  • Bagaimana jika laki-laki memiliki imej di media massa sebagai ‘korban dan pihak pasif’ yang harus ditolong oleh perempuan? (terinspirasi dari jurnal yang say abaca beberapa waktu lalu tentang representasi Jessica Lynch oleh media massa yang digambarkan sebagai pahlawan Amerika, tetapi juga yang membutuhkan tentara laki-laki untuk diselamatkan dari medan perang, juga membutuhkan semangat dari tunangannya untuk sembuh dari luka fisik dan psikologinya)
  • Bagaimana jika laki-laki yang identik dengan ketidakseriusan dan hanya mementingkan penampilan?

 

Mungkin itu ide-ide gila yang muncul dari benak saya. Memang sampai sekarang tak ada dan masih belum terasa “Gender Equality” di dunia ini. Menurut saya, mungkin dan hanya sebagai prediksi, jika USA belum memiliki Presiden perempuan yang memang membela perempuan maka gender equality itu mungkin akan berjalan selambat siput. Kenapa Presiden USA? Hmm… Karena ini calon Presiden USA yang nulis, hehehe. Tidak, tetapi apa yang dilakukan USA akan dilakukan oleh dunia. Itu ‘realitas’ nya.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat. Jangan remehkan perempuan!

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

One thought on “Pernikahan di Bawah Umur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s