Semut, Langit, dan Matahari

Photo0696Seekor semut melangkahkan kaki kecilnya di atas hijaunya rumput dan teriknya matahari. Apa yang dia mengerti tentang matahari dan langitnya. Mata kecilnya menatap kedua makhluk itu tertawa dalam cahaya. Di bawah lindungan daun-daun kecil rerumputan itu, semut mendengar tawa mereka.

Makhluk kecil itu tak mengerti mengapa langit melingkarkan tangannya pada sang matahari. Dia menunggu dan menunggu, perpisahan antara langit dan matahari membuat langit muram. Langit hanya bisa menyembunyikan dirinya dalam gelap ketika matahari tertidur.

Dengan kaki-kaki kecilnya semut mencoba menatap sang langit, melontar kan beberapa suara. Tetapi tak satu katapun langit membalasnya. Langit begitu merindukan mataharinya.

Ingin rasanya sang semut berbicara dengan langit. Tetapi langit tetap berselimutkan gelap dan memunggunginya. Makhluk kecil itu hanya ingin menyapa.

Ada saat ketika Tuhan mengangkat semut di atas tangan besar-Nya. Membuatnya lebih tinggi dan berbisik pada telinga langit. Semut begitu bahagia ketika Tuhan mengajaknya mendekat dengan sang langit.

Satu atau dua kata yang semut dapatkan dari sang langit mampu membuatnya berjalan dan tersenyum pada gurun luas. Tetapi malam ini, semut itu tak lagi menatap langit dengan mata berbinarnya.

Ada sedikit lelah di hatinya. Langit terlalu besar dan memiliki mata yang kecil. Dan semut? Lebih kecil lagi, dan tak terlihat. Hari demi hari yang semut habiskan untuk menunggu membuat makhluk kecil itu enggan untuk berjalan lagi. Sang langit terus berbicara dengan matahari. Ada cemburu di hatinya, ada tangis yang disembunyikannya.

Ada enggan untuk membaca nama langit. Karena begitu ia mendengar nama itu, memori akan tawa langit dan matahari, membakar kewarasannya. Ada takut untuk berjalan menuju padang gersang, tempat itu membuka lembar-lembar cinta langit dan matahari, penuh dengan duri dan lumpur yang bisa membunuhnya dengan kutukan-kutukan kasarnya.

Semut itu ingin pergi, tetapi angin membisikkan matahari akan segera terbenam. Semut ingin melangkahkan kakinya menjauh dari naungan sang langit, tetapi hujan menahannya untuk bertahan sekali lagi dan menutup matahari dengan awan. Semut menutup luka dengan rerumputan. Hati kecilnya itu enggan beranjak.

“Terlalu banyak aku menulis untuk sang langit. Terlalu banyak aku mengucilkan diriku, terlalu banyak aku lupa dengan tawaku. Tuhan aku ingin berhenti meletakkan mata dan hatiku untuk sang langit, tetapi aku enggan menyerah dari matahari. Aku enggan berhenti menaburkan garam di atas lukaku, karena itu lebih baik dari membuka lukaku untuk matahari bakar menjadi abu. Aku akan tetap di bawah rumput dan menatap langit dengan mataku.”

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s