Laki-laki = Kekerasan?

image

Sudah lama saya ingin menulis mengenai artikel ini. Tetapi, yah saya bukan orang yang sangat rajin. Haha. Jadi, artikel ini berawal dari skripsi saya yang membahas mengenai kekerasan terhadap perempuan pada perang Afghanistan. Saya banyak membaca dan menghubungkannya dengan propaganda yang media massa coba berikan di balik pemberitaan.

Dalam salah satu teori propaganda yang saya baca, terdapat teori mengenai orientalisme yang disampaikan oleh Edward W. Said.  Dalam teori ini memetakan pihak yang sedang berkonflik menjadi 2 kubu, kubu “us” atau kita dengan kubu “them/other” atau mereka. Kubu “us” merupakan kubu yang digambarkan sebagai pihak yang lebih baik dan lebih terpuji disbanding dengan kubu “them/other.” Dalam teori ini disebutkan bahwa kubu “us” seringkali menjadi pihak pahlawan yang memiliki sifat-sifat yang baik seperti terpelajar, bermoral, dan sifat-sifat positif lainnya. Sedangkan pihak “them/other” digambarkan dengan sifat kebalikannya seperti kasar, bodoh, tidak bermoral, barbar, terbelakang, dan lain-lain. Pembagian kubu ini selalu menempatkan kubu “us” sebagai pihak Barat dan kubu “them/other” sebagai pihak dari Timur.

Dalam teori ini pihak “them/other” dibagi lagi menjadi 2 kubu yaitu kubu “other enemy” dan “other victim.” “Other enemy” merupakan kubu yang menempatkan para pelaku kejahatan yang melakukan berbagai kekerasan terhadap pihak korban yaitu kubu “Other victim.” “Other enemy” seringkali digambarkan oleh sosok para lelaki dari Timur yang suka menyiksa para perempuan. Tetapi dalam artikel ini saya tidak akan membahas masalah ini lebih lanjut.

Lalu saya bertanya mengapa laki-laki seringkali digambarkan sebagai pelaku dari kekerasan sedangkan wanita hanya menjadi korbannya. Di luar dari jawaban, “Ya memang mereka pelakunya.” Saya menemukan pengamatan menarik yang disampaikan oleh Johan Galtung mengenai pertanyaan saya ini. Pendapat Galtung ini saya temukan dalam bukunya yang berjudul “Peace by Peaceful Means” dalam chapter “Woman : Man = Peace : Violence ?”

Jadi dalam artikel ini Galtung tidak menolak sama sekali fenomena bahwa laki-laki cenderung melakukan kekerasan dibanding perempuan. Tetapi dia juga memberikan beberapa faktor mengenai dasar dari kekerasan yang dilakukan oleh para laki-laki ini. Dalam artikel yang saya tulis ini saya tidak akan membahas keseluruahn faktor yang Galtung sampaikan. Karena ada satu faktor yang sangat menyita perhatian saya, dan saya akan membahas faktor tersebut dalam artikel ini.

Faktor yang saya bahas ini masuk dalam kategori faktor cultural dan structural yang mempengaruhi laki-laki cenderung melakukan kekerasan. Faktor tersebut adalah mindset. Galtung menyebutkan bahwa anak laki-laki cenderung diberikan perhatian yang tidak sama besarnya dengan anak perempuan. Anak laki-laki dianggap memiliki kemampuan lebih daripada anak perempuan untuk menghadapi berbagai situasi di sekitarnya sehingga orang tua cenderung memberikan sikap seakan semacam ‘kamu anak laki-laki, kamu harus lebih mandiri, lebih kuat.’ Dan intensitas merawat anak laki-laki kurang dari merawat anak perempuan yang dianggap lebih lemah dan butuh perhatian.

Hal ini dilakukan dengan anggapan bahwa laki-laki tidak akan pernah sepenuhnya memiliki peran seorang ibu. Sehingga perempuan seakan memonopoli hal-hal yang berhubungan dengan empati, perawatan, dan mencurahkan perhatian. Anak perempuan akan mendapat kasih sayang yang bisa dikatakan ‘lebih’ daripada anak laki-laki. Akan dianggap biasa jika anak perempuan menangis, manja, dan suka untuk dihibur. Tetapi tidak untuk anak laki-laki.

Selain itu, Galtung juga mengatakan bahwa anak perempuan akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya daripada anak laki-laki. Sehingga anak perempuan cenderung lebih banyak mengadopsi cara-cara untuk menjadi pribadi yang lebih empati dan penyayang daripada anak laki-laki. Contohnya saja, anak perempuan cenderung diberikan mainan yang berhubungan dengan bagaimana cara merawat seperti boneka. Berperan sebagai seorang ibu. Sedangkan anak laki-laki cenderung diberikan mainan yang diarahkan pada hal-hal yang jauh dari sentuhan kasih sayang dan empati seperti mobil-mobilan dan robot. Hal ini dikarenakan mainan tersebut terkenal sebagai mainan yang tidak ‘menye-menye’ dan diciptakan untuk laki-laki, hal-hal yang keren untuk laki-laki.

Tak hanya itu, saya sering menemukan orang tua yang malah memarahi anak laki-lakinya jika mereka menangis dengan mengatakan bahwa laki-laki tidak pantas untuk menangis dan mengeluh. Well, menurut saya hal semacam ini bukanlah hal yang benar. Karena anak laki-laki dan perempuan sama-sama manusianya, dan Tuhan pun tidak pernah melarang hamba-Nya untuk menangis. Menangis bukanlah simbol dari kelemahan yang selama ini dilabelkan pada perempuan.

Masih banyak pelabelan kepada laki-laki yang menurut saya memberikan tekanan tersendiri bagi laki-laki. Misalnya saja dalam hal pekerjaan. Insinyur, tentara, polisi, pesepakbola adalah beberapa pekerjaan yang masih banyak didominasi oleh laki-laki. Saya yakin hal ini salah satunya dikarenakan pekerjaan-pekerjaan tersebut telah didakwa sebagai “pekerjaan laki-laki.” Dan laki-laki yang memiliki pekerjaan tersebut akan dicap ‘keren.’ Tapi jika laki-laki memiliki pekerjaan seperti sebagai seorang penata rambut, desainer, ayah rumah tangga (saya tak tahu bagaimana harus menyebutnya, intinya seorang laki-laki yang memiliki peran sebagai ibu rumah tangga), dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sebelumnya didakwa sebagai “pekerjaan perempuan,” maka dia akan dianggap ‘tidak macho, tidak laki, banci, gay,” dan lain sebagainya.

Menurut saya pekerjaan tidak memiliki gender. Selama subjek yang bersangkutan memiliki kemampuan dan profesionalitas untuk melakukan pekerjaan tersebut maka tidaklah penting dia laki-laki atau perempuan. Saya jadi teringat dengan sebuah kasus yang menimpa Julia Gillard (Perdana Menteri Australia). Beberapa tahun yang lalu Gillard mendapatkan hinaan dari sebuah radio Australia bahwa pacarnya adalah seorang gay. Penyiar radio mengatakan hal ini dengan sebab bahwa pacar sang Perdana Menteri bekerja di salon sebagai seorang penata rambut. Gillard dalam talkshow yang diselenggarakan oleh radio tersebut telah menolak kabar tersebut, tetapi sang penyiar ngotot akan kebenaran anggapannya.

Laki-laki seakan ditekan dan dipaksa untuk melakukan berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan fisik dan dilabeli sebagai ‘pekerjaan laki-laki.’ Hal-hal yang berhubungan dengan kasih sayang, empati, dan kelembutan diharapkan jauh dari tangan laki-laki. Maka menurut saya, jika masyarakat dan para orang tua masih berpikir semacam ini maka mereka akan tetap menciptakan seorang monster dalam diri laki-laki.

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

2 thoughts on “Laki-laki = Kekerasan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s