Satu Malam Bersama 3 Propaganda (Sedikit Ulasan Film London has Fallen, Eye in The Sky, dan American Sniper)

3 film

Wow, hanya kata-kata itu yang saya dapatkan setelah saya menghabiskan 3 film sejenis dalam satu malam. Saya tak akan berkomentar mengenai sinematografi, audio, atau masalah-masalah teknis lainnya, karena hal-hal itu jauh dari kemampuan saya. Saya akan sedikit mengomentari sedikit muatan yang dibawa oleh 3 film ini. Tak lain dan tak bukan adalah topik kesayangan, “PROPAGANDA.” (Jadi merindukan skripsi).

Saya kurang tahu mengapa pada akhirnya saya memilih ketiga film ini setelah beberapa bulan saya menghindari film semacam ini. Memang beberapa bulan yang lalu saya masih bergelut dengan teori mengenai propaganda, CNN, Afghanistan War on Terror, dan segala hal yang berhubungan dengannya. Dan bulan-bulan itu bagaikan perang saya sendiri, skripsi. Jika saya boleh sedikit menjadi hiperbola, skripsi adalah perang saya. Perang tak hanya perumpamaan karena memang perang Afghanistan yang saya bahas, saya selalu berimajinasi menjadi salah satu pihak yang terjun langsung ke lapangan. Menulis untuk kesejahteraan masyarakat Afghanistan langsung dari garda depan. Menghindari peluru dengan iring-iring tentara demi berbicara secara eksklusif dengan narasumber yang sangat dilindungi kerahasiannya. Lalu saat tiba di kamp militer, ada seorang dokter tampan dari UN yang jatuh cinta kepada saya. Lalu kami menjadi sepasang kekasih yang memperjuangkan kedamaian. Stop! Itu imajinasi saya yang terlalu hiperbola. Hahaha. Mari kembali kepada ulasan ketiga film di atas. Astaghfirullah… Saya terdengar seperti drama Korea. Pada intinya paragraf ini ingin menjelaskan bahwa saya menghindari beberapa film semacam ini selama beberapa bulan karena saya ingin mengembalikan kehidupan saya dari trauma peperangan (ini sangat berlebihan), namun paragraf ini telah gagal. Mari lanjut ke paragraf yang berhasil.

Sinopsis Ketiga Film yang Akan saya Bahas (Spoiler Alert, Bisa dilewati)

london-fallen_post_1200_1778_81_s

Sebelum membahas mengenai masing-masing isi dari ketiga film ini. Saya akan menyampaikan sedikti inti cerita dari masing-masing film ini. Film pertama adalah London has Fallen (2016), film ini dimainkan oleh Gerard Butler sebagai tokoh utama bernama Mike Banning, NSA. Inti ceritanya Banning berusaha sangat keras dalam melindungi Presiden Amerika Serikat (dimainkan oleh Aaron Eckhart, saya juga tercengang dengan pilihan ini. Like seriously? I don’t think this character suits him) dalam serangan yang dilakukan oleh “para teroris” di London. Serangan ini merupakan serangan balas dendam karena AS telah mengebom seluruh keluarga Barkawi saat pesta pernikahan keluarga mereka di Lahore, Pakistan (Pakistan lagi). Tapi memang kelompok Barkawi ini dalam film ini masuk dalam “karakteristik teroris” seperti yang “kita tahu selama ini.” Dalam serangan di London ini tak hanya AS yang menjadi korban, tetapi juga banyak kepala negara lain seperti Jerman, Jepang, Italia, Perancis, dan Kanada. Karena memang pada hari serangan itu mereka berniat menghadiri pemakaman PM Inggris. Untuk lebih lanjut bisa ditonton sendiri. Rating imdb 5.8/10.

eits_digital_one_sheet

Film kedua yang saya tonton adalah Eye in The Sky (2015). Hal pertama selain propaganda yang saya temui dalam film ini adalah Hellen Mirren is a Badass! Saya sejak lama mengagumi Hellen Mirren, dia selalu mendapatkan karakter yang kuat, salah satunya dalam film RED 1 & 2, dan dia selalu berhasil memainkannya dengan sempurna. Dalam film ini Hellen Mirren memainkan tokoh Kolonel Katherine Powell, yang sedang menjalankan operasi gabungan di Nairobi, Kenya, yang dinamai operasi EGRET. Operasi ini melibatkan militer AS dan Inggris dalam menarget sekelompok teroris (2 di antaranya telah masuk dalam list ke 4,5 most wanted Afrika Timur). Inti dari film ini adalah perdebatan para petinggi seperti Letjen Militer Frank Benson (dimainkan oleh Alan Rickman, pemeran Prof. Snape dalam Harry Potter), Menlu AS dan Inggris, Jaksa Agung Inggris, Penasehat Politik, dll. Mereka mendebatkan akan serangan yang akan dilakukan untuk menghancurkan teroris tersebut, karena pada saat tersebut para teroris telah mempersiapkan serangan bom bunuh diri, namun di dekat rumah yang akan diserang oleh operasi militer tersebut terdapat seorang gadis penjual roti yang menjual dagangannya di dekat target. Mereka berdebat akankah melakukan serangan dengan mengorbankan seorang nyawa bocah peremuan, atau mereka akan menunda misi yang telah dirancang selama 6 tahun dan bisa saja mengorbankan 80 lebih nyawa saat para teroris berhasil keluar dari sarang tersebut. Untuk selebihnya bisa ditonton. Ada satu scene yang sangat menarik menurut saya, dan menyebalkan ketika anda terbawa dengan filmnya. Yaitu ketika anak perempuan tersebut menjual rotinya kembali. Anda akan tahu maksud saya setelah menontonnya. Film ini jauh lebih baik daripada film pertama, tapi memang film memiliki style masing-masing, rating imdb juga bagus 7.3/10.

American-Sniper-poster

Film ketiga yang saya tonton mengenai propaganda ini adalah American Sniper. Film besutan sutradara yang tak diragukan lagi kemampuannya, Clint Eastwood ini memang menurut saya benar-benar membekas di hati saya. Walau saya jika disuruh memilih antara Eye in The Sky dan American Sniper saya masih bingung memilih yang mana. Film ini menceritakan mengenai “Sang Legenda” Chris Kyle, sniper pasukan SEAL Amerika Serikat yang telah melegenda karena kemampuan menembaknya yang begitu “agung.” Dia berhasil membunuh setidaknya 160 orang seorang diri dalam misinya di Iraq. Pada intinya film ini adalah biografi dari Kyle, misi-misinya di Iraq, perjuangannya untuk balas dendam terhadap sniper Al-Qaeda karena telah melukai banyak militer AS dan membunuh salah satu anggota tim/sahabat dari Kyle, Biggles. Dan jika pada dua film sebelumnya saya membahas mengenai aktor utama, saya juga akan membahas mengenai peran utama. Karakter Chris Kyle dimainkan oleh Bradley Cooper. Oh Tuhan! Mata biru, senyuman terindah, sexiest man alive, oke bye saya meleleh. Cooper berhasil memainkan peran ini dengan sangat apik. So cool! Film ini memiliki rating imdb yang sama dengan film kedua yaitu 7.3/10.

 

Persamaan Propaganda Ketiga Film

Untuk lebih gampangnya saya akan membuat tabel sederhana tentang kemiripan film ini dengan menggunakan kategori “skenario penyelamatan.” Dalam teori mengenai skenario penyelamatan ini terdapat 3 aktor utama yaitu pahlawan, korban, dan pelaku atau penjahat. Berikut adalah kategorisasi tersebut dari ketiga film yang saya bahas :

  1. London Has Fallen (2016)

Siapa Pahlawannya ?

-Agent NSA Mike Banning (jelas)

-Jajaran petinggi Amerika Serikat (karena mereka satu-satunya pihak yang bebas dari susupan teroris. Dan yang masih bisa memberikan pertolongan terhadap Presiden dan Banning. Kenapa bukan Inggris? Karena Inggris, Scotland Yard, telah disusupi oleh teroris). Dan tadaa, jangan lupakan fakta bahwa presiden AS adalah satu-satunya pemimpin negara yang selamat dalam serangan ini. Super! (?)

Siapa Penjahatnya ?

-Saya akan tuliskan secara spesifik, Aamir Barkawi. Keluarga Barkawi ini diyakini telah memicu berbagai kekerasan yang terjadi, sehingga dia bisa menguasai pasar senjata illegal secara global. Aamir Barkawi adalah warga Pakistan (Negara Islam). Dan nantinya dia akan bersembunyi di Yemen dalam memonitori aksi anak buahnya di London. Nama-nama Islam lain juga digunakan seperti Sultan, Mansoor, dll.

 -Kriteria Teroris dalam Film :

Nama : nama Islam

-Asal : negara Islam (Pakistan, Afghanistan, Iraq, Timur Tengah adalah yang selalu jadi tempat    “lahirnya para teroris” dalam film maupun media)

-Tidak bermaksud berkomentar rasis, tetapi mereka selalu menggunakan aktor dengan wajah timur tengah, atau setidaknya memiliki brewok, memakai tunik seperti yang biasa digunakan rakyat Afghanistan/Pakistan/ negara Islam lainnya.

Siapa Korbannya?

-Warga Sipil London (Latar film yang menggambarkan kerusakan parah di London dan menimbulkan banyak korban luka maupun meninggal dunia)

-Para Kepala Negara seperti Jerman, Italia, Kanada, Perancis, dan Jepang (Mereka seakan digambarkan bahwa meskipun mereka adalah negara-negara kuat. Kepala negara mereka tak memiliki perlindungan yang menandakan kekuatan yang baik. Karena pada akhirnya hanya kepala negara AS sajalah yang selamat)

-Walau pada akhirnya selamat, Amerika Serikat juga bisa dihitung sebagai pihak yang digambarkan menjadi korban dalam film ini. Karena banyak selaki kerugian yang diderita AS dalam seranagn ini missal saja mereka harus kehilangan para anggota pengamanan presiden, helikopter beserta awak, dan lain-lain dalam usaha penyelamatan presiden.

2.Eye in The Sky (2015)

Siapa Pahlawannya?

-Amerika Serikat (Dalam film ini operasi gabungan dijalankan oleh Inggris dan Amerika Serikat. Namun kenapa saya menulis AS sebagai pahlawannya? Karena tak hanya membantu Inggris dalam operasi ini Letnan Watts-lah, Prajurit AU AS yang berani menggertak Kolonel Powell untuk menghitung ulang dampak serangan jangan sampai melukai gadis yang berjualan itu). AS digambarkan sebagai pihak yang “berhati mulia” walau nanti akan digambarkan bahwa mereka memiliki pemikiran yang sama seperti Inggris untuk segera menyerang oleh keputusan petingginya.

Siapa Penjahatnya ?

-Shahid Ahmed, Fasilitator Al-Shabab (Organisasi teroris)

-Abdullah Al-Hady (Kebangsaan Somalia)

-Ayesha Al-Hady a.k.a Susan Helen Danford (Kebangsaan Inggris)

(Suami istri Al-Hady adalah “teroris” yang masuk dalam daftar most wanted nomor 4 dan 5, Afrika Timur).

-Muhammad Abdisalaam (Kebangsaan AS)

-Rasheed Hamud (Kebangsaan Inggris)

Siapa Korbannya?

-Warga Sipil sekitar tempat Kejadian. Gadis kecil penjual roti dan keluarganya. Mereka harus mengalami kerusakan rumah, property, serta nyawa anak perempuan tersebut yang akhirnya tidak bisa diselamatkan. Mereka digambarkan sebagai keluarga yang memiliki latar belakang kehidupan yang bukanlah dari orang kaya. Hidup di lingkungan yang kumuh, tidak memiliki profesi yang tinggi. Selain itu mereka adalah muslim dengan atribut-atribut muslim seperti penutup kepala, hijab, dan tunik.

3. American Sniper (2014)

Siapa Pahlawannya ?

-Tak perlu saya jelaskan lagi, judulnya saja telah menggambarkan segalanya. Film ini adalah film biografi, tentang “The Legend” sniper dari Amerika Serikat, seorang Amerika/American. Kyle adalah gambaran dari “son of US.” Berkulit putih, pemberani, dan digambarkan rela mengorbankan nyawanya demi melindungi teman-temannya.

Siapa Penjahatnya?

-Zarqawi (Pria asal Yordania yang dibiayai leh Bin Laden)

-Amir Khalaf Fanus (Dijuluki sebagai “The Butcher” karena kekejamannya)

-Mustafa (sniper dari Syria yang membantu para Teroris)

– Nama-nama tersebut hanyalah sebagian dari yang distampilkan. Ketiga nama tersebut adalah musuh yang digambarkan dalam misi utama.

Kriteria Teroris dalam Film :

Nama-nama Islam

-Asal : film ini sendiri mengambil setting di negara Iraq. Memang film ini adalah film biografi, tapi memang selama ini dunia “mengenal” Iraq merupakan salah satu negara yang menjadi sasaran sarang teroris. Selain itu, Mustafa, sebagai sniper dari pihak teroris berasal dari negara yang digambarkan selalu berkonflik selama ini yaitu Syria.

-Dalam film ini tak ada satupun musuh yang berkulit putih. Mereka adalah orang-orang Timur Tengah yang memiliki brewok, dengan pakaian yang menggambarkan ciri khas Islam seperti menggunakan surban, penutup kepala, dan tunik.

Siapa Korbannya

-Sheikh dan keluarganya, istrinya bernama Fatimah. Dalam film ini Sheikh digambarkan sebagai seorang yang harus menanggung akibat karena telah memberikan informasi mengenai “The Butcher” kepada pihak AS. Dia harus terbunuh ketika “The Butcher” mengancam akan menyiksa anaknya. Mereka merupakan warga asli Iraq, muslim, dan tidak mampu berbahasa Inggris.

-Sama seperti film pertama, dalam hal ini Amerika Serikat juga digambarkan sebagai korban di satu sisi. Yaitu ketika mereka harus kehilangan banyak prajurit dalam perang tersebut, termasuk Biggles.

Kesimpulan dari Ketiga Film Propaganda ini :

  1. Amerika Serikat selalu menjadi pahlawan. Dengan sifat-sifat terpuji dan beraninya yang tergambar dalam ketangguhan Mike Banning, Presiden AS, Chris Kyle, dan Letnan Scott. Eye in The Sky.mp4_000586280
  2. Yang digambarkan sebagai musuh selalu negara yang bukan negara Barat. Kebanyakan adalah negara-negara yang masuk dalam kandidat negara Islam, negara miskin atau berkembang, dan tidak ditinggali oleh mayoritas kulit putih. Seperti Pakistan dan Yemen (dalam film London has Fallen); Kenya (Eye in The Sky); dan Iraq dan Syria (American Sniper). Selain itu, teroris digambarkan dengan atribut-atribut yang seringkali dikaitkan dengan Islam seperti baju tunik, rambut muka, hijab, sorban, penutup kepala, dll. Nama-nama mereka pun semuanya adalah nama Islam.as.mkv_002301197
  3. Mayoritas korban dari perang, penyerangan maupun konflik digambarkan sebagai pihak yang pasif. Misalnya seperti masyarakat umum, memiliki latar belakang miskin, masyarakat asli daerah konflik, anak-anak, perempuan, dan kurang teredukasi. Pihak “Pahlawan” Amerika Serikat juga selalu digambarkan memiliki tempat sebagai korban, namun mereka bukanlah korban pasif yang begitu saja menerima kejadian, tetapi mereka digambarkan sebagai negara yang kuat.

Akhir Kata …

Ketiga film tersebut memanglah film yang tak bisa diremehkan. Sangat menarik. Tetapi di satu sisi, industri perfilman masih dipenuhi dengan pesan-pesan permusuhan, konflik antar golongan, dan jauh dari konsep “peace.” Memang tidak bisa begitu saja kita dengan naif meminta industri sebesar Hollywood sebagai penyuplai film terbesar untuk membuang ide-ide seperti dalam film-film ini. Karena memang masyarakat menggemari film-film semacam ini.

Terlebih Hollywood adalah perusahaan perfilman Amerika Serikat. Sekali lagi AMERIKA SERIKAT! Maka tak heran jika film-film tersebut membuat kita “menyembah” Amerika Serikat. Negara adidaya, dengan kekuatan terbesar, seakan memegang kekuasaan mutlak untuk dunia, dan selalu menjadi pahlawan. Walau saya sendiri kurang yakin siapa lagi yang menjadi dalang dibalik para “musuh” yang diperangi oleh sang “pahlawan.”

Melalui ketiga film tersebut kita bisa tahu bahwa memang negara Barat masih menyebarkan paham akan “us vs them.” Dengan pelabelan-pelabelan sifat yang saling bertentangan. “Us” adalah negara-negara Barat yang memiliki kekuasaan, kekuatan, terdidik, berkecukupan, dan menguasai dunia. Sedangkan pihak “them” adalah negara-negara Timur yang barbar, terbelakang, miskin, dan Islam.

Pada akhirnya, memang propaganda mereka sangat ampuh. Hal ini tidak disebabkan karena 1 atau 2 film yang mereka ciptakan, melainkan adanya pengulangan-pengulangan akan penyebaran pesan serupa. Jika dilihat dari 3 film itu saja, bisa dilihat mereka memproduksi film-film semacam itu tiap tahunnya yaitu 2014, 2015, dan 2016. Dan tak hanya satu film semacam itu tiap tahunnya. Belum lagi konten media massa lainnya seperti berita yang kini sedang menggemari terorisme sebagai topik utama mereka. Syria, Turki, Pakistan, Afghanistan, Iran, dan masih banyak lagi.

Nonton film-film semacam ini memang bukan menjadi ancaman jika kita menanggapinya hanya sebagai hiburan. Tetapi jika terus-menerus kita menonton film semacam ini maka besar kemungkinananya pesan propaganda tersebut tersampaikan dengan baik. Kita harus bisa memfilter pesan-pesan yang kita dapat, karena pengetahuan yang disebarkan oleh film-film tersebut belum tentu berdasarkan realitas yang ada. Efek negatif yang diakibatkan salah satunya adalah banyak timbulnya Islamophobia, radikalisme yang memanfaatkan nama Islam, dan pandangan sebelah mata akan bangsa-bangsa yang berasal dari “Timur.” Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menelan mentah-mentah pesan yang disampikan oleh media massa, baik dalam bentuk film, berita, buku, maupun iklan. Akan sangat baik jika kita bisa menyaring pesan-pesan mereka secara bijak, dan memiliki pandangan bahwa Tuhan menciptakan manusia secara setara, dengan hak-hak yang sama pula. Tak peduli dari ras, bangsa, atau warna kulit apapun.

Eye in The Sky.mp4_000081088

 

-F-

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s