Diskriminasi pada Perempuan dalam Tes Keperawanan Calon Anggota TNI

20160302_18

Perekrutan calon anggota TNI AL telah dibuka beberapa minggu lalu, saya tidak akan menyoroti mengenai tahapan-tahapan perekrutan satu persatu. Tetapi saya ingin membahas mengenai fenomena “tes keperawanan” yang dilakukan pada perekrutan calon anggota TNI. Hal ini dikarenakan hari ini adalah hari Kartini, dan mengingat semangat Kartini yang telah berjuang keras untuk kesetaraan gender di Indonesia maka saya akan membahas tentang salah satu praktek diskriminasi pada perempuan yang masih terjadi di Indonesia ini. Sebelum itu mari kita lihat apa itu “tes keperawanan” beserta tujuannya.

“Tes keperawanan” sendiri merupakan salah satu dari rangkaian tes fisik yang dilakukan untuk masuk sebagai anggota TNI baik Angkatan Darat, Udara, maupun Laut. Menurut data temuan Human Rights Watch (HRW) dalam BBC Indonesia (Mei, 2015) mengungkapkan bahwa “tes keperawanan” ini dilakukan dengan metode dua jari. Dokter memasukkan dua jarinya untuk menentukan apakah selaput dara masih utuh atau tidak. Seperti yang diberitakan Tempo.co (Dewimerdeka, 2015) tes ini dilakukan di rumah sakit militer seluruh Indonesia untuk seluruh pelamar perempuan di sebuah ruangan besar yang disekat dengan tirai. Data ini didapat dari dokter yang melakukan tes tersebut.

Pada tes ini tidak hanya menentukan apakah calon anggota TNI masih perawan atau tidak, tetapi juga untuk mengetahui penyebab dari hilangnya keperawanan tersebut. Jadi tidak semua calon anggota TNI wanita yang tidak perawan berarti tidak lolos. Seperti yang dinyatakan oleh Moeldoko yang saat itu menjabat sebagai Panglima Jenderal TNI bahwa jika alasan hilangnya keperawanan tersebut bukan karena seks bebas maka hal itu bisa jadi bahan pertimbangan kelulusan tes keperawanan. Pada kesempatan tersebut Moeldoko memberikan contoh sebab kehilangan keperawanan seperti jatuh dari kuda, naik sepeda, pemain atletik, ataupun karate (Damarjati & Batubara, 2015).

Di luar semua itu ada beberapa tujuan yang dilayangkan oleh pihak TNI tentang “tes keperawanan” yang mereka lakukan. Yang pertama disebutkan oleh  Mayjen Fuad Basya yang saat itu menjabat sebagai juru bicara TNI, bahwa tes keperawanan ini bertujuan untuk mengukur kepribadian dan mental seseorang. Menurutnya anggota TNI harus memiliki mental dan kepribadian yang bagus, sehingga butuh untuk tahu penyebab dari ketidakperawanan calon anggota tersebut. Calon anggota TNI harus memiliki habit yang bagus karena TNI adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah, keselamatan bangsa (BBC Indonesia, Mei 2015).

Alasan-alasan yang dilayangkan oleh para penggede TNI tersebut menurut saya kurang bisa diterima. Bagaimanapun “tes keperawanan” merupakan sebuah diskriminasi bagi perempuan. Menentukan tingkat moral calon anggota TNI dengan melakukan “tes keperawanan” tidaklah masuk akal. Karena moral seseorang tidaklah bisa diukur dari “tes keperawanan.” Selain itu tes ini hanya berlaku bagi calon anggota TNI perempuan, bagaimana dengan calon anggota TNI laki-laki? Apakah ini berarti laki-laki yang telah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi anggota TNI? Lalu jika mereka mengelu-elukan moral dari tingkat keperawanan bagaimana dengan moral laki-laki calon anggota TNI yang telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah?

Selain itu, “tes keperawanan” tidak ada hubungannya sama sekali dengan usaha pertahanan keamanan negara yang menjadi tugas TNI. Bagaimana jika seorang calon anggota TNI yang memiliki kemampuan untuk menyusun strategi pertahanan negara yang baik harus gagal dalam seleksi hanya karena dia “tidak perawan.” Maka dalam hal ini kita akan kehilangan salah satu kesempatan yang akan membawa pertahanan negara lebih baik hanya karena tingginya elu-elu “tes keperawanan.”

Tak hanya dua poin di atas yang perlu dipertimbangkan untuk meniadakan “tes keperawanan” ini. Tetapi juga dampak bagi perempuan yang telah menjalani “tes keperawanan.” Tes semacam ini adalah sebuah bentuk penghinaan yang menyakitkan dan memalukan bagi perempuan. Tes ini menimbulkan trauma bagi mereka yang menjalaninya. Telah banyak cerita yang beredar di media tentang para perempuan yang mengaku mengalami trauma setelah menjalani “tes keperawanan.”

Pada intinya “tes keperawanan” yang dilakukan untuk masuk sebagai calon anggota TNI ini merupakan sebuah bentuk diskriminasi bagi perempuan. Dan ketika moral, mental, dan kepribadian perempuan hanya diukur dari “keperawanan” maka mereka telah melihat perempuan sebagai entitas yang begitu rendah.

Pada jaman yang telah begitu maju seperti ini seharusnya TNI lebih terbuka pemikirannya. Tidak hanya mengandalkan ideologi maskulinitas yang memang identik dengan pihak militer. Dan seenaknya saja menempatkan perempuan sebagai objek diskriminasi. Pada akhirnya masih banyak kasus kekerasan, pelecehan seksual, dan pelanggaran-pelanggaran lain yang dilakukan para anggota TNI laki-laki. Jika notabene mereka bisa lolos karena “bermoral baik” dan “terhormat” maka hal-hal seperti ini tidak akan terjadi.

Oleh karena itu, akan lebih baik jika bentuk diskriminasi ini ditiadakan dalam tes seleksi calon anggota TNI. Dan sebaiknya tes-tes yang dilakukan harusnya adil antara calon anggota perempuan maupun laki-laki. Tidak memberikan pengecualian-pengecualian hanya karena perbedaan gender, terlebih mendiskriminasi salah satu gender. Semoga TNI mulai memperhatikan gender equality dan menghapuskan berbagai diskrimiasi terhadap salah satu gender. Sehingga meningkatkan kinerja dari pasukan pertahanan Negara Indonesia ini, dan menjadi salah satu lembaga yang lebih memanusiakan sesama. Semoga semangat Kartini menginspirasi para perempuan Indonesia untuk menjadi lebih baik dan tidak berhenti berjuang untuk keadilan.

-F-

Advertisements

Published by

nadhirulmaghfiroh

Hi, I'm me. Who am I? Read me. :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s